Makna dan Sejarah di Balik Batik 'Phoenix' Ani Yudhoyono

tim, CNN Indonesia | Selasa, 04/06/2019 16:41 WIB
Makna dan Sejarah di Balik Batik 'Phoenix' Ani Yudhoyono Ani Yudhoyono (REUTERS/Beawiharta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kristiani Herawati Yudhoyono atau akrab disapa Ani Yudhoyono meninggal dunia pada Sabtu (1/6). Meski sudah meninggal dunia, namun warisannya terutama kecintaan pada kain tradisional Indonesia masih membekas.

Keluarga Yudhoyono kehilangan sosok istri, ibu dan nenek sekaligus orang yang memilihkan kain batik sebagai busana seragam Lebaran keluarga. 

Menantu Ani dan istri Agus Harimurti, Anissa Pohan mengungkapkan bahwa di tahun ini pun, Ani sudah menyiapkan batik sebagai seragam keluarga saat Lebaran, kain batik berwarna hitam bermotif burung phoenix.


Buat Anissa Yudhoyono, ini sesuatu hal yang janggal. Ani selalu memilih warna cerah seperti biru atau ungu, bukan warna gelap. Rasa penasaran ini pun membuat Anissa menghubungi Iwet Ramadhan, sahabat sekaligus desainer batik. 


"Kemarin dia Whatsapp, kirim (gambar) kain. (Dia tanya) arti motifnya apa. Dia agak penasaran, kok tiba-tiba Ibu milih buat Lebaran, kainnya hitam lalu kebayanya putih, monokrom. Saya kasih tahu, motif itu namanya motif sawunggaling. (Ibu) pesan kain di Failasuf, salah satu pembatik di Pekalongan," ujar Iwet pada CNNIndonesia.com saat dihubungi pada Selasa (4/6). 

Motif burung phoenix yang dimaksud sebenarnya adalah motif sawunggaling.

Iwet bercerita, menurut sejarahnya, motif sawunggaling dibuat oleh Ngabehi Atmo Supomo. Dia seorang empu, ahli penatah wayang. Motif dibuat untuk Panembahan Hardjonagoro alias Go Tik Swan, seorang berdarah Tionghoa yang sangat 'njawani' atau begitu mendalami budaya Jawa hingga diberi gelar kehormatan oleh Keraton. Dialah pembuat batik legendaris Indonesia. Iwet menambahkan, Hardjonagoro juga merupakan guru dari desainer Iwan Tirta dan Obin, pemilik rumah mode Bin House. 

Go kecil dibesarkan di lingkungan serba batik. Wajar saja, ia diasuh oleh sang nenek, Tjan Khay Sing, seorang pengusaha batik. Go pun banyak bergaul dengan anak-anak para pengrajin batik sekaligus mendengarkan tembang Mocopat, dongeng tentang Dewi Sri hingga tarian Jawa. 

"Beliau sempat menari di hadapan Presiden Soekarno. Lalu dipanggil, ditanya kamu ini orang apa. Dijawab Tionghoa dan sat itu beliau pakai bahasa Jawa, krama inggil (tingkatan paling sopan dalam bahasa Jawa)," kata Iwet. 

Mengetahui Hardjonagoro juga seorang pembuat batik, Soekarno menantangnya untuk membuat batik. Dia pun menggabungkan teknik pencelupan batik Pekalongan dengan sogan cokelat Solo. 

Untuk motif, dia menciptakan motif sawunggaling, motif perpaduan burung phoenix dan ayam hutan. Makhluk yang dilukiskan dalam motif ini memiliki kepala ayam dan ekor phoenix. Burung phoenix sebenarnya makhluk mitologi Mesir kuno. Phoenix di sini menggambarkan dewa matahari. Namun  burung phoenix banyak diadaptasi oleh budaya China. 

Batik Ani Yudhoyono Foto: Dok. Istimewa
Batik Ani Yudhoyono

Iwet mengutip dari buku Chinese Art, phoenix dipercaya memiliki nama feng huang. Makhluk ini dipercaya bisa menduplikasi dirinya. Phoenix adalah simbol perempuan (yin) ,melambangkan keindahan, keindahan sekaligus kekuatan. Phoenix dipercaya hidup selama seribu tahun lalu akan membakar diri sehingga lahir phoenix baru. Di kemudian hari, phoenix dianggap sebagai burung surga. 

"Saya garis bawahi, phoenix itu mirip dengan karakter Ibu Ani. Ibu itu sangat peduli dengan budaya Indonesia dan kain," imbuhnya. 


Cintanya tak main-main

Meski belum pernah bertemu perempuan yang kerap disapa Memo ini, Iwet berani bilang bahwa Ani Yudhoyono memberikan cinta yang besar akan budaya Indonesia. Ani selalu membeli kain dari pembatik langsung. Tak jarang kain-kain pun memiliki nilai filosofi tinggi. 

Iwet sempat ingat saat upacara 17 Agustus di akhir masa jabatan SBY. Pilar-pilar istana dihias dengan kain yang memiliki makna tuntas atau sudah selesai. Ia kagum bahwa baik SBY dan Ani bisa terlintas ide ini. 

Dari Anissa, Iwet juga jadi tahu bahwa Ani juga memiliki koleksi siger atau mahkota dari seluruh daerah. 

"Itu salah satu yang saya acungi jempol untuk almarhumah. Kecintaan ke budaya Indonesia enggak main-main. Kita ingat bahwa batik masuk warisan budaya dunia tak benda UNESCO di zaman pemnerintahan SBY. Menurut saya, ini ada campur tangan beliau," ujar Iwet. 

Sayangnya, Iwet tak lagi memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Ani. Dia akhirnya meninggal akibat penyakit kanker darah setelah berbulan-bulan dirawat di NUH Singapura. Padahal jauh sebelum sakit, kata Iwet, Anissa beberapa kali mengajaknya bertemu sang ibu mertua. 

"Sampai akhirnya beliau enggak ada, sayang sekali ya enggak pernah kesampaian (bertemu)," katanya. (els/chs)