Memilih Peminatan yang Tepat untuk Calon Siswa SMA/SMK

tim, CNN Indonesia | Rabu, 12/06/2019 17:08 WIB
Memilih Peminatan yang Tepat untuk Calon Siswa SMA/SMK ilustrasi siswa SMA (ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penerimaan siswa baru akan segera dimulai untuk tingkat SMA/SMK. Sekolah negeri menerima pendaftaran melalui sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang digelar secara nasional per daerah. Beberapa sekolah swasta juga sudah mulai membuka pendaftaran.

Pendaftaran SMA pada tahun ajaran kali ini mengharuskan anak langsung memilih peminatan yang diinginkan. Tersedia kompetensi MIPA, IPS, dan Bahasa untuk SMA, serta beragam pilihan kompetensi untuk SMK.

Anak dan didampingi orang tua dituntut untuk dapat menentukan pilihan yang tepat sesuai dengan minat dan bakat siswa. Pilihan yang tepat akan menunjang masa depan anak.


Ahli perkembangan anak Ghianina Armand menjelaskan setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Pilihan pendidikan untuk anak tergantung pada kemampuan, keterampilan, dan peminatan anak. 


"Peminatan adalah keputusan seorang anak dalam memilih bidang yang sesuai minat, bakat, dan kemampuan mereka. Ketiga hal ini pada umumnya dapat diukur melalui tes minat dan bakat," kata Ghianina kepada CNNIndonesia.com.

Tes minat dan bakat ini dapat dilakukan pada usia 13 tahun ke atas karena umumnya pada usia ini minat dan bakat anak sudah terbentuk.

Ghianina menyarankan agar orang tua dapat mengarahkan anak untuk memilih peminatan di SMA/SMK yang sesuai dengan kemampuan dan ketertarikan mereka.

"Pada masa SMA, pemilihan sekolah akan lebih kritikal dikarenakan akan berdampak langsung terhadap pilihan dan pengalaman pendidikan mereka di masa kuliah," ucap Ghianina yang juga merupakan konselor di Personal Growth.

Selain itu, pilihlah pula peminatan yang sesuai dengan karakteristik anak. Misalnya, kecenderungan anak yang fokus belajar secara individual atau berkelompok dengan permainan maupun proyek. Ada pula anak lebih menyenangi aktivitas motorik seperti olahraga juga dapat diarahkan dengan masuk sekolah olahraga.

Selain aktivitas di sekolah, pada usia SMA/SMK, Ghianina menyarankan agar anak juga mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau aktivitas lain di luar sekolah. Kegiatan ini dapat menunjang keterampilan sosial dan kemampuan motorik yang penting untuk perkembangan anak.

"Mereka dapat mengembangkan keterampilan sosial karena bertemu orang baru di luar sekolah, yang memiliki karakter dan latar belakang berbeda," tutur Ghianina yang merupakan lulusan dari University College London.

Aktivitas fisik seperti olahraga dan seni juga mengajarkan anak bekerja dalam tim, bersosialisasi, bermain sportif, berpikir kreatif, meregulasi emosi hingga melatih otot-otot tubuh.  


Melalui kegiatan ini anak juga diajarkan untuk dapat menciptakan keseimbangan dalam aspek akademik dan non-akademik. Anak juga diajarkan mengatur waktu dan juga harus tetap fokus pada sekolah.

(ptj/chs)