Chikungunya, Saat Tubuh 'Berkerut' Akibat Nyeri Sendi Parah

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 10/07/2019 10:20 WIB
Chikungunya, Saat Tubuh 'Berkerut' Akibat Nyeri Sendi Parah Ilustrasi (Foto: Istockphoto/Aleksej Sarifulin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Chikungunya mendadak jadi sorotan. Puluhan penduduk di Desa Pasarean, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor terjangkit penyakit dengan nama lain flu tulang itu.

Chikungunya menjangkiti wilayah Pamijahan sejak Mei 2019. Menjangkitnya penyakit membuat Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor meningkatkan status menjadi waspada, sebagaimana diberitakan sejumlah media lokal.

Meski tak termasuk penyakit kronis, tapi flu tulang dapat membuat tubuh penderita akan terasa tak nyaman. Betapa tidak, chikungunya adalah demam yang disertai dengan rasa nyeri hebat pada persendian. Tak sedikit nyeri sendi yang berujung membuat tubuh lemah dan tak berdaya.


Istilah 'chikungunya' sendiri diambil dari bahasa Kimakonde, yang berarti 'menjadi berkerut'. Kata ini merujuk pada tubuh penderita yang kerap membungkuk akibat nyeri sendi yang parah.

Mengutip situs resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), chikungunya pertama kali ditemukan di Tanzania pada 1952 silam. Sebagian besar flu tulang menyerang sejumlah negara di Afrika dan Asia.

Kasus chikungunya pertama di Amerika dilaporkan terjadi pada 2013 di Kepulauan Karibia. Sejak itu, lebih dari 1,7 juta kasus flu tulang dilaporkan menyerang warga Karibia, sejumlah negara di Amerika Latin, dan Amerika Serikat.

Sama seperti demam berdarah, flu tulang terjadi akibat infeksi virus yang ditularkan oleh nyamuk. Nyamuk penular chikungunya disebut Aedes albhopictus. Kedekatan lokasi pengembangbiakan nyamuk dengan tempat tinggal manusia menjadi faktor risiko terbesar penyakit ini.

Nyamuk Aedes albhopictus umumnya ditemukan menggigit sepanjang hari, sejak pagi hingga sore. Pagi dan sore hari menjadi puncak bagi nyamuk untuk mencari mangsa.

Gejala akan timbul pada 4-8 hari setelah terinfeksi gigitan nyamuk. Selain demam dan nyeri sendiri, gejala chikungunya juga disertai oleh sakit kepala, mual, kelelahan, dan ruam.

Sampai saat ini, tak ada antivirus untuk chikungunya. Mengutip situs kesehatan Mayo Clinic, pengobatan hanya diarahkan untuk meredakan gejala, termasuk penggunaan anti-piretik dan analgesik untuk mengatasi nyeri sendi.

Kebanyakan penderita pulih dengan sendirinya selama 3-10 hari. Namun, bagi sebagian orang, nyeri sendi dapat berlangsung selama berbulan-bulan.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)


BACA JUGA