Chanel mengambil langkah untuk meningkatkan upaya keragaman perusahaan. Rumah mode mewah Perancis ini mengumumkan akan mengadakan posisi kepala diversitas dan inklusi untuk pertama kalinya.
Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya ketidakpekaan produk berdasarkan suku ras dan agama yang dibuat oleh sebuah label.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini bukanlah posisi baru di Chanel, namun sebelumnya ini berada di bawah People & Organization departement. Kali ini divisi ini dipisahkan dan memiliki kepalanya sendiri.
Dikutip dari Hypebeast, Chanel bukan satu-satunya merek mewah Eropa yang mengumumkan perubahan struktural untuk meningkatkan inklusivitas perusahaan. Gucci mengumumkan pada bulan Maret bahwa mereka akan menerapkan inisiasi keanekaragaman ras dalam departemennya. Departemen ini akan dipimpin oleh legenda mode Harlem Dapper Dan.
Langkah ini diambil Gucci karena kasus rasial yang pernah menyeret nama mereka. Salah satunya adalah karena sweater turtleneck hitam yang sempat heboh beberapa waktu lalu.
Bukan cuma Gucci yang pernah menghadapi masalah rasial ini. Rumah mode mewah Prada juga sempat dikecam karena produk rasial berupa gantungan kuncinya. Mereka menarik gantungan kunci itu pada Desember 2018.
Kasus yang lebih besar terjadi saat Dolce & Gabbana diserang karena dianggap rasial dengan iklan yang menggambarkan seorang model China yang makan makanan Italia dengan sumpit. (chs)