Percobaan: 5 Hari Tidur dengan Plester Mulut Kontroversial

tim, CNN Indonesia | Minggu, 28/07/2019 08:06 WIB
Percobaan: 5 Hari Tidur dengan Plester Mulut Kontroversial ilustrasi plester mulut (Istockphoto/SergeyChayko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketika semua orang menjalankan berbagai cara demi bebas ngorok, saya memutuskan untuk mengikuti cara penyanyi Jaz Andien Aisyah, plester mulut.

Seram? kelihatannya iya.

Kata Andien, plester mulut ini bisa membantunya bebas dari ngorok, mengurangi batuk dan tenggorokan kering di malam hari. Dia mengungkapkan bahwa cara ini termasuk buteyko method yang merupakan bagian dari latihan pernapasan untuk orang yang memiliki asma dan masalah pernapasan lainnya.


Latihan ini juga dikatakannya bisa membantu untuk membiasakan diri bernapas dari hidung, bukan mulut.

Memang, cara plester mulut ini jadi pro dan kontra di kalangan masyarakat. Ada ahli yang mengatakan kalau cara ini terbilang ekstrem demi membiasakan diri demi bebas napas mulut, tapi napas dari hidung.


Menimbang berbagai positif dan negatif serta pro-kontra menyoal plester mulut ini, saya pun memutuskan untuk mencobanya sendiri.

Plester mulut yang dipakai tentunya bukanlah plester biasa. Bukan plester luka apalagi selotape kertas yang bening atau hitam.

Selotape atau plester yang dipakai adalah plester micro tape. Plester ini dikenal juga dengan nama surgical tape atau medical tape. Sesuai namanya, plester berwarna putih ini memang tipis dan berpori dan digunakan saat operasi. Maka nama resminya adalah surgical tape.

Jika diperhatikan lembaran tipis micro tape ini memiliki pori-pori 'kertas' kecil agar kulit yang tertutup bisa tetap bernapas.

Saya mencoba untuk melakukan plester mulut ini selama lima hari. Saya memang tak tidur mengorok, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu, misalnya terlalu lelah atau sedang pilek, tapi tetap saja, plester mulut yang fenomenal ini membuat saya penasaran untuk mencoba cara ini. Konon katanya bisa memberi banyak manfaat untuk pernapasan.

Di hari pertama, menempelkan plester ke mulut memang masih terasa asing di mulut. Ada rasa lengket dan takut tak bisa bernapas setelah menempelkannya.

Namun tak ada masalah besar yang terjadi. Hanya saja, malam itu, saya 'panen' air liur di plester. Plesternya tak tembus air sehingga 'tergenang' di ujung mulut.

Reaksi ini saya anggap normal karena hal ini selalu terjadi saat ada benda baru yang menempel atau masuk ke mulut. Reaksi ini saya juga alami saat pertama kali memakai behel.

Selain itu, mulut pun masih terasa kering dan aneh.

Ini sebabnya, di ambang batas sadar dan tak sadar, pukul 05.00 WIB, saya langsung melepas plester dari mulut, dan saya kembali tidur dengan mulut tanpa plester.

"Aneh enggak rasanya?" "Gimana rasanya?" "Bisa napas enggak sih? Gimana kalau tiba-tiba mati karena kehabisan napas karena mulut diplester?"

Pertanyaan teman-teman itu langsung memberondong saya.

Yang saya bisa jawab di hari pertama itu, bagaimana rasanya? masih aneh karena masih hari pertama. Lalu bisa napas kah? tentu bisa, sekalipun mulut diplester, namun lubang-lubang mikro di plester tersebut masih memungkinkan Anda untuk bernapas, walau minim. Ini tentunya berbeda ketika Anda menggunakan plester plastik (selotape atau bahkan lakban, yang tentunya tak dianjurkan untuk metode ini).

Di hari kedua, plester kembali menempel di mulut jelang tidur. Kali ini saya lebih sabar. Plester tak lagi dilepas subuh. Saya bisa bertahan tidur dengan plester sampai pukul 06.00 WIB.

Hari kedua, saya mulai terbiasa. 'Iler' tak lagi muncul dan tak ngorok. Namun mulut masih terasa kering dan terus-menerus minta untuk diberi minuman. Di tengah malam, saya masih kerap terbatuk (saya dalam kondisi sehat).

Yang sedikit membingungkan ketika pakai plester ini adalah saat Anda terbatuk dan haus. Dengan mulut terkunci erat -plester ini menempel erat di kulit dan tak mudah lepas dengan sedikit gerakan - Anda akan kesulitan untuk batuk dengan 'lega' dan tertahan.


Hari ketiga, saya makin terbiasa. Masalah-masalah di hari pertama dan kedua tak lagi dialami. Mulut tak lagi terlalu kering, aroma mulut tak terlalu kuat (dengan catatan sikat gigi sebelum tidur), tak mengorok.

Hari keempat dan lima. Memplester mulut sudah seperti jadi rutinitas sebelum tidur malam.

Efek dan saran

Ketakutan tentang sulit dan sesaknya bernapas setelah mulut diplester ini ternyata tak terbukti. Dengan plester mulut ini udara yang terbatas masih bisa masuk.

Hanya saja yang sulit adalah ketika Anda harus menghadapi masalah batuk tengah malam dan juga haus tengah malam.

Agar bisa batuk 'lega' dan minum, tentunya plester ini harus dilepas terlebih dulu. Anda tak lagi juga bisa berteriak atau menjawab panggilan orang yang membangunkan Anda dari tidur (ya, saya mengalami ini).


Aroma mulut yang diklaim bisa tetap segar nyatanya juga tak akan segar kalau Anda tak sikat gigi (ini faktanya). Jadi jangan berharap 'bau naga' saat bangun tidur akan segar setelah diplester meski Anda tak sikat gigi sebelum tidur. Ingat, ini plester untuk mulut, bukan untuk gigi.

Namun efek yang diklaim bisa membuat badan lebih segar dan lebih bersemangat di pagi hari, masih belum dirasakan. Secara umum memang ada hal positif yang terjadi namun tak terlalu signifikan. Percobaan ini masih harus dilakukan dalam periode waktu yang lebih lama untuk mendapatkan efek lainnya.

Efek positifnya, plester mulut yang erat ini menyebabkan saya harus menahan mengatupkan mulut semalaman ini membuat saya jadi terbiasa untuk selalu mengatupkan bibir. Tak ada lagi kebiasaan melongo dengan bibir terbuka, namun saya jadi lebih terbiasa untuk 'mingkem.' Poin plus buat saya. Hanya saja dalam jangka panjang saya berharap kalau cara ini juga bisa membantu mengurangi kebiasaan tidur menganga saya.

Meski terlihat mudah untuk dilakukan, namun menurut saya nyatanya hal ini butuh perhitungan. Jangan sekali-kali melakukan plester mulut ketika sedang pilek. Orang yang punya masalah dengan THT termasuk sinus dan polip juga sebaiknya tak melakukan hal ini.

Selain itu, ketika sedang 'program' plester mulut, pastikan Anda menempelkan plesternya sesaat sebelum tidur. Sebaiknya jangan menempelkan plester saat Anda masih akan membaca buku sebelum tidur, nonton tv, atau bahkan membuka media sosial sebelum tidur. Pasalnya, ketika Anda masih aktif sebelum tidur, Anda masih akan merasa haus, batuk, tenggorokan kering dan lainnya. Jika sudah begini, Anda bakal membuka dan menutup plester berulang-ulang.


(chs)