Multikultur Kuliner Betawi Condet

CNN Indonesia | Minggu, 28/07/2019 16:20 WIB
Multikultur Kuliner Betawi Condet Suasana perayaan Festival Condet 2019 di Jalan Raya Condet, Jakarta Timur, Minggu (28/7). (CNN Indonesia/Dini Nur Asih)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bukan cuma Kerak Telor, sebenarnya kuliner khas Betawi memiliki banyak ragam, seperti yang dikatakan oleh Ketua Panitia Festival Condet 2019 Irwansyah saat acara tahunan itu digelar pada Minggu (28/7).

"Kalau makanan ini kan ditampilin lagi semua, kayak gabus pucung, gemblong, deblak, kue rangi nah itu kan mulai dikembangin dan dikenalkan lagi di sini [Festival Condet 2019]," kata Irwansyah kepada CNNIndonesia.com.

Gabus Pucung sendiri merupakan masakan khas Betawi yang diolah dari bahan baku ikan gabus dengan kuah warna hitam.



Sementara Kue Rangi terbuat dari campuran tepung kanji dengan kelapa parut yang dipanggang dengan cetakan khusus di atas tungku kecil.

Kendati demikian, Irwansyah mengatakan ada salah satu makanan khas warga Condet yang istimewa, yakni Deblak.

"Kalau Deblak itu di Condet, dia terbuat dari singkong yang diparut dan dikerasin gitu, jadi teksturnya kenyal terus atasnya ditaburi pakai kelapa," tuturnya.


Multikultur

Suku Betawi yang menjadi penghuni pertama Jakarta saat ini sudah tersebar di mana-mana. Selain di Condet, mereka juga meninggali Tanah Abang, Tomang, Setu Babakan, sampai Pasar Minggu.

Kebudayaan dan kebiasaan yang dipegang pun pastinya berbeda. Irwansyah menyebut warga "Betawi Condet" menjunjung tinggi nilai silahturahmi.

Sebab Condet tidak hanya ditinggali oleh warga asli Jakarta, namun juga oleh pendatang dari daerah lain.

Di "Kampung Parfum" ini mereka semua hidup berdampingan, tak mengenal asli Betawi atau bukan, Islam atau bukan.

"Kalau Betawi Condet dari kebudayaannya sebenarnya kita silahturahmi yang paling penting. Kita tahu kan perkembangan Condet itu pesat, istilahnya bermacam-macam suku, agama, kebudayaan daerah mana di Condet itu berbaur," kata Irwansyah.

Lebih lanjut kata Irwansyah, dia menilai warga Condet sarat akan rasa mengayomi akibat menyatunya berbagai kebudayaan dari daerah lain yang bertandang ke daerah Condet.

Contoh pendatang dari Timur Tengah yang berbisnis parfum lalu menularkan "bisnisnya" kepada penghuni Condet.

"Sampai saat ini orang Condet itu akur dalam arti bisa mengayomi. Enggak ada tuh kalimat 'wah di sana suku ini suku ini' tapi kalau di Condet ini mengayomi warga-warga sekitar," jelasnya.


[Gambas:Video CNN]

(din/ard)