Mengenal Kanker Otak Glioblastoma yang Serang Agung Hercules

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 01/08/2019 18:10 WIB
Mengenal Kanker Otak Glioblastoma yang Serang Agung Hercules Agung Hercules meninggal dunia pada Kamis (1/8) di usia 51 tahun. Screenshot via instagram (@agunghercules88)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari ini dunia hiburan melepas kepergian Agung Hercules untuk selamanya. Eks binaragawan yang melambungkan lagu Astuti ini meninggal dunia pada Kamis (1/8) setelah menjalani perawatan kanker otak di RS Kanker Dharmais, Jakarta Barat.

"Inalillahi wa innaillaihi rajiun..Telah berpulang ke Rahmatullah, Mas Agung Herkules di RS Dharmais sore ini," cuit penulis Alit Susanto melalui akun Twitternya @shitlicious.

Agung berpulang di usia 48 tahun. Satu bulan lalu, kabar bahwa pedangdut asal Malang ini menderita kanker di otak kiri atau jenis glioblastoma stadium IV, telah tersebar luas.


Kanker otak sendiri merupakan tumor ganas yang tumbuh di otak. Tak seperti kanker lain, tipe ini jarang menyebar ke bagian tubuh lainnya.

Kanker otak terbagi menjadi dua, yakni primer dan sekunder. Primer berarti penyebab kanker datang dari otak, sedangkan sekunder disebabkan kasus penyakit di organ tubuh lain dan menjalar hingga otak. Sekitar 75 persen kasus kanker otak merupakan kanker otak primer.

Kanker otak juga terdiri atas beberapa jenis seperti glioma, meningioma, medulloblastoma, ganglioglioma, neurilemmoma, dan Craniopharyngiomas.

Dalam dunia medis, glioblastoma seperti yang diderita Agung Hercules merupakan jenis yang termasuk dalam astrositoma, yang merupakan bagian dari glioma.

Istilah glioma ini merupakan istilah umum untuk tumor yang dimulai dalam sel glial (sel-sel yang mengelilingi saraf). Tumor ini tumbuh dengan cepat. Data American Cancer Society menyebut, 3 dari 10 tumor otak adalah glioma.

[Gambas:Video CNN]

Sementara astrositoma merupakan tumor yang dimulai pada astrosit di sel glial. Dua dari 10 kanker otak adalah astrositoma.

Astrositoma terdiri atas empat stadium, dengan Glioblastoma tingkatan paling tinggi (ke-IV) dan yang paling cepat berkembang. Kanker ini mendominasi lebih dari setengah glioma dan merupakan tumor ganas yang paling umum pada orang dewasa.

Jenis glioblastoma ini memiliki tingkat kelangsungan hidup lima tahun dan hanya empat persen untuk orang dewasa usia 55-64 tahun.

Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab kanker otak. Namun sejumlah faktor bisa meningkatkan risiko kemunculan kanker, antara lain genetik. Sebagian kasus tumor dan kanker otak terjadi pada orang yang keluarganya punya riwayat kanker.

Selain itu, kanker otak juga bisa disebabkan paparan radiasi dalam dosis tinggi dalam jangka waktu lama. Misalnya saja radiasi nuklir, ledakan bom atom atau radioterapi untuk terapi kanker.

Lingkungan tercemar dan terpapar zat kimia juga dapat berkontribusi pada risiko kanker otak. Bahan kimianya antara lain, pertisida, herbisisa, vinil klorida pada plastik, timah dan bahan kimia pada tekstil dan bahan bakar.

Rokok yang dikenal sebagai musuh sel-sel tubuh juga menjadi salah satu faktor. Zat-zat kimia pada rokok bisa merusak sel dan memicu timbulnya sel penyebab kanker.

Infeksi virus, infeksi virus bisa menyebabkan kerusakan DNA sel. Sel kemudian berpotensi berubah menjadi kanker. Beberapa jenis virus dikaitkan dengan kanker otak seperti, HIV, cytomegalovirus dan virus Epstein-Barr (EBV).


(els/vws)