"Anda berada di dunia yang tak dikenal, tapi sangat indah," ujar Silva (78) saat bercerita tentang pengalamannya mengikuti metode pengobatan eksperimental untuk gangguan depresi, melansir AFP. "Saya sangat gembira."
Dalam mimpi yang dialami Silva, suara-suara percakapan yang riuh rendah terdengar nyaring 'mengawang' di udara yang panas dan lengket. Tapi, Silva tak peduli dan memilih untuk terus mengarungi samudera bersama si lumba-lumba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Jurus 'Si Kurus' Bangkit dari Depresi |
Kesempatan mencoba kacamata VR itu didapat Silva dari Alexandra Ivanovitch, yang merupakan perwakilan dari salah satu lembaga non-pemerintah di Miami, AS.
Ivanovitch memberikan demonstrasi VR sebagai pengobatan depresi untuk para lansia atau pensiunan di Kuba. Ivanovitch membawa para lansia 'berjalan-jalan' ke luar angkasa, ke dasar laut, atau ke puncak gunung.
Teknologi virtual reality (VR) disebut dapat membantu mengurangi gejala depresi. (Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon) |
Penggunaan VR untuk mengatasi depresi bukan dilakukan tanpa sebab. Dalam sebuah studi, VR diketahui dapat membantu seseorang menghadapi depresi, gangguan cemas, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), dan beberapa masalah mental lainnya.
Peneliti yang merupakan ahli saraf di Miami University, AS, Aldrich Chan mengatakan, citra yang dihasilkan dari VR dapat sangat bermanfaat bagi kognisi seseorang.
Lihat juga:5 Cara Efektif Mengatasi Stres dalam Hidup |
Seperti Ivanovitch, para peneliti fokus mengintervensi pasien dengan pengalaman positif yang diproduksi VR. Hasilnya, sebagian besar intervensi ampuh mengurangi gejala depresi yang muncul.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Consulting and Clinical Psychology ini juga melaporkan, tingkat depresi, cemas, dan stres mengalami penurunan pada mereka yang mendapatkan intervensi VR.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)
Teknologi virtual reality (VR) disebut dapat membantu mengurangi gejala depresi. (Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon)