Mengurangi Gejala Depresi dengan Virtual Reality

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 10:34 WIB
Mengurangi Gejala Depresi dengan <i>Virtual Reality</i> Ilustrasi. Teknologi virtual reality (VR) dapat mengurangi gejala depresi, cemas, stres pasca-trauma, dan beberapa masalah mental lainnya. (Foto: AFP PHOTO / JEAN-FRANCOIS MONIER)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nidia Silva tengah bermimpi. Dalam mimpinya, dia berenang mengarungi lautan di sekitar Kuba bersama seekor lumba-lumba. Tapi itu bukan mimpi biasa. Itu adalah mimpi yang tercipta melalui teknologi virtual reality (VR) sebagai bagian dari metode eksperimental pengobatan gangguan depresi pada orang lanjut usia (lansia).

"Anda berada di dunia yang tak dikenal, tapi sangat indah," ujar Silva (78) saat bercerita tentang pengalamannya mengikuti metode pengobatan eksperimental untuk gangguan depresi, melansir AFP. "Saya sangat gembira."

Dalam mimpi yang dialami Silva, suara-suara percakapan yang riuh rendah terdengar nyaring 'mengawang' di udara yang panas dan lengket. Tapi, Silva tak peduli dan memilih untuk terus mengarungi samudera bersama si lumba-lumba.


"Ini membawa Anda ke dunia lain. Sungguh menyenangkan," kata Silva.

Kesempatan mencoba kacamata VR itu didapat Silva dari Alexandra Ivanovitch, yang merupakan perwakilan dari salah satu lembaga non-pemerintah di Miami, AS.

Ivanovitch memberikan demonstrasi VR sebagai pengobatan depresi untuk para lansia atau pensiunan di Kuba. Ivanovitch membawa para lansia 'berjalan-jalan' ke luar angkasa, ke dasar laut, atau ke puncak gunung.

Teknologi virtual reality (VR) disebut dapat membantu mengurangi gejala depresi. (Foto: REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Proyek yang disebut dengan VR Genie ini dirancang untuk menangkal kesepian yang kerap dialami lansia. "Kami menggunakan VR untuk memenuhi keinginan para lansia," ujar Ivanovitch. Melalui VR, lansia bisa bepergian ke mana saja sesuai dengan yang diinginkan.

Penggunaan VR untuk mengatasi depresi bukan dilakukan tanpa sebab. Dalam sebuah studi, VR diketahui dapat membantu seseorang menghadapi depresi, gangguan cemas, gangguan stres pasca-trauma (PTSD), dan beberapa masalah mental lainnya.

Peneliti yang merupakan ahli saraf di Miami University, AS, Aldrich Chan mengatakan, citra yang dihasilkan dari VR dapat sangat bermanfaat bagi kognisi seseorang.

Bukti lain juga didapat dari sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of California, AS. Para peneliti mempelajari kegunaan VR untuk mengatasi anhedonia atau gejala depresi yang menciptakan ketidakmampuan seseorang untuk merasa senang dan mencurahkan minatnya dalam berbagai kegiatan.

Seperti Ivanovitch, para peneliti fokus mengintervensi pasien dengan pengalaman positif yang diproduksi VR. Hasilnya, sebagian besar intervensi ampuh mengurangi gejala depresi yang muncul.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Consulting and Clinical Psychology ini juga melaporkan, tingkat depresi, cemas, dan stres mengalami penurunan pada mereka yang mendapatkan intervensi VR.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)