Ulasan Penginapan

Bermalam dalam 'Rumah Lebah' nan Mewah di Ubud

CNN Indonesia | Selasa, 20/08/2019 15:18 WIB
Bermalam dalam 'Rumah Lebah' nan Mewah di Ubud Unit kamar di Adiwana Bee House. (Dok. Adiwana Group)
Ubud, CNN Indonesia -- Yang terbaca jelas hanya papan nama restoran Bebek Tepi Sawah di depan gang kecil itu. Papan nama itu bahkan cuma menunjukkan area parkir tempat makan. Sempat berpikir salah jalan, tetapi mobil tetap saya arahkan masuk.

Setelah belasan rumah penduduk dan beberapa anjing kampung yang saya lewati, mobil berhenti di jalan satu arah dengan kanan kiri sawah. Peta digital memberi tahu untuk jalan terus, yang berarti melaju hati-hati dengan perbatasan selokan di kana kiri.

Tuhan sepertinya menganugerahi Ubud sudut matahari yang presisi indahnya, sehingga pemandangan sawah di sisi jalan satu mobil itu terasa bak lukisan Pak Tino Sidin; padi yang masih menghijau disiram lembayung senja oranye.


Sekitar 100 meter sampai juga saya di Adiwana Bee House. Bukan disambut lobi seperti hotel pada umumnya, tapi hanya ada restoran kecil berpemandangan sawah di depan lahan parkir berkapasitas empat mobil.


Hawa sejuk dan bau rumput yang menyambut saat saya duduk di meja resto yang menghadap langsung ke sawah. Karyawan hotel menyambut kedatangan saya, mengambil koper untuk diantarkan ke kamar, lalu meminta saya mengurus administrasi bermalam.

Hotel Rasa Vila di Tengah Persawahan UbudSuasana di restoran. (Dok. Adiwana Group)

Ada tiga jenis kamar di sini; Grand Deluxe, Suite, dan One Bedroom Pool Villa. Tarifnya mulai dari 1,5 juta per malam. Semuanya kolam renang yang berbatasan dengan sawah. Yang lebih mahal punya area kolam renang sendiri. Sayangnya sawahnya hanya bisa dipandangi, karena itu masih milik warga, kata karyawan yang hanya tertawa mendengar pertanyaan saya.

Satu jam perjalanan dari Uluwatu dan sisa pesta semalam membuat perut saya mendadak lapar saat berada di resto. Pelayan bertanya saya mau makan apa, saya jawab "Nasi Tumpeng" sambil tertawa mengajak bercanda. Tapi saya salah, ternyata menu itu benar adanya di sini.

Nasi Kuning menjadi menu rekomendasi di Adiwana Bee House. Isinya nasi kuning, urap, telur balado, sate ayam, tempe, gulai ikan, dan kerupuk udang. Harganya 89 ribu per porsi. Bentuknya ya mirip Nasi Tumpeng, meski hanya ujungnya.

Saat makanan datang saya masih tersenyum-senyum. Cukup istimewa rasanya makan nasi dengan bentuk seresmi ini. Apalagi saya juga bukan pejabat yang rutin potong tumpeng. Saya garuk ujung tumpeng dengan garpu dan suap ke mulut. Semacam peresmian PT Perut Kembali Buncit Tbk.

Saya tidak punya banyak pengetahuan mengenai rasa. Tapi menu ini mengingatkan saya pada jajanan pasar di pagi hari yang selalu dibelikan ibu atau nenek untuk bekal saya ke sekolah waktu dulu.

Rasa gurih santan seimbang dengan kunyit, jahe, bawang merah, dan lengkuas. Serai dan daun salam ikut mewangikan nasi kuning ini. Tak ada rasa aneh-aneh ala hotel yang ikut campur. Rasanya sederhana saja tapi dalam level nikmat.

Di sekitar nasi ada sajian lauk pauk. Sebenarnya saya bukan tipe orang yang harus makan dengan lauk lebih dari dua. Apalagi saat makan malam. Namun bagi yang hobinya makan, mungkin kekayaan lauk dalam menu ini bakal terasa menyenangkan untuk menemani nasi kuning meluncur menuju usus 12 jari.

Oh iya, resto ini juga masih bergabung dengan barnya. Bagi yang malas keluar hotel untuk sekadar minum-minum cantik, lakukan saja di sini, karena menu minumannya lengkap, mulai dari bir sampai whisky. Untuk sebuah hotel di Bali harga per gelasnya juga terbilang murah. Sayangnya belum ada spesial cocktail yang tersedia saat ini, padahal saya gemar berburu minuman dengan racikan istimewa.


Karena datang sore, kamar sudah bisa saya huni. Sesampainya di kamar nomor 504, saya diajak keliling ruangan.

Si karyawan hotel terus mengatakan kamar, kamar, kamar. Tapi bagi saya ini bukan kamar, lebih mirip bungalow dua lantai.

Lantai bawah berupa bathtub, dapur kering, dan ruang tamu. Lantai atas berisi kasur tidur, toilet, kamar mandi, dan balkon. Ukuran ruangannya serba luas dan tinggi. Hotel rasa resor, begitu pikir saya.

Hotel Rasa Vila di Tengah Persawahan UbudRuangan tidur utama kamar tipe Grand Deluxe. (Dok. Adiwana Group)

Bambu dan kayu melingkupi interior dan dekorasi per unitnya, bak lumbung padi. Jadi hati-hati saja kalau masih merokok konvensional.

Setiap bangunan kamarnya dibuat seperti rumah panggung bertingkat yang "dibungkus" anyaman bambu. Kamar dalam besek, begitu sederhananya. Bukan cuma cantik, bangunan kamar ini juga ramah lingkungan, karena serba kayu dan bambu maka aliran udara lebih terasa.

Perlu dicatat kalau hotel ini diperuntukkan bagi pasangan atau orang yang hendak mencari kesenyapan dan mendekatkan diri dengan alam.

Oleh sebab itu sebisa mungkin tak membawa anak di bawah umur ke sini, lagipula di dalam kamarnya juga banyak lukisan khas Bali zaman dahulu kala; misalnya perempuan berkemben.

Tapi jika mau menjaga level keberisikan anak dan mau tanggung jawab menjelaskan soal lukisan wanita berkemben itu, silakan saja.

Hotel Rasa Vila di Tengah Persawahan UbudPemandangan area hotel yang berbatasan dengan sawah. (Dok. Adiwana Group)

Karyawan hotel yang menemani saya menuju kamar mengatakan kalau kolam renang bisa diceburi hanya sampai jam 21.00. Saat itu baru pukul 19.00. Saya berkata bolehkah berenang, dan ia menjawab boleh saja asal saya mau kedinginan. Apa iya Bali dingin?

Kebenaran itu baru terungkap saat saya menceburkan diri ke dalam kolam renang yang memanjang hingga ke depan lima kamar. Malam itu di bulan Agustus suhu Bali sedingin 22 derajat Celcius.

Sambil berenang saya memandangi langit berbintang di langit yang terang. Suara gemericik air sungai serta perbincangan antara kodok dan jangkrik menjadi latarnya. Tak sabar saya melihat pemandangan matahari terbit dari punggung Gunung Agung keesokan pagi sambil ngopi di balkon kamar.

Jika dompet saya terasa ikhlas untuk mengeluarkan uang lebih demi bermalam di hotel ini, maka gantian hati saya yang menjerit, "ah sial, kenapa saya sendirian menginap di hotel seromantis ini??"

(ard/ard)