Tengok saja Anna Wintour. Editor in Chief Vogue ini seolah tak mau lepas dari citra kuat rambut bob. Di mana pun dan kapan pun, ujung rambut pendeknya selalu menukik ke dalam dengan poni yang menutupi sebagian dahinya. Sekilas, tampak tegas.
Dalam skala yang lebih populer, rambut bob juga menjadi ciri khas tokoh kartun Dora The Explorer. Aksinya menyelami berbagai pengalaman semakin menggemaskan dengan rambut bob dan poni pendeknya. Ditemani tas ransel, kaus, dan celana pendek, Dora menjadi seorang pemberani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Tips Memilih Warna Rambut Sesuai Kepribadian |
Potongan rambut ini dianggap lebih sederhana dan praktis ketimbang lainnya. Bob membuat perempuan tak perlu repot mengikat atau mengepang rambutnya untuk terlihat rapi.
Rambut bob memiliki sejarah panjang. Ia dipercaya muncul beriringan dengan kehadiran gelombang citra perempuan kuat dan mandiri pada era 1920-an.
Namun, jauh dari itu, rambut bob telah hadir mengisi sendi-sendi kehidupan perempuan pada masa sebelumnya. Beberapa catatan sejarah juga percaya bahwa Joan of Arc, tokoh pahlawan Prancis pada abad ke-15, menjadi perempuan pertama yang menggunakan potongan rambut bob.
(CNN Indonesia/Laudy Gracivia) |
Potongan ini kemudian dipopulerkan kembali oleh seorang penata rambut asal Prancis, Antoine de Paris pada 1909. Pada masa itu, rambut bob dianggap sebagai padanan tepat bagi topi cloche yang tengah naik daun. Sejurus kemudian, rambut bob pun populer di seantero Prancis.
Pada masa berikutnya, rambut bob ditampilkan kembali oleh seorang penari asal Amerika Serikat, Irene Castle, pada tahun 1915. Dia merasa rambutnya yang panjang membuatnya sulit untuk menari dengan gerakan cepat. Maklum, tari modern yang tengah berkembang saat itu identik dengan gerakan yang cepat.
Tak ayal, Castle pun tampil dengan potongan rambut pendek segaris dengan rahang dan tekstur ikal pada bagian bawah. Gaya ini dengan segera dinamai 'castle bob'.
Gaya rambut ini kian populer pada era Perang Dunia I. Kepraktisan menjadi alasan utama setiap perempuan yang memotong rambutnya hingga pendek. Potongan ini umumnya dipakai oleh perempuan yang berasal dari kalangan seniman, kaum bohemian, dan kaum feminis.
Perempuan menjadi pribadi yang bebas dan mandiri. Rambut bob menjadi simbol kemandirian dan kekuatan perempuan yang setara dengan pria.
Pada era yang sama, desainer asal Prancis, Coco Chanel, menggebrak tata cara berpakaian perempuan. Alih-alih menawarkan dress cantik yang sarat dengan unsur feminitas, Chanel menghadirkan busana perempuan yang lebih bersifat maskulin. Celana panjang hingga setelah jas mulai digemari perempuan, menandakan kemunculan tampilan androgyny.
Secara tak langsung, tren ini mendorong kemunculan generasi flapper. Nama terakhir merupakan generasi perempuan muda Barat pada era 1920-an yang identik dengan bentuk pemberontakan terhadap nilai-nilai konvensional masyarakat. Mengutip Fashionista, potongan rambut bob menjadi bagian penting para flappers. Potongan ini, lagi-lagi, dianggap tepat dengan citra kuat dan mandiri kaum perempuan.
Meski sempat pudar, rambut bob kembali berjaya pada masa-masa berikutnya. Film dan media berkontribusi dalam mempopulerkan kembali gaya rambut bob.
Pada akhir 1980-an, misalnya, sejumlah selebriti dan model perempuan beramai-ramai menghadirkan kembali tren rambut bob.
Beberapa klaim rambut bob yang tersohor pada periode ini berasal dari karakter fiksi Mia Wallace dalam film Pulp Fiction (1994) yang diperankan Uma Thurman. Poni pendek serta potongan rambut bob kian tegas dan seksi saat berpadu dengan tatapan tajam Thurman.
[Gambas:Video CNN] (asr/asr)
(CNN Indonesia/Laudy Gracivia)