Rambut Bob dan Perempuan-perempuan yang Berontak

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 21/08/2019 14:46 WIB
Rambut Bob dan Perempuan-perempuan yang Berontak Ilustrasi. Tak cuma sederhana, rambut bob juga mengisyaratkan citra perempuan yang kuat dan mandiri. (Istockphoto/CoffeeAndMilk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rambut bob adalah abadi. Banyak orang bicara demikian. Potongan rambut sederhana itu menjadi favorit banyak perempuan. Tak pula lekang dimakan waktu.

Tengok saja Anna Wintour. Editor in Chief Vogue ini seolah tak mau lepas dari citra kuat rambut bob. Di mana pun dan kapan pun, ujung rambut pendeknya selalu menukik ke dalam dengan poni yang menutupi sebagian dahinya. Sekilas, tampak tegas.

Dalam skala yang lebih populer, rambut bob juga menjadi ciri khas tokoh kartun Dora The Explorer. Aksinya menyelami berbagai pengalaman semakin menggemaskan dengan rambut bob dan poni pendeknya. Ditemani tas ransel, kaus, dan celana pendek, Dora menjadi seorang pemberani.

Dalam film versi layar lebarnya, Dora and the Lost City of Gold, sosok Dora yang diperankan oleh Isabela Moner pun tetap tampil dengan rambut bob.
Bob disebut-sebut sebagai potongan rambut yang tak usang dimakan waktu. Ia abadi menghiasi mahkota setiap perempuan.

Potongan rambut ini dianggap lebih sederhana dan praktis ketimbang lainnya. Bob membuat perempuan tak perlu repot mengikat atau mengepang rambutnya untuk terlihat rapi.

Rambut bob memiliki sejarah panjang. Ia dipercaya muncul beriringan dengan kehadiran gelombang citra perempuan kuat dan mandiri pada era 1920-an.

Namun, jauh dari itu, rambut bob telah hadir mengisi sendi-sendi kehidupan perempuan pada masa sebelumnya. Beberapa catatan sejarah juga percaya bahwa Joan of Arc, tokoh pahlawan Prancis pada abad ke-15, menjadi perempuan pertama yang menggunakan potongan rambut bob.

(CNN Indonesia/Laudy Gracivia)
Beberapa catatan menggambarkan Joan of Arc adalah perempuan dengan potongan rambut pendek segaris dengan rahang. Bentuknya nyaris mirip seperti mangkuk. Mengutip Smithsonian, selain karena alasan praktis, rambut bob digunakan Joan of Arc untuk menyamarkan jenis kelaminnya selama Perang Seratus Tahun antara Inggris dan Prancis.

Potongan ini kemudian dipopulerkan kembali oleh seorang penata rambut asal Prancis, Antoine de Paris pada 1909. Pada masa itu, rambut bob dianggap sebagai padanan tepat bagi topi cloche yang tengah naik daun. Sejurus kemudian, rambut bob pun populer di seantero Prancis.

Pada masa berikutnya, rambut bob ditampilkan kembali oleh seorang penari asal Amerika Serikat, Irene Castle, pada tahun 1915. Dia merasa rambutnya yang panjang membuatnya sulit untuk menari dengan gerakan cepat. Maklum, tari modern yang tengah berkembang saat itu identik dengan gerakan yang cepat.

Tak ayal, Castle pun tampil dengan potongan rambut pendek segaris dengan rahang dan tekstur ikal pada bagian bawah. Gaya ini dengan segera dinamai 'castle bob'.

Gaya rambut ini kian populer pada era Perang Dunia I. Kepraktisan menjadi alasan utama setiap perempuan yang memotong rambutnya hingga pendek. Potongan ini umumnya dipakai oleh perempuan yang berasal dari kalangan seniman, kaum bohemian, dan kaum feminis.

Gegap gempita rambut bob pada era setelah Perang Dunia I terus berkembang. Ia hadir bersama 'gonggongan' perempuan yang menginginkan perubahan. Praktis sejak saat itu, sejumlah perempuan muda mulai pergi bekerja dan memiliki hak untuk memilih.

Perempuan menjadi pribadi yang bebas dan mandiri. Rambut bob menjadi simbol kemandirian dan kekuatan perempuan yang setara dengan pria.

Pada era yang sama, desainer asal Prancis, Coco Chanel, menggebrak tata cara berpakaian perempuan. Alih-alih menawarkan dress cantik yang sarat dengan unsur feminitas, Chanel menghadirkan busana perempuan yang lebih bersifat maskulin. Celana panjang hingga setelah jas mulai digemari perempuan, menandakan kemunculan tampilan androgyny.

Secara tak langsung, tren ini mendorong kemunculan generasi flapper. Nama terakhir merupakan generasi perempuan muda Barat pada era 1920-an yang identik dengan bentuk pemberontakan terhadap nilai-nilai konvensional masyarakat. Mengutip Fashionista, potongan rambut bob menjadi bagian penting para flappers. Potongan ini, lagi-lagi, dianggap tepat dengan citra kuat dan mandiri kaum perempuan.


Sayang, citra bob sempat pudar akibat generasi flapper. Kebiasaan para flappers kongko di klab seraya merokok dan menenggak alkohol dianggap kebablasan.

Meski sempat pudar, rambut bob kembali berjaya pada masa-masa berikutnya. Film dan media berkontribusi dalam mempopulerkan kembali gaya rambut bob.

Pada akhir 1980-an, misalnya, sejumlah selebriti dan model perempuan beramai-ramai menghadirkan kembali tren rambut bob.

Beberapa klaim rambut bob yang tersohor pada periode ini berasal dari karakter fiksi Mia Wallace dalam film Pulp Fiction (1994) yang diperankan Uma Thurman. Poni pendek serta potongan rambut bob kian tegas dan seksi saat berpadu dengan tatapan tajam Thurman.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)