Ulasan Fashion

Transformasi Kepolosan Amish di 'Dunia Rumit' Hian Tjen

tim, CNN Indonesia | Kamis, 29/08/2019 14:49 WIB
Transformasi Kepolosan Amish di 'Dunia Rumit' Hian Tjen Gambaran sederhana nan bersahaja ala komunitas Amish benar-benar berbeda di tangan Hian Tjen. Amish tak lagi sederhana, penuh detail. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Satu dekade berkarya, satu dekade pula desainer Hian Tjen menenggelamkan diri dalam sesuatu yang rumit dan 'merepotkan'. Satu dekade lalu saat rekan-rekan sejawatnya khusyuk dengan busana siap pakai, dirinya malah memilih jalur couture alias adibusana.

Ini bukanlah perjalanan yang mudah. Namun semua dilakoni Hian dengan 'sempurna.' Kesempurnaan 10 tahunnya berkarya ini pun dituangkannya dalam sebuah pertunjukkan tunggal bertajuk 'Perfect10n'. 

Memasuki Dian Ballroom, Raffles Hotel Jakarta, Kuningan, Jakarta Selatan, hadirin disuguhi pemandangan bukit mini lengkap dengan ilalang khas musim gugur. Namun ini juga bisa dilihat sebagai lahan pertanian siap panen. Mengambil inspirasi dari The Amish, kelompok persekutuan gereja Kristen tradisional, tampaknya Hian Tjen ingin menghadirkan suasana ala Lancaster County, di Pennsylvania tenggara, wilayah mayoritas anggota komunitas tinggal. 


The Amish dikenal sebagai orang-orang yang hidup sederhana dengan pakaian serba polos dan menolak teknologi modern. Kehidupan mereka lekat dengan kehidupan pedesaan, penggunaan listrik serba terbatas dan bermuara pada hidup yang sesuai firman Tuhan. 


Bahkan, mengutip dari laman Amish America, gaya busana The Amish merefleksikan nilai kerendahan hari dan kesederhanaan. Busana komunitas nyaris tampak seragam dan polos sebagai simbol tradisional.

Akan tetapi, gambaran sederhana nan bersahaja ala The Amish benar-benar berbeda di tangan Hian Tjen. Amish tak lagi sederhana.

Koleksi gaya Amish Hian TjenFoto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma
Koleksi gaya Amish Hian Tjen

"Melalui lebih dari 50 look yang saya tampilkan dalam show kali ini, saya selalu berusaha memberikan keunikan dan otentisitas yang berbeda, melalui tingkat kerumitan dan teknik pengerjaan yang berbeda pada setiap karya," kata Hian Tjen dalam pernyataan resminya.

Tetap dengan sentuhan femininnya, dia menghadirkan dress bersiluet longgar maupun body con. Konsep mix and match antara rok, atasan, jumpsuit maupun outer atau luaran. Hian Tjen mengadaptasi warna-warna The Amish yang serba 'plain' seperti broken white, krem, abu-abu, hijau lumut dan nude. Meski demikian, ia tetap memasukkan warna merah yang cenderung 'galak'. Tak lupa dia juga menyematkan 'celemek' dan bonnet atau penutup kepala.


Seakan ingin menaikkan level busana The Amish, Hian Tjen menyematkan detail yang kaya seperti emboridery (bordir), quilting (teknik penyatuan potongan kain), beadings (manik-manik), pleats (lipit), dan cross-stitch (tusuk silang atau kruistik). Detail-detail ini menghiasi busana di bagian tertentu misalnya leher, garis dada atau bagian ujung busana. Tak hanya itu, lewat detail pula Hian Tjen seperti ingin menyampaikan cara hidup The Amish. Lewat bordir, manik dan kruistik, beberapa busana menampilkan bentuk motif pedesaan, rumah lengkap dengan kuda yang menggambarkan cara hidup Amish di negar asalnya.

Koleksi ini tentunya agak sedikit berbeda dengan imajinasi adibusan yang dianggap terlihat rumit dan 'berat.' Tak seperti citra adibusana yang serba berat, busana-busana kaya detail koleksi Hian Tjen tak memberikan kesan demikian. 

Tak sekadar bermain dengan detail, dia pun menyediakan diri untuk bermain dengan bahan. Desainer asal Kalimantan Barat ini memanfaatkan bahan-bahan antara lain lyon lace, tulle, wool, dan jacquard. Bahan-bahan ini pun mau tak mau memberikan busana karakter tersendiri. Penggunaan lace dan tulle memberikan kesan seksi sedangkan bahan jacquard mampu memberikan kesan independen dan kuat. 

Koleksi Hian Tjen yang terinspirasi dari kaum AmishFoto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma
Koleksi Hian Tjen yang terinspirasi dari kaum Amish

Hian Tjen menerjemahkan The Amish dalam dunia modern. Dia pun tak segan mengawinkannya dengan gaya busana era 1890-an. Tengok saja look-look yang mengadopsi lengan balon alias puffed-sleeve. Lengan dibuat menggembung tetapi pada bagian tangan dibuat menyempit hingga bagian pergelangan. Pada masa itu, puffed sleeve tidak menggambarkan kasta si pemakai. Perempuan dari berbagai kalangan mengenakannya meski bahan yang mereka pakai berbeda.

Selain itu, dia pun mengadopsi korset. Elemen busana yang populer di abad 16 ini menghiasi beberapa look busana tak hanya pada dress tetapi juga pada jumpsuit. The Amish di tangan Hian Tjen cukup 'gila' berkat perkawinan gaya busananya.  

Hian TjenFoto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma
Hian Tjen
(els/chs)