Wisata 'Bugil' di Kroasia, Dilarang Nazi Disukai Raja Inggris

CNN Indonesia | Kamis, 29/08/2019 17:09 WIB
Wisata 'Bugil' di Kroasia, Dilarang Nazi Disukai Raja Inggris Pemandangan kota Dubrovnik di Kroasia. (Istockphoto/IgorP1976)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagai pelopor awal nudisme, pesisir Adriatik di Kroasia yang indah memiliki sejarah panjang mengenai budaya "wisata telanjang dada".

Saat ini kaum naturis di sana sedang berjuang mempopulerkan kembali idealisme nudisme di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata Kroasia.

"Bagi saya nudisme adalah kebebasan," kata Dusan Salomon, turis asal Slovenia yang sering mengunjungi kamp naturis terbesar Kroasia bersama istrinya selama hampir 50 tahun terakhir.



Pria berusia 65 tahun yang tinggal di Jerman itu juga bercanda bahwa wisata ala naturis sangat hemat karena mereka tak perlu membeli pakaian renang.

"Semua orang merasa lebih bebas dan apa adanya di sini," tambah istrinya Katarina.

Pasangan itu menganggap diri mereka beruntung karena anak perempuan dan cucunya yang kini berusia 20 tahun bisa bergabung dengan mereka selama musim panas di Koversada, area wisata kaum naturis di semenanjung Istria, barat laut Kroasia.

Sebagian besar pengunjung kamp itu berusia di atas 40 tahun.

"Bagi generasi muda nudisme sama sekali tidak menarik, seperti halnya orang tua mereka," kata Nenad Skuflic, manajer area Koversada.

Di kamp, yang memiliki hutan pinus seluas sekitar 100 hektare, para tamu biasanya telanjang saat berjalan-jalan, berolahraga, atau naik sepeda.

Tetapi mereka diminta untuk berpakaian lengkap saat berada di restoran atau toko.

Koversada berkapasitas 5.000 orang yang bisa memilih bermalam di tenda, mobil trailer, sampai apartemen.

Namun itu jauh berbeda dengan suasana pada 1980-an, ketika 15 ribu tamu datang setiap musim panas.


Hari-hari kejayaan

Koversada dibuka pada tahun 1961 sebagai kamp naturis komersial pertama di Eropa.

Tetapi kisah nudisme Kroasia berawal dari tahun 1930-an di utara pulau Rab.

Di perairan biru kehijauan itulah Raja Edward VIII dari Inggris dan calon istrinya, sosialita Amerika Wallis Simpson, sering berenang sambil telanjang pada tahun 1936.

"Semua surat kabar utama Eropa membahas hal itu, itu adalah promosi besar untuk nudisme yang darinya kami mendapat untung besar," kata Jerko Sladoljev, yang mendirikan asosiasi perkemahan negara dan sebelumnya memimpin Badan Pariwisata Istria.

Seorang profesor Austria pada tahun 1934 membuka kamp naturis Kroasia yang pertama di Pulau Istria sebagai tanggapan terhadap pemerintahan Nazi yang melarang budaya "membebaskan tubuh" di Jerman, yang dianggap sebagai tempat lahirnya gerakan naturis.

Kebijakan itu membuat naturis berbondong-bondong ke pantai Kroasia, yang sempat menjadi bagian dari Yugoslavia.

Meskipun sebagian besar penduduknya beragama Katolik, Kroasia lebih toleran terhadap nudisme, tak seperti negara-negara Katolik lainnya seperti Italia atau Spanyol yang membatasi nudisme.

Selain itu gereja Kroasia tidak memberi banyak pengaruh di bawah komunisme.

Pada pertengahan 1980-an, Kroasia memiliki 34 kamp nudis, memimpin pasar "wisata telanjang dada" bersama dengan Prancis dan Jerman.

Hari ini jumlahnya turun menjadi sembilan.

'Butik nudisme'

Penurunan jumlah naturis di Kroasia dimulai pada akhir 1980-an, setelah negara-negara Eropa lainnya seperti Italia dan Spanyol, mulai membuka area wisata naturis pertama mereka. Di tahun yang sama budaya nudisme dianggap tak menarik.

Perang kemerdekaan 1990-an menghantam pariwisata Kroasia, meskipun para nudis yang setia tetap ramai berdatangan ke Istria.

Industri wisata nudisme di Kroasia kini telah kembali pulih, tetapi fokusnya tetap pada apa yang disebut "kamp tekstil" di mana orang-orang tetap menggunakan baju mereka.

Para ahli percaya bahwa masa depan naturisme Kroasia sekarang terletak pada area kecil nan kekinian yang dijalankan oleh para kaum nudis dibanding yang dioperasikan oleh perusahaan besar.

"Area wisata berupa 'butik naturisme' dengan kamp-kamp kecil atau pemukiman apartemen, yang dikelola secara pribadi, yang dapat membuat penawaran baru, bisa menjadi kebangkitan pasar nudisme," kata Sladoljev.

Dalam upaya untuk tetap relevan, kamp nudist lain di Istria, Valalta, baru-baru ini membangun apartemen, pantai, dan objek wisata untuk anak-anak.

Sejak 2013, setiap tahunnya kota ini dinobatkan sebagai salah satu tempat perkemahan terbaik di Eropa oleh klub mobil terbesar Jerman, ADAC.

Untuk meningkatkan peringkat mereka, para naturis Kroasia memiliki kolam besar yang menjadi magnet kedatangan kaum nudis, yang jumlahnya pada tahun lalu hampir 19 juta.

Hanya sekitar 300 ribu dari mereka nudis - kebanyakan berasal dari Jerman, Slovenia, Austria, dan Belanda - menurut perkiraan.

Sekitar 10 persen turis itu diyakini kadang-kadang berenang telanjang, baik di pantai resmi nudis atau situs "liar" terpencil.

(AFP/ard)