Kesuburan Menurun, Korea Selatan Kekurangan Generasi Penerus

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 30/08/2019 05:12 WIB
Kesuburan Menurun, Korea Selatan Kekurangan Generasi Penerus Korea Selatan mengalami masalah kesuburan yang menurun. (Foto: mario0107/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di tengah gegap gempita dunia K-Pop, Korea Selatan mengalami masalah kesuburan yang menurun. Tingkat kesuburan penduduk Korea Selatan menjadi salah satu yang terendah di dunia.

Tingkat kesuburan adalah angka rata-rata jumlah anak yang akan dimiliki seorang perempuan dalam hidupnya. Pemerintah Korea Selatan mengumumkan, tingkat kesuburan pada tahun lalu menempati posisi paling rendah sepanjang masa.

Pada 2018, tingkat kesuburan di Korea Selatan turun menjadi 0,98 dari tahun sebelumnya 1,05. Artinya, perempuan di Korea Selatan melahirkan kurang dari satu bayi selama hidup mereka, yang artinya banyak yang tidak memiliki anak. Padahal, untuk mempertahankan populasi yang stabil, setiap negara membutuhkan tingkat kesuburan di angka 2.



Tingkat kesuburan ini juga memengaruhi jumlah bayi yang lahir pada tahun 2018, yaitu 8,7 persen lebih sedikit ketimbang tahun 2017.

Di Korea, bukan hanya kesuburan yang menjadi masalah, tingkat kematian pada tahun 2017 juga mencapai rekor tertinggi. Sementara itu, populasi di Korea Selatan terus menua. Untuk pertama kalinya, jumlah orang yang berusia di atas 65 tahun melampaui jumlah anak berusia 0-14 tahun.

Rekor ini membuat Korea Selatan masuk dalam negara dengan tingkat kesuburan paling rendah di dunia. Bahkan, tingkat kesuburan ini lebih rendah ketimbang Jepang yang sedang berjuang melawan ketidaksuburan. Pada tahun lalu, tingkat kesuburan Jepang berada di angka 1,42.


Dikutip dari CNN, alasan terbesar menurunnya kesuburan masyarakat Korea Setan adalah tuntutan budaya kerja dan uang. Membuat orang sulit menyeimbangkan karier dan keluarga. Termasuk juga kecenderungan perempuan dan laki-laki Korea yang lebih memilih untuk menunda pernikahan.

Pada 2018, mayoritas warga Korea Selatan yang berusia 20 hingga 44 tahun didapati masih lajang. Banyak dari pemuda Korea Selatan yang mengatakan mereka tidak punya waktu, uang, atau kapasitas emosional untuk berkencan apalagi menikah.

[Gambas:Video CNN] (ptj/ayk)