Ragam 'Boba' ala Resep Nusantara

Tim, CNN Indonesia | Minggu, 08/09/2019 15:19 WIB
Ragam 'Boba' ala Resep Nusantara Es cendol tak kalah segar ketimbang minuman boba kekinian. Foto: Istockphoto/eriyalim
Jakarta, CNN Indonesia -- Taiwan boleh menjadi negara yang pertama kali memperkenalkan bola-bola boba dalam segelas minuman bernama bubble tea. Namun, Indonesia juga memiliki ragam 'boba' hasil warisan kuliner nusantara. Berikut boba-boba ala nusantara yang memiliki cita rasa yang kaya.

1. Sagu mutiara

Pacar cina atau sagu mutiara merupakan boba nusantara versi mini. Sagu mutiara terbuat dari tepung tapioka yang dibentuk menjadi butiran-butiran kecil. Untuk menambah selera, sagu mutiara tampil dalam beragam warna, seperti putih, merah muda, serta hijau muda.


Sagu mutiara umumnya tidak memiliki bau maupun rasa. Sebab ia akan menjadi campuran dalam kudapan sirup gula. Di Indonesia, sagu mutiara dijadikan pelengkap dalam olahan kolak, bubur manis, es campur, kue-kue, hingga minuman manis.

Salah satu kue tradisional yang memainkan warna warni sagu mutiara ialah awug-awug. Kudapan asal Bogor, Jawa Barat tersebut terbuat dari campuran sagu mutiara dan kelapa, kemudian dibungkus daun pisang. Mirip dengan awug-awug, di Sulawesi Selatan juga terdapat kudapan Barongko Mutiara. Bahan utamanya sagu mutiara dan kelapa parut yang dikukus dengan daun pisang.

Di Malang, Jawa Timur terdapat wedang angsle alias wedang ronde. Wedang angsle menggunakan campuran kacang hijau, beras ketan putih dan sagu mutiara. Bedanya dengan wedang ronde, kuah angsle menggunakan santan.

2. Biji Salak

Biji salak paling mudah ditemui sepanjang bulan puasa. Biasanya biji salak disantap bersama kuah santan dan gula kelapa.

Biji salak merupakan kudapan milik orang Betawi. Terbuat dari dari ubi jalar yang dicampur dengan tepung tapioka, kemudian direbus sehingga memiliki tekstur empuk dan kenyal.

Warna pada biji salak tergantung dari ubi yang digunakan. Sehingga biji salak bisa berwarna oranye atau ungu. Selain memberi warna, ubi juga menyumbang rasa manis alami untuk biji salak.

3. Candil

Jika Jakarta punya biji salak, maka sejumlah daerah di Pulau Jawa punya candil. Candil juga memiliki bentuk bulat seperti biji salak, tetapi candil terbuat dari tepung beras ketan. Tekstur candil lebih kenyal dan agak lebih keras ketimbang biji salak.

Biasanya candil disajikan bersama bubur sumsum sehingga banyak yang menyebut sebagai bubur candil. Di Jawa Tengah, candil kerap disajikan bersama bubur sumsum, bubur ketan, kuah santan dan gula kelapa.

4. Kolang kaling

Kolang kaling merupakan buah dari tanaman aren atau enau. Bentuknya lonjong dan berwarna putih nyaris bening. Kolang kaling bertekstur agak keras dan sedikit kenyal. Setelah diolah, kolang kaling bisa disajikan dalam bentuk utuh atau potongan-potongan kecil.

Kolang kaling biasa dimanfaatkan sebagai pelengkap makanan atau minuman. Pada makanan, biasanya kolang kaling ditemui pada kolak atau puding.

Sedangkan untuk minuman, irisan kolang kaling biasa ditemui pada wedang ronde, bajigur, es buah, dan es campur. Kolang kaling sendiri bisa disantap tanpa harus jadi pelengkap, misalnya dengan diolah menjadi manisan. Untuk menambah selera, manisan kolang kaling biasanya diberi pewarna makanan merah muda atau hijau muda.

5. Cendol

Es cendol tak kalah menyegarkan dari bubble tea. Cendol biasanya berbentuk memanjang dan terbuat dari tepung beras. Teksturnya lembut sehingga mudah dikunyah dan dicerna.

Menurut pakar kuliner dan pangan Universitas Gadjah Mada Mudijati Gardjito, cendol berasal dari Pulau Jawa. Istilah cendol digunakan pertama kali oleh masyarakat Sunda, karena pada saat dicetak, adonan akan muncul dari lubang yang disebut 'jendol'. Perlahan istilah cendol pun muncul. Sedangkan di Jawa Tengah dan Jawa Timur, cendol biasa disebut dawet.

Cendol disajikan bersama dengan santan, gula kelapa, dan es. Beberapa versi minuman cendol kini telah hadir, seperti es cendol nangka dan es cendol durian. (els/ayk)




BACA JUGA