Taj Mahal Berencana Dibuka Lebih Malam

CNN Indonesia | Rabu, 11/09/2019 17:04 WIB
Taj Mahal Berencana Dibuka Lebih Malam Taj Mahal di India. (Plixs/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Taj Mahal menjadi objek wisata paling populer di India. Bangunan bukti cinta raja dan istrinya ini dikunjungi 22 ribu sampai 50 ribu orang per hari. Antre panjang? Sudah pasti.

Menaikkan harga tiket masuk dan membatasi durasi berkunjung menjadi maksimal tiga jam per orang sudah dilakukan semenjak beberapa bulan yang lalu, demi menekan jumlah pengunjung.

Selama peraturan baru itu diterapkan, pengelola menemukan fakta bahwa pengunjung lebih banyak datang menjelang senja untuk menikmati pemandangan matahari terbit.



Oleh karena itu saat ini pengelola berencana untuk membuka pintu Taj Mahal lebih malam demi menampung antusiasme pengunjung.

Dikutip dari Lonely Planet pada Rabu (11/9), Taj Mahal bakal buka lebih malam selama lima hari dalam sebulan. Saat masa tersebut, hanya 400 orang yang diizinkan masuk.

"Kami mendapat banyak permintaan untuk membuka Taj Mahal lebih malam. Kami ingin mewujudkan permintaan pengunjung," kata Menteri Pariwisata dan Kebudayaan India, Prahlad Singh Patel.

Selain Taj Mahal, nantinya sembilan objek wisata populer di India juga akan diterapkan peraturan serupa, sejalan dengan kampanye wisata 'Incredible India'.

Area Taj Mahal juga akan dihiasi oleh banyak lampu sehingga suasana malam tak kalah indah dengan siang hari.


Hingga saat berita ini ditulis, belum diketahui lebih lanjut mengenai jadwal baru Taj Mahal yang bakal buka lebih malam.

Tiket masuk Taj Mahal untuk penduduk India yang awalnya seharga 50 rupee (sekitar Rp10 ribu) kini menjadi 250 rupee (sekitar Rp50 ribu) per orang.

Sementara itu harga tiket masuk untuk turis mancanegara naik menjadi US$19 (sekitar Rp277 ribu) dari harga awal US$16 (sekitar Rp234 ribu) per orang.

"Kami menaikkan harga tiket untuk membatasi jumlah kunjungan," kata seorang pejabat dari Survei Arkeologi India, badan yang bertanggung jawab untuk pemeliharaan bangunan UNESCO itu, seperti yang dikutip dari AFP pada Selasa (11/12).

"Langkah ini akan mengurangi jumlah pengunjung sekitar 15-20 persen sekaligus meningkatkan pendapatan untuk pelestariannya," lanjutnya.

(ard/ard)