Ekowisata 'Bird Watching' di Papua Gandeng Suku Adat

CNN Indonesia | Kamis, 12/09/2019 14:50 WIB
Ekowisata 'Bird Watching' di Papua Gandeng Suku Adat Burung Cendrawasih. (Dok. Biro Komunikasi Publik Kementerian Pariwisata)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengelola ekowisata pengamatan burung (bird watching) , Alex Waisimon, mengatakan ekowisata atau kegiatan wisata yang berwawasan lingkungan sangat penting dalam upaya melindungi hutan dari kerusakan.

Ia mengemukakan melalui ekowisata turis bisa melakukan kegiatan wisata tanpa merusak hutan.

Ekowisata juga memiliki pengaruh besar bagi kehidupan dan perekonomian masyarakat adat setempat.



"Saya katakan sangat penting ketika ekowisata tumbuh di tanah Papua. Jadi kita bisa melindungi hutan," katanya dalam acara Mari Cerita Papua (MaCe) Papua bertajuk 'Cendrawasih: Ekoturisme dan Perlindungan Hutan Papua' yang diadakan di Kuningan, Jakarta, Rabu (11/9).

"Karena banyak yang diuntungkan dari ekowisata. Mulai dari penjual buah, sayur-sayuran, pemilik pertokoan dan lainnya," lanjutnya.

Menurut dia, pemerintah perlu mendorong pelaku usaha mengoperasikan lebih banyak ekowisata yang sesuai dengan karakter budaya suatu destinasi.

Kegiatan wisata yang mampu memberdayakan karakter sosial, budaya dan ekonomi masyarakat Papua dirasa Alex lebih penting dibandingkan mengembangkan perkebunan kelapa sawit.


"Saya pikir kelapa sawit tidak menguntungkan bagi masyarakat asli Papua karena mereka tidak bisa mengelolanya. Diajarin tanam padi juga tidak bisa. Jadi beda karakteristiknya," ujarnya.

"Pemerintah harus dorong itu dengan serius sehingga negara bisa lebih maju dan tidak hanya dinikmati oleh orang-orang tertentu," tambahnya.

Salah satu yang dikembangkan Alex dalam pelestarian hutan ialah ekowisata pengamatan cenderawasih yang merupakan burung khas di Papua.

Ekowisata bird watching yang ia kembangkan melibatkan 16 suku di wilayah seluas sekitar 19 ribu hektar yang akan dijadikan hutan konservasi.

Di daerah tersebut, kegiatan ekowisata lain yang ia kembangkan di antaranya pendakian, kayak di kali dan juga pengamatan pohon langka.

"Ada banyak pohon-pohon langka yang usianya 600-700 tahun di dalam," ujarnya.

(ANTARA/ard)