Konseling Pranikah, Solusi Kurangi Risiko KDRT

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 18/09/2019 16:54 WIB
Konseling Pranikah, Solusi Kurangi Risiko KDRT Ilustrasi. Konseling pranikah membantu pasangan lebih siap menjalani kehidupan berumah tangga. (Foto: Takmeomeo/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Belum lama ini media sosial dihebohkan dengan unggahan penyanyi dan penulis asal Indonesia, Tiga Setia Gara Tolley. Dia mengaku mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Amerika Serikat dan ingin kembali ke Indonesia.

Setahun belakangan, dirinya kerap mengalami kekerasan. Yang cukup parah, lutut Tiga cedera hingga harus dioperasi. Menanggapi suara netizen, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Chicago mencoba menghubungi Tiga dan memastikan dia berada di Dayton, Ohio.

[Gambas:Instagram]


Menanggapi kasus ini, psikolog Mira Amir setuju bila pernikahan memang tak bisa lepas dari konflik. "Kemarahan pasti ada, tapi gimana kita bisa mengarah pada yang sehat dan efektif," kata Mira pada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Selasa (17/9).


Mira berpendapat KDRT tidak terjadi secara tiba-tiba. Kekerasan kerap diawali dengan konflik atau cekcok mulut berkepanjangan. Selama dirinya bertemu dengan pasangan dalam konseling pernikahan, penyebab KDRT bisa sangat beragam dan bisa saja situasional.

KDRT bisa terjadi karena suami atau istri kurang matang secara emosional, bisa juga karena masalah ekonomi, atau rasa frustasi. KDRT, kata dia, tidak berdiri sendiri, selalu ada yang melatarbelakangi.

"Idealnya dilakukan konseling pranikah untuk mengetahui karakter kepribadian, mengenal situasi yang berpotensi timbulkan masalah, latar belakang keluarga pasangan, isu-isu dalam keluarganya," jelas Mira.

Saat konflik timbul, pasangan bisa berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk menilai atau memeriksa bagaimana risiko KDRT bisa timbul misal manajemen konflik masih rendah, perbedaan budaya, atau pasangan kurang mendapat kasih sayang dari keluarga.

Berkaca dari pengalaman Tiga, konflik rumah tangga beda kewarganegaraan biasanya terjadi karena perbedaan cara mengatasi konflik akibat perbedaan budaya. Mira memberikan contoh, di budaya Barat, anak sudah bisa berjalan biasanya sudah tidur di kamar sendiri. Sedangkan budaya Indonesia, anak masih tidur bersama orang tua bahkan ketika dia sudah sekolah.

Belum lagi pola keuangan orang Indonesia kadang tidak sama dengan budaya barat. Misal memberikan bantuan uang untuk orang tua, kakak atau saudara dianggap biasa untuk orang Indonesia, tetapi belum tentu bagi budaya barat.


"Kenapa sih musti ngasih uang ke ibumu? Saudara perempuan juga? Nah ini kan di sana tidak seperti itu, apalagi kalau saudara perempuan punya suami. Orang Barat menganggap tindakan ini seperti merendahkan suami saudaranya," paparnya.

Perbedaan-perbedaan itulah yang perlu dicari solusinya sebelum memasuki jenjang pernikahan. Sehingga risiko munculnya konflik hingga KDRT akibat perbedaan bisa dikurangi. (els/ayk)