Menguji Kenyamanan Kereta Bandara versus Bus Damri

CNN Indonesia | Sabtu, 21/09/2019 13:54 WIB
Menguji Kenyamanan Kereta Bandara versus Bus Damri Bandara Internasional Soekarno Hatta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Angkutan umum bisa jadi pilihan bagi yang malas keluar uang banyak naik taksi atau bayar parkir mahal di Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta). Dua yang populer di kalangan masyarakat ialah Kereta Api Bandara dan Bus Damri.

Namun butuh pertimbangan matang untuk memilih naik moda transportasi ini. 

Kereta Api Bandara


Menguji Kenyamanan Kereta Bandara versus Bus DamriKereta Bandara. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Penumpang dapat naik Kereta Bandara dari Stasiun Bandara BNI City yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Rute kereta ini melewati beberapa stasiun, di antaranya Stasiun BNI City, Stasiun Duri, Stasiun Batu Ceper dan destinasi terakhir yaitu Stasiun Soetta.

Waktu keberangkatan Kereta Api Bandara setiap 30 menit sekali. Perjalanan pertama mulai pukul 05.21 WIB dan perjalanan terakhir pada pukul 21.21 WIB.

Tarif sekali jalan yaitu Rp 70 ribu dari Stasiun BNI City ke Soetta. Pembelian tiket melalui mesin tiket otomatis yang tersedia di stasiun. Pembayaran dapat menggunakan kartu ATM dari bank apapun.

Perjalanan dari Stasiun BNI City ke Soetta menempuh waktu sekitar 50 menit. Sepanjang perjalanan penumpang bisa duduk manis di kursi empuk sambil mengisi daya baterai dan menikmati WiFi gratis. Pendingin udara pun sepoi-sepoi bertiup.

Setibanya di Stasiun Soetta, penumpang dapat melanjutkan naik kereta layang menuju terminal 1, 2 dan 3. Kereta layang ini gratis tanpa ada tiket tambahan.

Kereta layang yang tidak terlalu penuh membuat suasana tertib dan cukup nyaman. Jarak antar kursi penumpang pun longgar dan bersih.

Sekitar sepuluh menit perjalanan dari Stasiun Bandara ke Terminal 1, 2, dan 3. Penumpang tak harus menunggu lama untuk naik kereta layang ini. Kereta layang ini datang setiap lima menit sekali.

Bus Damri

Menguji Kenyamanan Kereta Bandara versus Bus DamriBus Damri. (Dok. DAMRI)

Tidak hanya Kereta Api Bandara, Bus Damri juga dapat menjadi alternatif untuk berpergian dari dan ke Soetta.

Dari Soetta, Bus Damri bisa ditumpangi dari setiap terminal kedatangan. Di luar bandara, bus ini ada di setiap terminal bus dan punya pemberhentian di beberapa halte bus.

Di bandara, pembelian tiket dapat dilakukan di mesin tiket otomatis yang tersedia. Tarif disesuaikan dengan destinasi tujuan. Untuk tujuan Terminal Blok M sekali jalan yaitu Rp 40 ribu.

Pembayaran tiket bus dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pembayaran di loket atau Link Aja.

Sedangkan jika berangkat dari terminal biasanya kenek akan menagih uang ke penumpang. Tapi kini sudah banyak kenek yang "dipersenjatai" oleh mesin gesek kartu uang elektronik.

Kesimpulan

Naik Kereta Api Bandara atau Bus Damri memang butuh pertimbangan matang. Dari hasil pengalaman tim CNNIndonesia.com yang mencoba dua moda transportasi tersebut pada pekan kemarin, dua pertimbangan yang paling utama ialah soal waktu tempuh dan banyaknya barang bawaan. 

Untuk Kereta Api Bandara, nilai plusnya ialah gerbongnya yang nyaman, terintegrasi dengan angkutan di dalam bandara, serta jadwalnya yang beragam

Tapi jangan lupa, untuk mencapai Stasiun BNI City juga butuh perjuangan karena area tersebut selalu macet di jam kerja, apalagi jika hujan turun.

Soal tempat penyimpanan barang bawaan juga terbatas, karena penumpang juga harus berbagi kompartemen dengan penumpang lainnya. 

Jadi kalau memilih naik Kereta Api Bandara, pastikan tidak sedang terbang di jam kerja atau membawa terlalu banyak barang bawaan.

Sedangkan untuk Bus Damri, minus yang pertama soal ketidakpastian jadwal keberangkatan, baik di terminal bus atau di terminal bandara. Hal ini membuat penumpang selalu deg-degan saat berangkat ke bandara dan terlanjur lelah menunggu saat hendak pulang dari bandara. 

Namun bus ini terintegerasi dengan Bus TransJakarta dan angkutan umum lainnya di luar bandara, sehingga penumpang tak perlu lagi naik atau turun di terminal bus. Tiketnya juga terbilang lebih murah dibandingkan Kereta Bandara.

Minus kedua soal interior busnya yang sudah ketinggalan zaman. Memang sudah banyak Bus Damri model baru, tapi masih ada saja bus dengan interior jadul yang beroperasi, terutama rute Terminal Blok M.

Meski demikian bus ini punya kompartemen barang yang luas di bagasi bawah. Menaikkan dan menurunkan barang bawaan juga dibantu oleh sang kenek.

Bus Damri juga masih mengusung sistem supir dan kenek, sehingga penumpang yang punya hobi pelor alias nempel molor tak perlu takut nyasar, karena kenek akan mencolek penumpang dua kali: saat menagih uang tiket dan saat sampai di terminal keberangkatan penumpang. 

(fio/ard)