Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Percobaan: Mencari 'Pertolongan Pertama' Kesehatan Jiwa

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 10/10/2019 20:34 WIB
Percobaan: Mencari 'Pertolongan Pertama' Kesehatan Jiwa Ilustrasi kesehatan mental. (PDPics/Hasmat Ali)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ke mana harus mencari 'pertolongan pertama' saat stres, kecemasan, kecanduan, suasana hati tak menentu, depresi, bullying, dan berbagai gangguan kesehatan mental lainnya menggerogoti tubuh?

Perkara-perkara itu barang kali sering dianggap sebagai masalah sepele yang tak masuk dalam kategori darurat. Namun, jika dibiarkan begitu saja dan tidak mendapatkan pertolongan, masalah gangguan mental itu dapat semakin parah bahkan hingga berujung bunuh diri.

Gangguan jiwa terutama skizofrenia, depresi, dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA) merupakan faktor pencetus bunuh diri. Data global menunjukkan 800 ribu orang meninggal karena bunuh diri setiap tahunnya setara dengan satu kematian tiap 40 detik.

Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, saya mencoba mencari sejumlah opsi perawatan karena depresi yang dikhawatirkan bisa mengarah pada gangguan kesehatan jiwa. Mulai dari menghubungi HRD di kantor, RSUD, dokter dalam layanan aplikasi daring, puskesmas, dan yayasan yang memberikan layanan konseling.

Hasilnya, beberapa memberi bantuan yang memuaskan dan mudah. Sementara rata-rata lainnya membutuhkan proses dan waktu yang agak lama untuk mendapatkan layanan psikologis.

Pertama, saya menghubungi HRD di kantor, menanyakan ketersediaan layanan psikolog. Sayang, tak ada layanan psikolog di tempat kerja. Namun, jika ingin berkonsultasi, HRD menyatakan siap membantu setiap karyawan. Mereka mengklaim bisa jadi teman ngobrol untuk karyawan yang ingin curhat masalahnya. 

Saya lalu mencoba menghubungi yayasan kesehatan jiwa, sejumlah layanan kesehatan, dan dokter online secara paralel.

Saya menghubungi sebuah yayasan yang fokus pada kejiwaan. Mereka meminta saya untuk mengisi formulir dan menunggu jadwal tatap muka yang waktunya belum diketahui. Diprediksi, kabar soal jadwal tatap muka akan muncul sekitar dua hingga empat pekan ke depan. 

Layanan konsultasi psikologi di sebuah universitas di Depok juga memiliki daftar tunggu hingga sebulan lamanya. Biaya konsultasi di yayasan dan layanan psikologi ini berkisar mulai dari Rp150 ribu hingga Rp250 ribu.

Ada pula layanan konsultasi online yang mengharuskan saya mengirim tulisan berisi masalah kesehatan jiwa. Namun, layanan itu juga mengharuskan saya menunggu jawaban hingga beberapa minggu.

Jadwal dan jawaban yang lama membuat saya tak jadi menggunakan jasa tersebut dan mencoba cara lain. Saya pun berpikir, ketika saya merasa depresi di saat ini, masakan saya harus menunggu atau menunda depresi sampai empat minggu ke depan?

Ilustrasi. Meski tersedia, namun mencari layanan psikologis bukan perkara mudah. (Jedidja/Pixabay)
Saya mencoba layanan berbicara dengan dokter di aplikasi online. Awalnya, saya diminta membuat akun dan memverifikasi nomor telepon. Setelah itu, fitur chat dengan dokter dapat digunakan. Saya memilih keahlian psikoterapi.

Di aplikasi itu, terdapat sejumlah psikolog yang sedang online dan siap menerima pesan singkat saya. Pengguna dapat melihat nama lengkap beserta gelar psikolog, dilengkapi dengan pendidikan, tempat praktik, dan nomor Surat Tanda Registrasi (STR).

Sebelum chat, pengguna diminta mengonfirmasi biaya yang harus dibayar. Rata-rata biaya yang dikeluarkan adalah Rp50 ribu untuk chat selama 30 menit. Kebetulan saat itu sedang ada promo sehingga saya bisa konseling online secara gratis.

Saat chatting, psikolog menanyakan masalah yang sedang dialami. Saya menceritakan masalah saya. Sang psikolog menggali lebih lanjut dengan menanyakan sejumlah pertanyaan secara online. 

Hanya saja, karena percakapan hanya dilakukan melalui chatting, komunikasi sering kali berlangsung lama. Saya mesti mencerna dan memikirkan jawaban dari pertanyaan psikolog lalu menuliskan dan mengirimkannya.

Saya harus menunggu beberapa waktu untuk bisa mendapatkan jawaban dari psikolog tersebut. Selama 15 menit pertama waktu digunakan untuk menggali masalah. Lima belas menit berikutnya, psikolog memberikan saran untuk mengatasi masalah yang saya hadapi.

Saya merasa tak begitu puas menceritakan masalah yang saya alami melalui chat dengan waktu 30 menit. Saya tak mengetahui raut muka atau pun gaya bicara psikolog saat memberikan saran. Saya merasa tak ada kontak emosional yang terjalin antara saya dan psikolog seperti yang terjadi saat saya bicara dengan orang yang duduk di sebelah saya. Sebuah tepukan halus di punggung tangan atau bahu, kontak mata, atau obrolan yang mengalir terasa berbeda ketika hanya terjalin secara online.

Menurut saya, ini merupakan faktor penting saat konsultasi masalah mental atau jiwa. Namun, untuk menanyakan hal-hal tertentu ketika belum bisa bertatap muka, chat online bisa jadi opsi tercepat

Karena belum puas, saya mengontak RSUD di Jakarta Selatan via telepon. Sayangnya, rumah sakit umum daerah itu tak punya dokter/psikiater/psikolog yang dapat menangani masalah mental. Alih-alih melayani, saya malah disarankan untuk mendatangi rumah sakit yang lebih besar di Jakarta Pusat.

"Masalah kejiwaan itu memiliki poli khusus. Kami tidak punya poli tersebut. Bisa coba ke RSUD di Jakarta Pusat," kata petugas melalui sambungan telepon.

Saya pun menghubungi sebuah RSUD di Jakarta Pusat. Rumah sakit itu memiliki layanan psikolog dan pskiatri. Layanan psikolog tersedia Senin hingga Jumat pukul 07.00 hingga 12.00 WIB. Layanan ini memiliki biaya yang akan ditentukan setelah konseling berdasarkan masalah dan lama waktu pembicaraan.

"Biasanya kurang dari Rp500 ribu, tanpa ditanggung BPJS Kesehatan," kata petugas RSUD tersebut.

Layanan psikiatri atau dokter spesialis kedokteran jiwa membuka layanan Senin hingga Sabtu tergantung jadwal praktik dokter. Layanan ini bisa menggunakan BPJS Kesehatan, namun harus dengan rujukan dari puskesmas. Ini berarti saya harus ke puskesmas dulu untuk berkonsultasi kejiwaan dan 

Saya juga mencoba menghubungi hotline yang tertera di Kementerian Kesehatan, Halo Kemkes 1500 567. Operator menanyai domisili dan mengarahkan saya untuk menghubungi layanan konsultasi terkait. Awalnya saya berpikir kalau layanan ini bisa membantu saya untuk konsultasi, namun kenyataannya, hotline ini hanya menjadi layanan untuk merujuk ke layanan rumah sakit terdekat.  Saya memberi tahu domisili di Jakarta Selatan.

Saya menghubungi nomor yang diberikan. Lewat sambungan telepon, saya berbicara dengan perawat jiwa yang saat itu sedang bertugas. Saya terhubung dengan salah satu rumah sakit di Bogor yang memiliki layanan psikologi online secara cuma-cuma.

Ilustrasi kesehatan mental. (Istockphoto/Zephyr18)

Via telepon, saya bercerita mengenai masalah yang sedang dihadapi. Perawat secara aktif menanyakan masalah dan memberikan solusi untuk menyelesaikannya.

Berbicara melalui telepon lebih baik ketimbang melalui chat karena respons lebih cepat. Saya hanya perlu menyiapkan pulsa untuk menelpon ke nomor tersebut. Jika diharuskan tatap muka, perawat mengatakan akan menyiapkan waktu dan hanya perlu membayar biaya UGD sekitar Rp70 ribu.

Namun, tanpa konsultasi tatap muka rasanya kurang puas. Saya pun menghubungi puskesmas di Mampang dan diminta langsung membuat janji dengan psikolog. Sayangnya, psikolog baru memiliki jadwal tiga minggu lagi.

Saya mencoba puskesmas lain di Pancoran. Saya juga diminta langsung membuat janji dengan psikolog. Saya dapat bertemu tatap muka dengan psikolog yang bertugas keesokan harinya. Lebih baik dibandingkan saya harus menunggu empat minggu ke depan. Keburu stres.

Saat tiba di puskesmas, saya melakukan pendaftaran di loket dan membayar Rp30 ribu untuk konsultasi selama satu jam. Biaya ini jauh lebih murah daripada layanan lain yang sudah dihubungi. Layanan ini belum ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Setelah itu, saya langsung masuk ke ruangan dan berkenalan santai dengan psikolog. Dia menanyakan masalah yang dihadapi dan menggali lebih lanjut permasalahan tersebut.

Saya yang notabene merupakan orang yang tertutup dibuat bercerita dengan nyaman melalui pertanyaan-pertanyaan psikolog itu. Mulai dari perasaan yang saya rasakan hingga hubungan keluarga pun ikut dikuliti untuk mendapatkan akar masalah. Saya merasa aman bercerita tanpa takut masalah terungkap atau justru diintimidasi.

Psikolog lalu menjelaskan kemungkinan-kemungkinan mengapa saya mengalami masalah tersebut. Dia juga memberikan banyak perbandingan dengan masalah yang dialaminya atau kisah orang lain.

Dia juga menjelaskan efek yang mungkin terjadi saat stres, misalnya. Bagaimana hubungan stres dengan kondisi fisik seperti sakit kepala, mual, hingga sulit tidur. Hubungan dengan pekerjaan dan orang lain juga ikut dipreteli.

Berdasarkan percakapan itu saya jadi memahami apa yang menyebabkan masalah dan efeknya terhadap kehidupan. Lima belas menit terakhir diisi dengan saran dan strategi yang harus dilakukan untuk mengurangi masalah dan gejala. Saya juga diminta melaporkan perkembangan.

Pertemuan secara langsung dengan psikolog dapat menolong Anda yang memiliki masalah dengan mental.

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis.


[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)