Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Depresi Jadi Penyakit Utama yang Menyerang Milenial

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 10/10/2019 12:40 WIB
Depresi Jadi Penyakit Utama yang Menyerang Milenial Ilustrasi. Depresi menjadi penyakit utama yang menyerang generasi milenial. (Jung Yeon-je / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Huru-hara yang luar biasa di zaman kiwari membuat gangguan mental dan emosi tak dapat dihindari generasi milenial. Survei terbaru menemukan gangguan mental menjadi penyakit utama yang dialami milenial.

Survei yang dilakukan oleh Blue Cross Blue Shield Association (BCBSA) melaporkan 10 kondisi kesehatan--psikis ataupun fisik--yang diderita generasi milenial.

"Generasi milenial tak lebih sehat dibandingkan generasi sebelumnya," ujar Vice President Medical Affair BCBSA, Vincent Nelson, melansir Healthline.


Milenial yang menginjak usia 34-36 tahun pada 2017 ditemukan 11 persen kurang sehat daripada generasi X berusia 34-36 tahun pada 2014. "Tantangan kesehatan meningkat di tengah kaum milenial dibanding generasi sebelumnya," kata Nelson.

Depresi, penyalahgunaan zat adiktif atau narkoba, dan alkohol menjadi tiga teratas gangguan yang menyerang milenial.

"Saat dikomparasikan pada data nasional setiap negara, milenial menjadi kelompok yang paling banyak menderita gangguan perilaku," ujar Nelson.

Psikolog Deborah Serani tak terkejut dengan hasil tersebut. Lingkungan sosial saat milenial tumbuh dewasa, sebut Serani, menjadi faktor utamanya.

Salah satunya adalah faktor teknologi. Milenial menjadi generasi pertama yang berkembang bersama teknologi.

Tak ada lagi kontak mata, obrolan intim antarsesama. "Kondisi ini membuat milenial sulit memahami pikiran dan perasaan mereka, ataupun orang lain," ujar Serani.

Kemunculan banyak media daring juga disebut memberikan pengaruhnya. Ledakan media yang hadir selama 24 jam melalui jaringan internet membuat mereka selalu tahu atas kabar-kabar teranyar dunia.

"Kabar soal terorisme, bencana alam, dan masih banyak lagi sangat mudah untuk diketahui," kata Serani. Hal itu diam-diam menimbulkan ketakutan pada diri milenial. Peristiwa-peristiwa itu meresap dalam diri, baik dengan menyaksikannya langsung ataupun dengan mengikuti euforia lini masa yang terjalin.

"Kabar-kabar itu membuat milenial merasa sudah tak ada lagi yang bisa diharapkan, hingga akhirnya membentuk rasa takut," jelas Serani.

Belum lagi faktor minimnya sentuhan hangat dari keluarga. Betapa tidak, milenial tumbuh dengan karakter orang tua yang selalu sibuk bekerja.

Hal-hal kecil seperti makan malam bersama di meja makan pun jarang dilakoni. Hal itu, kata Serani, membuat milenial menjadi pribadi yang soliter.

Gejolak emosi milenial pun kian memuncak saat tumbuh dewasa. Dunia kerja masa kini membuat mereka 'terpenjara'. Jam kerja yang sangat padat--bahkan hingga memangkas waktu akhir pekan--membuat mereka sulit menemukan waktu luang untuk merilis penat dan stres yang terbentuk selama sepekan beraktivitas.

"Jam kerja milenial yang juga kerap muncul di akhir pekan membuat mereka sulit memiliki waktu luang. Hal ini juga meningkatkan risiko gangguan emosi," jelas Serani.

Berikut 10 penyakit teratas yang paling banyak diderita milenial:

1. Depresi
2. Penyalahgunaan zat adiktif/narkoba
3. Penyalahgunaan alkohol
4. Hipertensi
5. Hiperaktif
6. Kondisi psikotik
7. Penyakit crohn atau peradangan pada sistem pencernaan
8. Kolesterol tinggi
9. Penyalahgunaan rokok
10. Diabetes tipe-2

Masalah depresi jangan dianggap enteng. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi itu, Anda disarankan menghubungi pihak yang bisa membantu, misalnya saja Komunitas Save Yourselves https://www.instagram.com/saveyourselves.id, Yayasan Sehat Mental Indonesia melalui akun Line @konseling.online, atau Tim Pijar Psikologi https://pijarpsikologi.org/konsulgratis.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)