Studi: Remaja Introver Lebih Berisiko Terkena Demensia

tim, CNN Indonesia | Minggu, 20/10/2019 09:23 WIB
Studi: Remaja Introver Lebih Berisiko Terkena Demensia Studi terbaru menunjukkan remaja yang introver lebih mungkin terkena demensia di masa tua dibandingkan remaja yang ekstrover.(BlueOlive/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepribadian ekstrover dan introver berhubungan dengan risiko penyakit demensia. Studi terbaru menunjukkan remaja yang introver lebih mungkin terkena demensia di masa tua dibandingkan remaja yang ekstrover.

Demensia merupakan penyakit yang berhubungan menurunnya fungsi kognitif, salah satunya adalah daya ingat.

Penelitian yang dipublikasikan di JAMA Psychiatri ini menganalisis data karakter lebih dari 80 ribu siswa sekolah menengah pada 1960-an. Data itu dibandingkan dengan hasil kesehatan mereka pada 50 tahun kemudian.


Hasilnya, remaja ekstrover yang diidentikkan dengan aktif secara fisik memiliki kemungkinan tujuh persen lebih kecil mengalami gangguan memori saat mereka berusia 70 tahun. Energi dan aktivitas fisik yang tinggi baik untuk kesehatan otak dan memori sehingga dapat mencegah demensia.


"Temuan-temuan di sini menggarisbawahi pentingnya mempertimbangkan keadaan sosial dan kepribadian awal kehidupan dalam mengevaluasi risiko demensia. Fenotip kepribadian mungkin merupakan faktor risiko independen untuk demensia pada usia 70 tahun," kata peneliti dari University of Rochester Medical Center Benjamin Chapman, dikutip dari Daily Mail.

Anak muda yang ekstrover juga cenderung memiliki kehidupan sosial yang lebih sibuk sehingga dapat mencegah mereka dari kesepian. Kesepian merupakan salah satu faktor risiko berkembangnya demensia.

Studi juga mendapati perilaku remaja yang tenang dan matang memiliki kemungkinan 10 persen lebih kecil terkena demensia di hari tua.Orang dengan perilaku yang tenang dinilai lebih siap secara fisiologis mengatasi stres. Stres juga merupakan salah satu faktor risiko yang mempercepat berkembangnya demensia.

Saat stres, tubuh mengeluarkan hormon kortisol yang mengganggu daya ingat.


Faktor sosial ekonomi juga ikut mempengaruhi risiko berkembangnya demensia. Remaja yang memiliki latar belakang sosial ekonomi yang tinggi lebih kecil kemungkinan terkena demensia.

Sebaliknya, remaja yang memiliki masalah keuangan, berurusan dengan masalah perumahan bakal mengganggu otak dan lebih mungkin terkena demensia. (ptj/chs)