Dilema Cinta di Ujung Jempol

CNN Indonesia | Senin, 11/11/2019 10:55 WIB
Dilema Cinta di Ujung Jempol Ilustrasi. Kehadiran aplikasi kencan online, pesan instan, dan media sosial membuat cinta bisa bersemi di mana saja dan kapan saja. (Istockphoto/Feverpitched)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah hampir setahun Cessa-bukan nama sebenarnya-menjalani kencan online bersama sang kekasih yang berada di Belanda. Meski tak pernah bertemu langsung, keduanya mesra.

"Awalnya, sih, enggak percaya sama online dating. Tapi, setiap hari ditanya lagi apa, ya, luluh juga," kata Cessa (34) seraya tertawa pada CNNIndonesia.com.

Keduanya dipertemukan melalui aplikasi kencan OkCupid. Tak dinyana, hubungan berlanjut, ungkapan cinta pun terlontar.


Romansa cinta hingga bercumbu mesra, semuanya dilakukan di dunia maya lewat chat atau telepon. Kalimat-kalimat cinta seperti 'I love you' lancar tersampaikan melalui koneksi internet.

Rencana bertemu jelas ada suatu saat nanti. Tapi, diam-diam Cessa menyimpan rasa takut. Dia takut jika si kekasih hati tak seperti yang dibayangkan.

"[Rasa takut] pasti ada. Takut kalau ternyata [pasangan] enggak sesuai ekspektasi," kata Cessa.

Namun, rasa takut tak lantas menghancurkan harapan Cessa. Baginya, apa yang tengah dijalani tak ubahnya sebuah komitmen.

"Sejak awal saya udah bilang kalau enggak pengin main-main, dan dia juga gitu. Jadi, kami memang mengarah ke married," kata Cessa.

Kisah Cessa dan kekasihnya merupakan satu dari banyak fenomena pacaran yang terajut di dunia maya. Era digital dengan kehadiran situs atau aplikasi kencan online, media sosial, dan aplikasi pesan instan memudahkan seseorang untuk berhubungan dengan orang lain di mana saja, kapan saja.


"Biasanya orang yang mencari kencan online tidak memiliki banyak waktu untuk bisa berkomunikasi dengan orang lain secara fisik. Teknologi mempermudah proses komunikasi itu," kata pengamat dan peneliti sosial vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Rasa kesepian yang tinggi dan sulit mencari pasangan di dunia nyata, membuat banyak orang beralih mencari pasangan maya.

Stres dan kesepian menjadi salah satu faktor banyaknya manusia-manusia di zaman kiwari yang beralih menjalin hubungan asmara di dunia maya. Tak heran jika bujuk rayu online langsung 'menghipnotis'.

"Dengan memberikan perhatian sedikit saja, rasanya sudah seperti terbang ke langit ke tujuh," tutur Devie.

Berhasil Atau Tidak?

Maraknya hubungan asmara yang terjalin secara daring menimbulkan banyak pertanyaan. Bisakah hubungan yang dijalani melangkah ke tahap yang lebih serius?

Konon, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Begitu pula dengan hubungan yang dijalin di dunia maya.

Ilustrasi. Rasa kesepian yang tinggi dan sulitnya mencari pasangan di dunia maya membuat banyak orang beralih mencari pacar di kencan online. (Istockphoto/Geber86)

Tak ada yang salah dengan menyebut seorang pria atau perempuan yang belum pernah ditemui sebagai 'pacar'. Jatuh cinta tanpa bertemu sah-sah saja.

"Wajar-wajar saja saat cinta bersemi melalui chatting," ujar psikolog Ayoe Sutomo, pada CNNIndonesia.com. Kebutuhan emosi yang terpenuhi dan interaksi yang intens membuat rasa nyaman dan cinta kemudian bersemi.

Komitmen juga jadi satu soal yang tak bisa dinafikan. Seperti Cessa, misalnya, yang menjalani hubungan serius bersama seseorang yang belum pernah ditemuinya.

"Komitmen mungkin saja terbentuk," kata Ayoe. Komitmen terbentuk melalui rasa percaya yang terbangun selama interaksi antara kedua insan terjalin.

Tak ada yang salah dengan komitmen yang terbentuk. Namun, komitmen itu harus divalidasi. "Dengan cara apa? Ya, bertemu," kata Ayoe.

Proses validasi komitmen-seperti dengan bertemu-membantu pasangan kekasih yang sebelumnya hanya berhubungan melalui koneksi internet untuk membangun fondasi hubungan yang kokoh.


Beda orang, beda cerita. Mangir (31) tak seperti Cessa. Hubungannya bersama seseorang yang ditemuinya di aplikasi kencan Tinder tak berjalan mulus sesuai harapan.

Alih-alih membangun fondasi hubungan yang kuat, pertemuan antara keduanya justru berujung nestapa. Lima bulan hubungan yang dijalin sia-sia.

"Mungkin karena saya terlalu berekspektasi, atau mungkin kepedean. Hahaha," kata Mangir berkisah pada CNNIndonesia.com.

Dunia maya dan dunia nyata seolah menjadi pembatas sikap si pria. Manis di dunia maya, menyebalkan di dunia nyata, begitu kata Mangir.

"Banyak sifat aslinya yang baru saya ketahui setelah bertemu," kata Mangir. Sial sudah, padahal sebelumnya Mangir berharap betul si pria kelak menjadikannya sebagai 'pelabuhan' cinta terakhirnya.

Menjalani hubungan secara daring memang terbilang mudah. Tak dibutuhkan usaha yang amat tinggi untuk menjalin cinta di dunia maya. Namun, dating coach Andrea Gunawan menilai, usaha yang kecil itu tak berbanding lurus dengan komitmen yang dijalani.


Kencan daring bersifat tak mengikat, sehingga seseorang yang menjalaninya bisa saja menghilang tanpa kabar atau populer dikenal dengan istilah 'ghosting'.

Komitmen yang belum muncul membuat kebanyakan orang yang menjalani hubungan secara daring enggan melangkah ke tahap yang lebih serius.

"Dari yang saya temui, kebanyakan mereka tidak memiliki komitmen dan punya masalah dengan mempercayai orang lain," ungkap Andrea.

Fear of missing out (FOMO) atau ketakutan akan kehilangan seseorang juga dinilai menjadi penyebab orang enggan berkomitmen dan betah berlama-lama menjalani kencan daring.

Orang yang menjalani pacaran daring diminta untuk berhati-hati agar tak selamanya terperangkap dalam cinta yang semu. Betapa tidak, pacaran yang dilakukan secara daring tak melibatkan seluruh pancaindra. Tak mudah mendeteksi emosi yang sebenarnya melalui chat.

"Kebanyakan orang hanya menginterpretasikan emosi dan berasumsi sendiri melalui chat yang diterima," ujar Devie.

Tulisan ini merupakan bagian dari fokus 'Jodoh Tinggal Swipe'.


[Gambas:Video CNN] (ptj/asr)