Love Story: 'Saya Ingin Punya Pacar'

Tim, CNN Indonesia | Senin, 11/11/2019 21:11 WIB
Love Story: 'Saya Ingin Punya Pacar' Ilustrasi. Meski sedikit membuat dahi mengernyit, tapi kencan online adalah hal yang nyata di zaman kiwari. (Istockphoto/Tero Vesalainen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Januari tahun lalu, usia saya menginjak 32 tahun. Usia 'rawan' bagi mereka yang masih melajang. Usia di mana tubuh hanya bisa merespons melalui senyuman tipis dengan bibir yang sedikit mencong dibarengi helaan napas saat pertanyaan 'kapan kawin' dilontarkan.

Suara gelas berdenting. Sekelompok pria muda-mungkin mahasiswa-saling mengadu gelas bir yang dipegangnya masing-masing. Suara 'ting' berbunyi saling bersusulan. Sesaat suara tawa terbahak-bahak terdengar nyaring di telinga.

Di satu sudut lain, sepasang kekasih saling menatap mesra. Jari jemari saling menggerayang di atas meja.

Saya? Duduk seorang diri di kursi paling sudut ruangan. Dengan dua botol bir di atas meja, saya mengasihani diri sendiri.

Jari jemari mengetuk layar gawai, mengumpat sebuah pesan yang baru saya baca. "Sorry, gue kayaknya lagi-lagi enggak bisa nyusul. Kasihan istri sendirian di rumah. Haha."

Baru saja tiga bulan dia-seorang kawan terdekat yang selalu menemani saya-mengarungi bahtera rumah tangga. Tapi, rasanya saya seperti sudah ditinggal hitungan tahun. Apa daya, manisnya masa-masa awal pernikahan mungkin lebih menggiurkan baginya.

Lama-lama saya bosan. Saya kesepian. Saya ingin punya kekasih.

Tinder. Kata itu terngiang dalam benak. Pada makan siang sebelumnya, beberapa kawan kantor sibuk berbagi pengalaman menggunakannya.

Sambil meresapi kesepian, saya kemudian berpikir, apa salahnya mencoba Tinder?

Iseng-iseng berhadiah, saya mulai bermain-main dengan Tinder.

"Arkham 32

Senin-Jumat menjadi pekerja kantoran, Sabtu-Minggu menjadi tunaasmara. Tak tampan-tampan amat, tapi ingin bahagia."

Saya menyeringai, mengejek diri sendiri.

Tak ada yang terlalu menarik hati pada awalnya. Geser kanan, kiri, kanan, kiri lagi, dan begitu seterusnya. Membosankan, laung saya dalam benak.

Beberapa berhasil match. Tapi, saya baru tahu, bahwa match tak menjamin kecocokan. Asal match saja, belum tentu obrolan berlanjut, sebagaimana yang saya alami.

Pada suatu sore yang cerah, bertemankan Bella kucing betina kesayangan, saya kembali 'memburu' perempuan di Tinder. Sepotong potret hitam putih seorang perempuan tiba-tiba 'menyerang optik'. Sungguh distraksi yang apik.

Usianya 30 dengan nama-sebut saja-Mera. Dia hanya berjarak lima kilometer dari tempat saya meringkuk. Lantas, saya geser layar ke kanan.

Match!

"Hahaha. Tunaasmara!" sapa Mera. Dia menertawakan saya, atau mungkin dia dibuat penasaran? Saya gaspol. Bertanya basi-basi selayaknya orang berkenalan. Obrolan menerus, menemani sore yang cerah. Sontak setembang "On the Sunny Side of the Streets" dari Billie Holiday melantun dengan manis.

Mera tak tinggal di Jakarta. Dia hanya singgah sementara mengunjungi sanak saudara di Kota Metropolitan. Sehari-hari Mera tinggal di Kuta, Bali.

Obrolan kami berjalan lancar. Tak ada yang cacat rasanya. Satu bulan pertama hidup saya nyaris hanya terbatas pada layar gawai dan aplikasi kencan.

Di bulan selanjutnya, saya memberanikan diri bertanya nomor ponsel pribadinya. Maksud hati ingin berbincang-bincang dalam saluran yang lebih intim. Setidaknya, WhatsApp.

Berhasil! Mera memberikan nomornya.

Tak berbeda, semua juga berjalan lancar. Hingga perlahan, saya jatuh cinta. Sebentar! Jatuh cinta? Duh, bagaimana bisa saya jatuh cinta dalam waktu sesingkat ini? Melihat parasnya secara langsung pun belum.

Mera memberikan segenap perhatiannya. Saat saya jatuh sakit, Mera mengirimkan rekomendasi obat-obat herbal yang bisa saya minum. Saat saya pusing dengan pekerjaan kantor, Mera mengirimkan foto wajahnya yang berpulas makeup berlebih hingga tampak seperti badut. Saat saya bosan tak ada kerjaan di akhir pekan, Mera bertanya, 'Mau aku telepon?'.

Jika hidup saya adalah sebuah tangan dengan jari kelingking yang lumpuh, Mera adalah obat yang bisa memperbaiki kelumpuhan dan melengkapi kembali jari jemari yang sebelumnya tak sempurna.

Ilustrasi kencan online. (Istockphoto/Martin-dm)

Beberapa teman dekat menuding saya sedang berfantasi. Delusi, kata mereka.

Mereka bisa saja bicara demikian. Toh, kehidupan mereka sudah selayaknya jari jemari yang sempurna dengan keberadaan istri, suami, dan bayi kecil yang menangis gemas. Sementara saya? Melajang tanpa tahu akan ke mana.

Sebagian diri saya berpikir bahwa ini hanya lah sebentuk ego dari kesepian yang mendera. Hubungan dengan Mera tak ubahnya jalan pintas melawan kesepian. Saya mungkin tak mampu menghadapi emosi diri.

Jika mereka--teman-teman dekat--tak percaya bahwa cinta bisa bersemi hanya melalui koneksi internet, begitu pula dengan saya.

Tapi, saya tak bisa menampik bahwa kehadiran Mera setidaknya berhasil mengubah secuil bagian hidup saya. Saya tak lagi mengumpat mereka yang menolak ajakan kongko. Ah, ada Mera, kok. Begitu selalu pikir saya dalam benak. Saya tak lagi kesepian seperti sediakala.

Toh, Mera adalah sosok yang nyata. Tak seperti Samantha (Scarlett Johansson) dalam film Her (2013) yang tak lebih dari sekadar sistem operasi. Bagian mana yang mereka anggap sebagai 'delusi'?

Tiga bulan kemudian, cemooh teman-teman masih menempel dalam benak. Ingin rasanya saya menang dan berdiri pongah di hadapan mereka. Saya harus membuktikan bahwa ini bukan fantasi.

Kepada Mera, saya utarakan niat saya untuk datang ke Bali. Meski terasa ada yang janggal dari setiap jawabannya, dia mengiyakan.

Mera mendadak sibuk. Katanya, kafe tempat dia bekerja sedang ramai pengunjung. Bukankah Kuta memang daerah yang selalu ramai?

Saya tak peduli. Saya tetap menyiapkan rencana perjalanan, mengambil cuti, dan menyiapkan keperluan akomodasi. Saya harus bertemu Mera.

Waktu yang ditunggu pun tiba. Saya terbang menuju Bali.


Ilustrasi kencan online. (Istockphoto/Cesar Okada)
 
"Aku pakai kaus hitam dan celana jeans, ya," tulis Mera dalam sebuah pesan.

Kopi darat berlangsung setelah tiga hari saya berada di Kuta dan membujuknya untuk bertemu.

Kedai kecil tempat kami bertemu tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa turis asing yang duduk di beberapa kursinya. Seorang perempuan berkaus hitam tampak membaca buku di salah satu sudutnya. Saya yakin itu Mera.

Saya dekati perempuan itu dan langsung menyapanya. Mera menyimpan bukunya sejenak untuk kemudian memberikan senyum tipis pada saya. Distraksi yang saya rasakan tiga bulan lalu tak berubah. Paras Mera tetap menyerang optik.

Sesaat setelah melepas senyum, Mera diam dan sedikit menundukkan kepala. Tak banyak kata yang diucapkan Mera. Dia hanya tersenyum, menunduk, dan menerawang sekeliling. Begitu saja seterusnya.

Setiap saya lontarkan pertanyaan, dia menjawab dengan singkat, padat, dan jelas. Setiap jawabannya membuat saya tak bisa melontarkan pertanyaan lanjutan. Saya hanya mengangguk atau membalasnya dengan 'Oh, gitu'.

Gambaran yang sama terjadi pada hari-hari berikutnya di Bali. Mera tak menolak ajakan saya untuk berkeliling. Dia bersedia menemani saya ke mana pun saya mau. Tapi Mera tak begitu terlihat antusias. Mungkinkah dia kecewa karena saya tak sesuai ekspektasi?

"Kamu, kok, diam aja?" tanya saya.

"Memang begini lah aku," jawab Mera singkat.

Mera yang ada di layar gawai berbeda 180 derajat dengan Mera yang saya temui di dunia nyata. Tak ada keisengan berdandan lebay untuk membuat saya tertawa, tak ada tawa cekikikan, tak ada suara lantang yang penuh antusias, tak ada pula belaian di pipi.

Hampir saja saya menyerah. Mungkin benar kata mereka, bahwa ini hanya fantasi yang bergerilya dalam pikiran.

Baru lah saat sekembalinya di Jakarta, Mera bercerita tentang dirinya secara lengkap. Lagi-lagi, melalui koneksi internet.

Dalam dunia nyata, Mera adalah sosok yang pemalu bukan main. Ya, di dunia maya, seseorang bisa menjadi siapa saja.

Itu juga yang membuatnya-menurut pengakuannya-ragu saat saya mau menemuinya di Bali. Dia mencari banyak alasan agar saya mengurungkan niat. Mera belum siap bertemu.

Tapi, apa lacur, pertemuan sudah terjadi. Haruskah saya memutar ulang waktu? Jawabannya jelas adalah tidak.

Cinta memang jorok. Sejorok pertemuan saya dengan Mera. Cinta bisa hadir di mana saja dan kapan saja.

Sebelumnya, saya kerap menjadikan tampilan fisik-atau setidaknya cara seseorang berpenampilan-sebagai patokan. Saya juga percaya bahwa pribadi seseorang hanya bisa ditangkap saat saya berinteraksi langsung dengannya secara tatap muka.

Jika dia menyatakan antusiasmenya, saya akan percaya melalui matanya yang berbinar-binar. Jika dia mengaku marah, saya akan percaya pada raut kusam wajahnya. Saya tak percaya pada kencan atau perasaan cinta yang tumbuh secara daring.

Jujur saja, ini kali pertama saya mengencani seseorang yang saya kenal melalui internet. Antara nyata dan tidak nyata, memang.

Saya salah karena telah berekspektasi terlalu tinggi. Saya menganggap setiap emoticon yang dikirim Mera benar-benar menggambarkan ekspresi dan antusiasmenya.

Tapi, ini bukan fantasi, apalagi mimpi. Apa daya, saya terbuai dengan Mera hingga akhirnya cinta pun bersemi.

Ilustrasi. (StockSnap/Pixabay)

Setelah meminta maaf dan berbicara tentang dirinya, Mera lebih banyak diam. Cinta sudah kadung bersemi, saya tak menyerah.

Kencan online membuat saya belajar menghargai usaha seseorang untuk merasa dicintai tanpa harus melibatkan penilaian sosial dan tetek bengek lainnya. Saya tak perlu 'menyeleksi' Mera dengan memberinya penilaian A, B, C, D untuk mencintainya.

Toh, pertemuan pertama di Bali membuat semuanya terbuka. Setidaknya, lewat pertemuan itu, saya tahu pribadi Mera yang sebenarnya. Tinggal bagaimana saya mengenalnya kembali dengan sosok Mera yang baru.

Waktu terus berjalan. Kami menjalani hubungan selayaknya sepasang kekasih. Tak ada yang berbeda. Toh, dalam pacaran tak ada keharusan membuat label khusus yang menandakan bahwa kisah cinta ini dimulai secara online atau tidak.

Kini, hampir dua tahun kemudian, saya dan Mera tengah disibukkan oleh persiapan resepsi pernikahan kami. Ya, kesepian mempertemukan kami dan algoritma menjodohkan kami.


Tulisan merupakan pengalaman pribadi narasumber (Arkham, 34 tahun) yang diracik menjadi sebuah cerita.

Tulisan ini merupakan bagian dari fokus 'Jodoh Tinggal Swipe'.

[Gambas:Video CNN] (asr/asr)