Percobaan: 30 Hari Menjaring Cinta Online

tim, CNN Indonesia | Senin, 11/11/2019 19:47 WIB
Ilustrasi kencan online (Istockphoto/Ravi_Goel)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kata orang, cari pacar itu gampang asal enggak terlalu pemilih. Hmm...dulu saya berpikir kalau yang namanya terlalu pemilih itu berarti ada banyak pilihan di depan saya dengan segala kapabilitasnya tapi saya enggak mau pilih karena tak sesuai bayangan ideal saya. Tapi ketika saya enggak punya pilihan di hadapan, gimana mau disebut terlalu pemilih?

Tapi kenyataannya enggak selalu begitu, pemilih. Kalau masih ada 'tapi' ya susah. Masalahnya masih susah banget untuk menghilangkan sosok idealnya, harusnya gini, harusnya gitu. Padahal enggak ada manusia yang sempurna, termasuk kita sendiri kan.

Daripada pusing soal enggak ada pilihan di depan mata (dan ketemu orang-orang yang 'dia lagi, dia lagi' tiap hari), aplikasi online dating seringkali jadi pilihan. Ada banyak pilihan lawan jenis yang 'tersaji' di dalamnya, tinggal pilih, swipe left atau swipe right.


Hari pertama:
Saya mulai menginstal beberapa aplikasi kencan online sekaligus, dari yang lokal, asia, sampai internasional, dan berbasis agama. Mulai mengisi biodata lengkap termasuk preferensi jenis kelamin calon pasangan, sampai memasukkan beberapa foto untuk profil diri.

Beberapa aplikasi kencan online mengizinkan saya untuk memilih sendiri lokasi saya berada. Beberapa aplikasi hanya bisa mengandalkan jarak sesuai lokasi saya berada dan yang lainnya akan merekomendasikan pasangan yang cocok untuk saya berdasarkan algoritma mereka.

Hari kedua:
Mulai 'nge-swipe' di aplikasi-aplikasi tersebut dan menunggu chat. Beberapa match beberapa tidak.


Hari 3-7:
Apa yang saya lihat dari profil lawan jenis yang tiba-tiba muncul ketika saya buka apps? Awalnya hanya lihat dari foto yang mereka pajang. Namun seorang teman yang sudah lebih dulu coba-coba kencan online ini mengingatkan juga untuk membaca profilnya. "Agar tak terjebak kucing dalam karung," katanya.

Tak dimungkiri, swipe kiri dan kanan memang 'menyenangkan.' Banyangan soal sosok pria ideal kembali tergambar. Ganteng, mapan, fotogenik, family oriented. Kurang apalagi?

Swipe, swipe, swipe..

Hari 8:
Semakin lama berada di aplikasi-aplikasi ini cukup mengagetkan. Di satu aplikasi, begitu mulai online, muncul notifikasi ada berapa banyak orang yang menyukai Anda.

Saat itu ada sekitar puluhan orang yang katanya suka dengan profil saya. Tapi saya sedikit insecure. Karena ternyata angka likes yang semakin banyak tak membuat ada banyak pria yang mau memulai untuk chat.

Tapi jangan dulu salah paham dan bilang sebagai perempuan saya tak mau mulai menegur mereka duluan. Beberapa kali saya chat pria-pria 'idaman' saya terlebih dulu.

Hari 9-10:
'Hi,' Pagi itu saya dikejutkan dengan adanya satu pria yang menyapa.

Kami pun sempat beberapa hari bertukar kabar dan mencoba saling mengenal satu sama lain. Beberapa aplikasi lainnya masih 'menunggu' untuk bisa bertukar pesan. Sembari itu, masih ada kesempatan untuk swipe lagi tentunya.

Percobaan: 30 Hari Menjaring Cinta OnlineFoto: Istockphoto/Weedezign


Hari 11-15:
Selama beberapa hari, saya dan beberapa pria sempat chat. Ada beberapa yang sudah kandas di awal karena mereka tak sesuai kriteria saya ataupun karena saya ataupun mereka ternyata sudah tak nyaman di chat.

Kebanyakan pria yang ngobrol dengan saya dari berbagai aplikasi ini rata-rata bule. Bukan karena tak mau dengan orang Indonesia, tapi ada banyak alasan (setidaknya karena kebanyakan dari mereka pasif dan tak nyambung saat diajak ngobrol serta cenderung punya topik pembicaraan yang kurang menarik).

Demikian juga dengan para bule, ada beberapa yang memang membosankan, pasif, dan istilahnya 'sok iye.'

Beberapa orang sudah tereliminasi atau mengeliminasi saya. Apalagi beberapa di antaranya (terutama bule) lebih berorientasi kepada seksual. Sementara saya sendiri termasuk orang yang ogah ngobrol soal seks, apalagi kepada orang yang tak dikenal dan belum pernah ditemui sama sekali.

Hari 16-20:
Suatu hari saya tiba-tiba saya mendapat telepon. Ternyata salah satu aplikasi kencan lokal menghubungi saya untuk menawarkan berbagai layanan kopi darat. Ya sudah, coba saja, apa salahnya. Saya pun bikin janji dengan mereka dalam seminggu ke depan.

Di hari berikutnya saya sempat match dengan pria Indonesia yang ternyata kantornya tak terlalu jauh dari kantor saya berada. Namun ternyata faktor agama dan juga tingkat ketidaknyambungan kami berdua akhirnya lama-lama membuat kami tak lagi chat.

Beberapa hari kemudian, saat saya sedang bad mood, tiba-tiba di aplikasi muncul sapaan hangat dari seorang pria bule tampan dari Eropa. Saya sempat enggan menanggapinya, namun pada akhirnya saya tanggapi juga. Lumayan, pikir saya.

Obrolan kami mengalir dan menyenangkan, satu jam, dua jam, sampai akhirnya obrolan kami terhenti sejenak karena saya harus bekerja. Kami pun berjanji untuk chat lagi satu jam kemudian. Janji itu ditepati, kami bahkan chat sampai subuh waktu Indonesia.

Percobaan: 30 Hari Menjaring Cinta OnlineFoto: Condesign/Pixabay


Oya, pria yang sebut saja 'S' ini juga berbagi hobi dan pandangan hidup yang sama dengan saya. Di awal-awal saya juga tidak berani langsung minta no ponselnya untuk chat di luar aplikasi.

Sehari-dua hari kami masih ngobrol dan bahkan sempat berjanji untuk pergi traveling bareng. Ah harapan saya membumbung tinggi saat itu. Pagi hari tak lengkap tanpa sapaan selamat pagi darinya, meski saat itu dia sempat minta maaf juga karena membuat saya terjaga sampai subuh atau bangun lebih awal. Ah tapi saya tak masalah. Mungkin sudah ada rasa suka padanya. Aneh? memang. Tapi itu kenyataannya. Saya (mungkin secara online).
menaruh hati padanya.

Mungkin juga saya lemah dengan berbagai perhatian yang dia berikan buat saya. Kisah-kisah hidupnya yang menarik, sampai ekspektasi saya soal dia yang terbentuk selama kami chat.

Hari 21:
Hari-hari saya menyenangkan, menunggu waktu saat S mulai menyapa saya dan bicara soal kehidupannya di sana. Akhirnya saya memberanikan diri untuk minta no ponselnya. Namun dia bilang kalau dia tak punya ponsel karena membuat dia stres. Aneh, pikir saya. Hari gini mana ada orang yang tak punya smartphone kan. Tapi dia terus menyakinkan saya dengan bicara banyak soal 'jahatnya' ponsel, 5G dan lainnya.


Saya 'terhasut,' dan akhirnya percaya mungkin saja orang tak mau punya ponsel. Bahkan saya juga bilang pada teman-teman yang tahu soal S terkait ucapannya itu. Kami hanya bertukar akun media sosial dan mulai chat di sana.


Tulisan ini merupakan bagian dari fokus 'Jodoh Tinggal Swipe'.

Percobaan: 30 Hari Menjaring Cinta Online

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2