Penantian Chintya Lamusu: 8 Tahun dan Bayi Lahir Prematur

tim, CNN Indonesia | Senin, 18/11/2019 11:10 WIB
Penantian Chintya Lamusu: 8 Tahun dan Bayi Lahir Prematur Delapan tahun berharap punya anak, Chintya Lamusu dan Surya Saputra dikaruniai bayi kembar prematur. Bagaimana perjuangan mereka?(Istockphoto / Simon Dannhauer)
Jakarta, CNN Indonesia -- 'Cyn, happy ya langsung dapet bonus dua. (Tapi harus) waspada, risiko dua kali lipat daripada kehamilan normal.'

Penyanyi Cynthia Lamusu mengenang pesan dokter kandungan yang mendampinginya beberapa tahun lalu. Memiliki anak memang jadi impiannya bersama sang suami Surya Saputra. Delapan tahun penantian terbayar bahkan diberi bonus, dua anak sekaligus alias kembar. Kehamilannya benar-benar diawasi terlebih dia hamil saat usianya jelang 37 tahun.

"Saat trimester pertama dan kedua normal. Ini fase saya tercantik, muka enggak bengkak," ucapnya sumringah saat Bincang Gizi bersama Danone di The Hermitage, Menteng, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.


Senyum bahagia perlahan mulai terbentur banyak hal. Masuk trimester ketiga, kaki Cynthia bengkak diiringi kenaikan tekanan darah. Tekanan darah yang awalnya normal di angka 120-130, kemudian berubah menjadi 140.


'Kejutan' yang begitu mencuri perhatian di trimester ketiga ialah berat badan janin laki-laki yang mulai stagnan. Rutinitas cek dokter kandungan pun makin intens dari sebulan dua kali menjadi seminggu sekali demi terus memantau kondisi janin. Rupanya berat badan stagnan karena ada masalah pada plasenta sehingga pasokan nutrisi terhambat.

Tak berhenti di situ, anggota Be3 ini pun masih ingat di 19 November 2016 tim medis khawatir dengan tekanan darah tubuhnya. Tensi berada di angka 170/100 sehingga mengharuskan dirinya opname untuk observasi. Karena tekanan darah tinggi, bayi yang HPL (hari perkiraan lahir) pada 7 Desember 2016, mau tak mau dilahirkan pada keesokan harinya atau 20 November 2016.

"Saya padahal baru atur waktu di Rabu (23/11) untuk belajar cara menyusui, tapi Minggu sudah lahir. Fisik kritis, mental belum siap, panik memikirkan keluar enggak ASI saya?" katanya.

Masa pemulihan pascapersalinan membuatnya belum bisa bertemu kedua buah hatinya, Ataya Tatjana Aisyah Putri dan Atharva Bimasena Saputra. Keajaiban pun seolah terjadi di hari kedua. Kala kunjungan dokter, ASI keluar.

"Dokter bilang 'Ini berharga sekali, kolostrum', enggak full sesendok lalu langsung dibawa ke anak-anak. Saya bingung sampai-sampai enggak bisa nangis. Saya senang punya anak, tapi kondisinya kayak gini," kenangnya.

[Gambas:Instagram]

Tawa kecil di NICU

Haru biru pertemuan dengan Bima dan Tatjana terjadi di hari ketiga. Meski sudah menyiapkan mental, tangis tetap pecah. Dirinya melihat bayi yang terbaring di inkubator dengan tubuh mungil.

"Saya menangis, baca doa atas nama Bima. Lalu suster bilang 'Bu ini Tatjana, itu Bima," ujar Cynthia disusul tawa.


Dirinya saat itu lebih trenyuh melihat kondisi Bima. Bisa dibilang tubuh Bima hanya sebesar air mineral dalam kemasan botol sekitar 600 mililiter.

Selama Bima dan Tatjana di NICU, selama itu pula Cynthia dan suami harus selalu siaga. Dering telepon dari NICU membuatnya serasa diajak naik 'roller coaster'. Dia pun memutuskan untuk tidak banyak menerima tamu demi fokus perawatan si kembar di NICU. Tatjana bisa 'lulus' dari NICU setelah dua minggu perawatan sedangkan Bima setelah satu bulan tiga hari.

Pulang tanpa Bima membuatnya berat hati. Namun ia menganggap kepulangan Tatjana bisa jadi masa berlatih dengan satu anak. Terapi kanguru, ASI, berjemur untuk bayi hingga sterilisasi kamar dan rumah terus dia lakukan.

"Bima keluar, sempat lega anak sudah pulang, enggak berhadapan lagi dengan kasir rumah sakit tiap minggu," imbuhnya.

Berkaca dari pengalamannya memiliki bayi kembar yang lahir prematur, Cynthia mengingatkan orang tua tidak boleh lalai skrining seperti kondisi mata, pendengaran, juga organ-organ lain.

[Gambas:Instagram]

Hasil skrining menemukan Bima mengalami aggressive posterior retinopathy of prematuritas (APROP). Ini disebabkan pembuluh darah retina yang tidak berkembang normal sehingga terjadi berbagai komplikasi dan bisa berujung pada kebutaan.

"Kalau enggak skrining cepet, lewat tiga bulan bisa buta total," kata istri Surya Saputra ini. (els/chs)