Mahasiswa Unibraw Ciptakan Alat Deteksi Dini Skizofrenia

tim, CNN Indonesia | Jumat, 15/11/2019 16:15 WIB
Mahasiswa Unibraw Ciptakan Alat Deteksi Dini Skizofrenia Mahasiswa Universitas Brawijaya berhasil menciptakan alat deteksi dini skizofrenia berdasarkan pola sidik jari dan mendapatkan penghargaan internasional.(Istockphoto/ CasarsaGuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mahasiswa Universitas Brawijaya berhasil menciptakan alat deteksi dini skizofrenia berdasarkan pola sidik jari.

Kelompok mahasiswa yang beranggotakan tiga orang yaitu Rizka Fajriana Putri Ramadhan, Nadia Riqqah Nurlayla dari Program Studi Biologi dan Rahma Nur Diana dari Fakultas Ilmu Komputer membuat sebuah aplikasi bernama Maos App ini berhasil mendapatkan beberapa penghargaan dari luar negeri atas temuan mereka.

Mereka meraih penghargaan di ajang International Exhibition for Young Inventor (IEYI) yang berlangsung 23 sampai 27 Oktober 2019 di Japan Institute of Invention and Innovation.


Ajang yang diikuti oleh perwakilan dari Indonesia, Jepang, Macau, Malaysia, Filipina, Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Tiongkok, dan Vietnam itu menyeleksi lebih dari 4.000 proposal inovasi teknologi dan memamerkan 300 di antaranya ke kalangan peneliti, akademisi, instansi pemerintah, dan investor.

"Ide pembuatan Maos App ini berawal dari keprihatinan kami atas sulitnya melakukan deteksi skizofrenia secara dini dengan murah, cepat, dan tepat," tutur Rizka Fajriana Putri Ramadhan, salah satu mahasiswi Program Studi Biologi di Universitas Brawijaya, Malang, Jumat (15/11) dikutip dari Antara.


Pembuatan deteksi awal skizofrenia ini dilakukan dengan penelitian terhadap 1.000 orang responden di sebuah rumah sakit di Malang.

Hasilnya sidik jari penderita skizofrenia dan bukan penderita skizofrenia berbeda nyata. Perbedaannya berkisar 95 sampai 99 persen.

Untuk proses pembuatan deteksi dini ini menggunakan analisis matematika fraktal digunakan dalam aplikasi deteksi dini gangguan jiwa skizofrenia berdasarkan pola sidik jari tersebut.

"Kami menggunakan matematika fraktal dalam mendeteksi sidik jari penderita skizofrenia. Karena fraktal sendiri dapat mendeteksi ketidaksamaan pola sidik jari melalui rumus box-counting," kata Rizka.


Hasil yang diperoleh ini kemudian dibuat sebagai aplikasi mobile dan diintegrasikan dengan pemindai sidik jari.

"Pengguna aplikasi dapat mengetahui apakah pengguna memiliki gejala skizofrenia atau tidak. Aplikasi ini juga memiliki fitur untuk memberikan rekomendasi ketika pengguna terdeteksi mengalami skizofrenia," kata Rizka. (chs)