Perempuan Juga Bisa Jadi Ekshibisionis

tim, CNN Indonesia | Rabu, 20/11/2019 13:02 WIB
Perempuan Juga Bisa Jadi Ekshibisionis Meski hampir 100 persen ekshibisionis adalah laki-laki, namun ini berarti perempuan terbebas dari gangguan jiwa pamer alat kelamin. (Istockphoto/ RapidEye)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaku teror sperma Tasikmalaya seolah membuka cerita tentang masalah gangguan jiwa ekshibisionisme. Ekshibisionisme adalah gangguan seksual yang ditandai dengan mendapatkan kepuasan dari memamerkan alat kelamin mereka kepada orang yang tak dikenal (biasanya lawan jenis).

Kepuasan yang didapatkan oleh para ekshibisionis ini antara lain gairah seksual sampai orgasme.

"Kepuasan yang didapatkan ketika korban yang melihat merasa kaget, takut, atau terkesan. Kenikmatan ekshibisionis akan meningkat, sama seperti orgasme," kata Martha, dokter ahli jiwa dari RS Awal Bros Bekasi Timur kepada CNNIndonesia.com melalui pesan singkat, Rabu (20/11).


"Pada beberapa penderita, ekshibisonisme merupakan satu-satunya penyaluran seksual, tapi pada penderita lainnya, kebiasaan ini dilanjutkan secara simultan dengan kehidupan seks yang aktif. Kecenderungan ini mungkin tampak hanya saat stres. Biasanya kegiatan ini lazim diikuti dengan masturbasi."


Hanya saja, meski sampai saat ini pelaku ekshibisionisme sebagian besar didominasi laki-laki, namun bukan tak mungkin, gangguan jiwa ini dialami juga oleh perempuan, meski angkanya sangatlah kecil.

"Ekshibisionisme hampir 100 persen kasus terjadi pada laki-laki. Lebih dari 80 persen terjadi sebelum usia 18 tahun," ucapnya.

Salah satu bentuk gangguan jiwa ini memuncak pada usia antara 15-25 tahun dan menurun di usia 50 tahun.

Bisa Sembuh
Orang yang mengalami masalah gangguan jiwa ekshibisionisme ini sebaiknya menjalankan terapi. Mereka masih bisa disembuhkan.

Martha mengungkapkan, sampai saat ini, angka penderita ekshibisionisme yang menjalani rawat jalan hanya sebanyak 25 persen.

Namun sama seperti gangguan jiwa atau penyakit lainnya, angka kesembuhannya sendiri juga tergantung dari banyak faktor. Beberapa faktor yang makin memperburuk keadaan atau menyulitkan penyembuhan antara lain onset (dimulainya)masalah sejak usia muda, frekuensi tindakan yang terlalu tinggi, sampai tak adanya perasaan bersalah atau malu terhadap tindakan yang dilakukannya, serta ditambah dengan penyalahgunaan zat.


"Perjalanan penyakit dan prognosis baik jika pasien memiliki koitus (aktivitas seksual normal dengan lawan jenis) di samping parafilia (penyimpangan seksual), punya motivasi untuk berubah, dan jika pasien datang berobat sendiri bukan karena dikirim oleh badan hukum." (chs)