LANCONG SEMALAM

Jalan Panjang Menikmati Surga Di Bukit Pianemo

Aulia Diza, CNN Indonesia | Minggu, 24/11/2019 12:37 WIB
Jalan Panjang Menikmati Surga Di Bukit Pianemo Bukit Pianemo di Raja Ampat, Papua Barat. (CNN Indonesia/ Aulia Diza)
Jakarta, CNN Indonesia -- Selain bawah lautnya, Raja Ampat juga terkenal dengan keindahan gugusan pulau-pulau karst-nya.

Kecantikan gugusan pulau-pulau karst tidak hanya ditemukan di Pulau Misool atau Pulau Wayang, tetapi juga bisa ditemukan di Bukit Pianemo.

Terletak Groot Fam, Saukabu, Kepulauan Waigeo Barat, butuh waktu 45-60 menit perjalanan menggunakan kapal kecil dari Kota Waisai, Raja Ampat, untuk menuju Bukit Pianemo.


Seperti sebelumnya, saya mencari gambaran tentang Bukit Pianemo melalui internet. Saya benar-benar terlena dengan hasil tangkapan gambar orang yang ada di sana.

Gugusan pulau-pulau karst terbentang di antara air laut berwarna biru toska yang kemudian bergradasi menjadi warna hijau.

Sesekali terlihat foto yang memperlihatkan orang berfoto di sebuah balkon berlatarkan pemandangan gugusan pulau karst di Pianemo. Saya pun tak sabar untuk melihat secara langsung keindahannya.

Untuk menyimpan energi, saya memilih tidur di dalam kapal selama perjalanan ke sana. Saya tidak ingin rasa lelah hinggap saat melihat pemandangan di Bukit Pianemo.

Deru mesin kapal pun memelan sebagai tanda bahwa saya akan tiba di Bukit Pianemo. Awal mula saya berada di dalam kapal, langsung berjalan keluar ke atas badan kapal.

Ternyata gambaran yang ada di internet benar adanya, padahal saya belum berjalan di perbukitannya. Saya bisa melihat kokohnya perbukitan karst yang menjulang yang dihijaukan dengan pepohonan ditambah air laut berwarna bening kehijauan.

Kapal mulai menurunkan kecepatannya dan dermaga mulai tampak. Saking tak sabarnya, saya langsung berlari ke depan pintu kapal untuk bisa turun terlebih dahulu.

Mencapai puncak Bukit Pianemo juga tidak mudah, perlu menapaki 320 anak tangga atu sekitar 20-30 menit untuk mencapai puncak. Tapi tak perlu pusing, setiap 100 anak tangga disediakan pondok kecil untuk mengambil istirahat.

Medannya tidak terlalu terjal, hanya saja terik panas matahari menjadikan pendakian bukit lebih menantang. Sesuai dengan tebakan saya beberapa kali berhenti sekedar untuk mengambil nafas panjang.

Bisa dikatakan saya memang tidak punya pengalaman untuk mendaki, tapi karena di Raja Ampat saya tak mau melewatkan kesempatan ini. Walaupun saya harus ketinggalan jauh dengan yang lain, tapi Fadli si pemandu wisata menemani dan menyemangati saya.

Saat tiba di pondok peristirahatan pertama, saya melihat rombongan wisata beranggotan 12 perempuan paruh baya. Raut wajah mereka tidak memperlihatkan kelelahan, bahkan sesekali masih bisa tertawa. Berbeda dengan saya, keringat mengucur deras dan nafas megap-megap.

Di sela saya mengambil nafas panjang, saya berbincang dengan salah satu dari mereka. Netty, perempuan yang berumur hampir 60 tahun ini memperkenalkan diri. Dia berasal dari Purwokerto dan berangkat bersama dengan teman-temannya.

Saya sempat menanyakan apakah dia merasa lelah. Dia pun menjawab tidak, karena tak mau melewatkan kesempatan di Raja Ampat. Saya tertawa sambil menahan malu mendengarnya.

Tak lama saya melanjutkan pendakian dan saya tak mau kalah dengan para ibu tadi. Awalnya anak tangga tidak terlalu berdekatan, semakin ke atas semakin rapat anak tangga. Di sini saya harus bisa mengatur ritme nafas dan langkah kaki.

Hingga akhirnya saya sampai ke puncak bukit. Di sana sudah balkon yang memutari puncak bukit dan menghadap ke gugusan pulau karst.

Di sini rasa lelah dan keluh kesah saat mendaki saya hilang paripurna. Semua terbayarkan dengan suguhan atas ciptaanNya. Tak mau tertinggal dengan yang lain, saya juga berburu jepretan untuk saya simpan dan 'oleh-oleh' untuk orang terdekat.

Hasil jepretan mata kamera saya juga tak jauh beda dengan gambar di laman internet. Bahkan tak perlu lagi menggunakan filter atau editing yang berlebihan, warna dari setiap elemen yang saya 'tangkap' keluar dengan cantik.

Tak ayal Raja Ampat memang pantas dijuluki 'Surga di Ujung Papua'. Semua terwakili dengan pemandangan yang terlihat di Bukit Pianemo.

Singkat cerita, Fadli menceritakan untuk mendaki ke Bukit Pianemo belum tersedia anak tangga seperti sekarang. Pada tahun 2016 kemarin anak tangga direnovasi sebelum Presiden Joko Widodo berkunjung.

Jokowi sempat berkunjung dan mendaki di Bukit Pianemo. Fadli menceritakan bahwa beliau menikmati lansekap matahari terbit di sini. Di internet

Fadli juga menceritakan asal-usul tentang penamaan bukit ini. Pianemo merupakan bahasa asli Biak, Papua Barat yang artinya bagian yang menyambungkan kepala dan gagang tombak atau harpun.

Biasanya harpun digunakan sebagai alat untuk berburu ikan besar seperti paus. Harpun diikat dengan tali untuk mempermudah nelayan untuk menarik hasil buruan.

Tak terasa sudah 15 menit saya terkagum, Fadli pun memanggil saya dan rombongan tur untuk turun. Waktu yang kurang untuk menikmati segala yang ada di puncak bukit, dengan berat hati saya turun.

Tak seperti sebelumnya, turun dari bukit saya tak membutuhkan waktu lama.

Sesampainya di bawah saya menyempatkan diri untuk membeli es kelapa muda di dekat dermaga yang dijual oleh warga lokal. Es kelapa muda menjadi pelipur lara sebelum saya meninggalkan Bukit Pianemo.

(ard)




BACA JUGA