CELOTEH WISATA

Menyuburkan Punggung Ijen dengan Pohon Cemara Gunung

CNN Indonesia | Selasa, 17/12/2019 13:54 WIB
Menyuburkan Punggung Ijen dengan Pohon Cemara Gunung Ilustrasi. Pohon Cemara Gunung. (Istockphoto/ VeryBigAlex)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Kita tidak sekadar menanam, tetapi juga memulihkan dan mengembalikan ekosistem di Pegunungan Ijen seperti sebelum kebakaran, dan jika dilakukan bersama, kita yakni pasti bisa."

Penegasan itu disampaikan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur Nandang Prihadi di sela-sela penanaman 500 Pohon Cemara Gunung (Casuarina junghuniana) pada kawasan hutan seluas 1,1 hektare di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Ijen, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (16/12).

BBKSDA Jatim adalah salah satu unit pelaksana teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).


Kawasan di Pegunungan Ijen - yang secara administratif pemerintahan berada dalam dua wilayah, yaitu Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, pada 19 Oktober 2019 terbakar, yang banyak mengakibatkan ribuan pohon hangus.

Dampak dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) itu bermuara pada diberlakukannya status darurat karhutla dan menyebabkan kawasan TWA Gunung Ijen ditutup untuk publik sejak 20 Oktober hingga 6 November 2019.

Saat ini di beberapa titik di TWA Gunung Ijen, pemandangan pohon yang menghitam akibat terbakar masih mendominasi kawasan tersebut.

Demikian pula onggokan pepohonan yang roboh juga menghiasi sepanjang jalan menuju kawasan TWA tersebut. Pohon yang tumbang itu bukan disebabkan karhutla, namun pada saat bersamaan terjadi angin puting beliung.

"Hampir bersamaan dengan karhutla saat itu juga terjadi angin puting beliung yang besar yang menyebabkan pepohonan tumbang di beberapa tempat kawasan Cagar Alam (CA) dan TWA Kawah Ijen," kata Nandang, seperti yang dikutip dari Antara.

Penanaman kembali sebanyak 500 Pohon Cemara Gunung pada area lahan seluas 1,1 hektare (ha) yang dilakukan ratusan mahasiswa melalui program Siap Sadar Lingkungan (Siap Darling) sekaligus menghadirkan band Barasuara yang sedang digandrungi generasi millennial.

Ia menyebut dukungan Darling Squad - sebutan bagi mahasiswa yang ikut dalam gerakan menanam pohon, untuk ikut memulihkan ekosistem di Pegunungan Ijen yang terbakar itu "sudah terwujud".

"Mudah-mudahan program Siap Darling tidak hanya sekali ini saja, 500 batang tanaman cemara gunung yang kita tanam di sekitar 1,2 hektare. Ke depan area tanam masih ada 800 hektare lagi," katanya.

Tanaman "kuat"

World Agroforestry Center (WAC) menyebutkan Pohon Cemara Gunung merupakan jenis pohon yang toleran terhadap musim kering.

Pohon ini juga disebut lebih tahan terhadap karhutla dan mampu menahan medan longsor.

WAC menyatakan tanaman ini merupakan jenis dari Indonesia yang sudah menyebar ke Australia, China, India, Kenya, Tanzania dan Thailand.

Dalam laman Taman Nasional Aketajawe Lolobata disebutkan Pohon Cemara Gunung berukuran tinggi dan berbentuk kerucut.

Daunnya berbentuk ramping dan runcing yang berguna untuk mengurangi penguapan. Bentuk daun tersebut juga merupakan adaptasi pohon cemara terhadap lingkungan yang panas.

Warna daunnya biasanya hijau gelap, tetapi ada beberapa spesies yang berwarna hijau terang.

Pada saat muda, kulit kayunya halus, berwarna coklat kehijauan, dan belum mempunyai retakan.

Kulit kayu pohon yang dewasa terbilang tebal dan warnanya coklat gelap dan biasanya terdapat retakan-retakan. Tebalnya kulit kayu pohon cemara membuatnya dapat bertahan di segala kondisi cuaca.

Pohon Cemara Gunung tidak menghasilkan buah, melainkan pinecone atau runjung cemara. Runjung cemara adalah semacam pucuk yang membawa biji dan juga menjadi organ reproduksi pohon cemara untuk berkembang biak.

Selama ini penggunaan kayu Pohon Cemara Gunung masih terbatas secara lokal hanya untuk bahan bakar atau sebagai sumber energi di mana kayunya cocok untuk produksi kayu bakar dan kayu arang.

Menurut WAC, fungsi lain dari tanaman ini yaitu sebagai tanaman peneduh dan tanaman pembatas karena sesuai dengan fungsinya sebagai tanaman penahan angin. Tanaman ini terkadang juga digunakan untuk tanaman hias.

Dalam upaya memulihkan kembali ekosistem hutan terbakar di Pegunungan Ijen, Kepala BBKSDA Jatim Nandang Prihadi mengakui butuh waktu yang tidak sebentar.

"Untuk tumbuh saja bisa puluhan tahun," katanya.

Namun, harapannya tidak hanya dari menanam saja, tapi juga dari "pemulihan alami", karena ada mekanisme tumbuhan cemara gunung itu secara alami mampu "merehabilitasi dirinya sendiri.

[Gambas:Video CNN]

(ard)