Kisah Petani Es di Tepi Sungai Songhua

CNN Indonesia | Rabu, 18/12/2019 16:22 WIB
Kisah Petani Es di Tepi Sungai Songhua Penambang es di tepi Sungai Songhua, China. (NOEL CELIS / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Liu Yantao dan enam rekan kerjanya mulai bekerja di sungai beku di timur laut Tiongkok sebelum fajar, menggunakan alat-alat tangan dan mesin untuk memotong balok es besar yang bakal dipahat untuk Festival Es dan Salju Harbin.

Liu dan timnya termasuk di antara lebih dari 100 orang yang bekerja di Sungai Songhua untuk menambang 170 ribu meter kubik es batu yang dibutuhkan festival tahun ini - jumlah yang cukup untuk mengisi 70 kolam renang ukuran Olimpiade.

Setiap tahun para pekerja mengambil es dari air sungai yang dingin. Tapi itu adalah risiko yang rela diambil oleh para pekerja yang merupakan petani untuk mendapatkan uang tambahan selama musim dingin.


Tim Liu memotong 2.000 keping es setiap hari selama sekitar tiga minggu, tiba di tepi sungai sebelum matahari terbit dan baru pulang setelah matahari terbenam.

Para petani, yang biasanya menanam jagung dan kedelai sepanjang tahun ini, dibayar 2,5 yuan (sekitar Rp5.000) untuk memanen es sepanjang 1,6 meter dan seberat 400 kg.

Mereka masing-masing bisa menghasilkan sekitar 500 yuan (sekitar Rp1 juta) per hari.

"Tidak ada yang bisa dilakukan di musim dingin. Orang-orang bermain mahjong di rumah. Saya tidak suka berjudi, jadi saya bekerja," kata bapak satu orang anak Liu (36).

Tidak pernah ke festival

Liu telah menambang es selama lebih dari satu dekade. Dia adalah pemimpin tim di antara sekelompok petani yang berkendara dari pedesaan Harbin untuk tiba di sungai sebelum pukul 05.00 setiap harinya.

Sesampainya di tepi sungai, mereka menggunakan gergaji motor besar untuk memotong permukaan es menjadi 220x190 meter - lebih besar dari dua lapangan sepak bola.

Kemudian pekerja memotong es hingga menjadi bagian yang lebih kecil.

Para pekerja tidak banyak bicara selama bekerja, tetapi embusan hawa dingin terlihat dari mulut mereka yang biasanya bekerja di bawah suhu -18 derajat Celcius setiap harinya.

Pekerjaan ini bukan tanpa tantangan, karena beberapa tahun yang lalu forklift telah jatuh ke dalam sungai.

Jaket pelampung oranye disediakan, namun tidak ada yang mengenakannya.

"Jika kamu jatuh, kamu akan ditarik oleh temanmu," kata Liu sambil menyalakan sebatang rokoknya.

"Dan talinya diikat ke bor es. Jika ada yang jatuh, kita akan melemparkan talinya kepadanya. Tidak ada yang benar-benar tenggelam."

Tradisi bangga

Tim Liu Yantao mengambil istirahat pertama mereka sekitar jam 11.00 - setelah bekerja selama tujuh jam.

Bahkan makan siang mereka datang dari sungai: Para pekerja melemparkan jala ke dalam air untuk menangkap ikan mas.

Mereka memasak dan memakan ikan rebus dengan roti kukus, duduk di sekitar kompor. Beberapa minum alkohol untuk mengusir dingin.

Dua puluh menit kemudian, mereka kembali ke es dan akan menyelesaikan pekerjaan mereka setelah gelap - sehari 12 jam.

Meskipun bekerja keras di sungai yang beku, seperti kebanyakan penggali es, Liu bahkan tidak pergi ke festival es yang hanya berjarak beberapa menit dari sungai.

Tiket masuknya 290 yuan (sekitar Rp579 ribu) - lebih dari upah setengah hari - jadi dia hanya akan menontonnya di televisi, dan merasa bangga dengan pekerjaan yang telah dia lakukan.

"Ada tradisi bertahun-tahun dalam membangun festival es di kota asalku," kata Liu.

"Jika aku tidak melakukannya, aku akan merasa tersesat."

(AFP/ard)