2019, Makin Banyak Orang Indonesia Resisten Bakteri

tim, CNN Indonesia | Jumat, 20/12/2019 11:18 WIB
2019, Makin Banyak Orang Indonesia Resisten Bakteri ilustrasi bakteri Salmonella (Dok. Rocky Mountain Laboratories, NIAID, NIH)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tingkat resistensi bakteri di Indonesia terus meningkat dari 2013, 2016, sampai 2019. Hal ini diungkapkan oleh Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) pada Kamis (19/12).

"Dari data yang kami himpun, bakteri resisten itu semakin naik dari 40 persen, 60 persen, dan saat ini 60,4 persen," kata dokter Hari Paraton, Ketua KPRA dikutip dari Antara.

Peningkatan tersebut disebabkan adanya penggunaan antibiotik yang tidak terkendali. Dengan kata lain, bakteri resisten itu justru terjadi karena kesalahan penggunaan antibiotik.


"Hal itu terjadi di semua level (masyarakat) sehingga meskipun sudah dilakukan sejumlah upaya pengendalian, hasilnya masalah tetap tidak menggembirakan," katanya.


Misalnya, membeli, menyimpan, dan memberikan kepada si sakit dengan seenaknya tanpa anjuran dokter. Kemudian juga di lingkungan peternakan yang menyebabkan resistensi bakteri di Indonesia semakin meningkat. Di kalangan peternak, penggunaan antibiotik dipakai untuk penggemuk ternak. Namun, hal itu telah diatur dengan adanya Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian terkait penggunaan antibiotik yang melarang penggemukan ternak dengan antibiotik.

Angka 60,4 persen ini dianggap cukup tinggi, apalagi melirik Singapura hanya berada pada angka 26 persen.

"Jadi angka itu sudah tinggi, perlu tindakan lebih lanjut agar Indonesia tidak menjadi sumber atau pusat dari bakteri resisten," katanya.

Untuk mencegah bahaya akibat resisten antimikroba, Hari mengatakan pada tahun 2020 para dokter di Tanah Air akan diawasi oleh tim khusus yang ada pada setiap  rumah sakit untuk mencegah kekeliruan dalam memberikan antibiotik.

"Tahun depan mudah-mudahan bisa diterapkan karena pedomannya sudah disusun, beberapa rumah sakit sudah menjadi pilot project dan sedang berjalan," kata dia di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan para dokter di Indonesia harus terus diberikan pembekalan karena masih banyak kurang tepat dalam memberikan antibiotik kepada pasien.

Kesalahan dalam pemberian antibiotik ini juga disebabkan ketidaktahuan para dokter. Tetapi faktor yang terbesar adalah tidak adanya sarana dianogstik laboratorium atau layanan mikrobiologi.

"Jadi misalnya kita infeksi paru-paru penyebabnya banyak, bisa bakteri A, B, atau C. Tiap bakteri punya antibiotik tersendiri pula," katanya.

Namun, praktik yang sering terjadi selama ini yaitu para tenaga medis banyak salah atau keliru dalam memberikan antibiotik. Dengan kata lain tidak sesuai dengan bakteri yang ada dalam tubuh pasien sehingga resisten terhadap antibiotik.

Melihat kondisi tersebut, KPRA memiliki sejumlah rekomendasi di antaranya perlu meningkatkan pemahaman dan pengetahuan melalui penyuluhan ke masyarakat maupun dokter melalui penyuluhan. (chs)