SURAT DARI RANTAU

Pengalaman Terjebak Kebakaran Hutan di Australia

Annisa Kayra, CNN Indonesia | Minggu, 05/01/2020 19:06 WIB
Pengalaman Terjebak Kebakaran Hutan di Australia Petugas pemadam kebakaran berusaha memadamkan api di kawasan Taree, Sydney, Australia. (PETER PARKS / AFP)
Tasmania, CNN Indonesia -- Hobi jalan-jalan membuat saya akhirnya berlabuh di kota kecil Tumbarumba, New South Wales, Australia, sejak awal Desember 2019.

Jika anak-anak muda Indonesia biasanya datang ke Australia untuk kuliah, maka saya bisa datang ke sini untuk bekerja di perkebunan blueberry.

Saya bisa datang dan bekerja di sini berkat program work and holiday visa (WHV) dari pemerintah Australia. Sederhananya, dengan WHV kita bisa cari uang sembari wisata.


Saya sudah mengantongi WHV sejak Juli 2019. Menurut saya mengurus WHV tidak susah namun cukup rumit. Untuk mengajukan minimal memiliki ijazah D3, IELTS score minimal 4.5, surat SKCK, lulus tes kesehatan, dan lulus tes wawancara.

Program WHV juga memiliki kuota maksimal 1.000 orang per tahun, sehingga persaingannya sangat ketat.

Kalau sudah mengantongi visa WHV, kita bisa menetap selama setahun di Negeri Kanguru. Visa juga bisa diperpanjang sampai tiga tahun, namun dengan syarat tertentu.

Saya bukan satu-satunya turis yang bekerja di sini, karena ada banyak turis dari berbagai belahan dunia lain yang juga mengantongi WHV dan bekerja di perkebunan blueberry ini.

Pekerjaan saya di sini ialah memetik blueberry. Bisa bekerja sekaligus liburan tentu saja menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi saya. Di tambah lagi pemandangan di perkebunan ini sangatlah cantik.

Tapi keceriaan perkebunan lantas senyap sejak bencana kebakaran hutan melanda New South Wales hingga saat ini.

Kabar mengenai kebakaran hutan sebenarnya sudah terdengar sejak bulan Juli 2019, namun saat itu api belum mencapai perkebunan tempat saya bekerja.

Meski demikian, seluruh warga New South Wales sering mendapat SMS peringatan dari NSW Rural Fire Service mengenai pergerakan api.

Musim panen, hari Natal, sampai perayaan Tahun Baru berlalu, barulah kebakaran hutan menyambangi perkebunan. Saya masih ingat betul bagaimana rasanya berada di tengah kepanikan tersebut.

Pagi itu, 31 Desember 2019 jam 08.00, seharusnya menjadi waktu dimulainya masa liburan yang dinantikan seluruh pekerja. Tiba-tiba ada SMS peringatan yang meminta penghuni Tumbarumba segera mengungsi, karena ada peringatan kalau api akan masuk ke kota.

Pekerja yang sudah punya rencana tahun baruan di Sydney atau Melbourne langsung memikirkan ulang rencananya. Beberapa ada yang langsung angkat tas dan menyelamatkan diri ke kota terdekat.

Sementara saya masih belum punya rencana apa-apa. Pengelola penginapan juga belum terlihat panik, jadi saya berpikir untuk tetap berada di kamar.

Pukul 14.00 tiba-tiba aliran listrik mati dan sinyal telepon genggam hilang. Tiga jam kemudian turun hujan, lalu cuaca agak cerah. Menjelang matahari terbenam pukul 21.00, kami yang bertahan di penginapan masih berpikir kalau keadaan akan baik-baik saja.

Pergantian tahun kami nikmati dengan mati lampu. Pemandangan utama dari penginapan kami ialah api kebakaran hutan yang menjilat hutan dari kejauhan.

Keesokan hari, 1 Januari 2020, pintu kamar saya digedor oleh seorang teman. Saat membuka pintu, bau asap sudah menusuk hidung.

Walau jilatan api belum kelihatan di depan mata, saya dan teman-teman merasa ini saat yang tepat untuk segera angkat kaki dari penginapan karena kami semakin sulit bernapas.

Pengalaman Terjebak Kebakaran Hutan di AustraliaSuasana kebakaran hutan di New South Wales, Australia. (Dok. Annisa Kayra)

Tibalah kami di Wagga Wagga, kota yang berjarak 1,5 jam berkendara mobil dari Tumbarumba. Di kota ini asap belum datang dan sinyal telepon genggam bisa didapat.

Saat membuka HP, saya mendapat banyak pesan bernada kekhawatiran dari teman-teman dan keluarga saya. Mereka membagikan tautan berita berisi informasi bahwa kota Tumbarumba akan ditutup karena kebakaran hutan sudah masuk ke sana.

Seorang teman meminta saya menemaninya untuk mengambil barang-barang di rumahnya yang berada di Tumbarumba. Namun saat hendak memasuki area pemukimannya, polisi menahan kami dan mengatakan kalau api mungkin sudah membakar hangus rumahnya. Mendengar perkataannya membuat kami berdua langsung mendadak lemas.

Bingung, lelah, dan lapar. Kami lalu diarahkan menuju pos pengungsian di Memorial Hall Tumbarumba. Setibanya di sana, kami langsung diberi makanan dan keperluan mandi.

Walau judulnya pos pengungsian, namun masakan yang dihidangkan di sini tidak asal-asalan. Gizinya sangat diperhatikan. Menatap menu yang disediakan membuat saya jadi malu sendiri, karena terlalu banyak makan mie instan setiap hari hehe...

Pengalaman Terjebak Kebakaran Hutan di AustraliaMenu makanan di pos pengungsian. (Dok. Annisa Kayra)

Hingga Sabtu (4/1), saya mendengar kabar bahwa kota Tumbarumba lumpuh. Beberapa teman bahkan mengatakan api kebakaran hutan semakin membesar.

Satu dari dua perkebunan blueberry tempat saya bekerja sudah terbakar habis. Seluruh pekerja direlokasi, saya mendapat penempatan baru di Tasmania.

Kebakaran hutan sebenarnya bukan hal baru bagi saya, yang pernah tinggal di Pekanbaru selama enam tahun, yakni tahun 2003 sampai 2009.

Pekanbaru sendiri tidak pernah mengalami kebakaran hutan, tetapi hutan di Riau rutin terbakar tiap tahunnya saat musim kemarau. Tak hanya ke Pekanbaru, asap kebakaran hutan di sana bahkan sampai ke negara tetangga seperti Singapura.

Selama enam tahun bermukim dan merasakan asap kebakaran hutan di sana, saya tidak pernah diminta mengungsi seperti yang saya alami di Tumbarumba.

Saya lantas berpikir, mungkin karena tidak adanya tindakan evakuasi kini saya jadi punya masalah pernapasan. Jika datang ke dokter untuk mengobati batuk tak kunjung sembuh, mereka selalu mengatakan kalau saya mengidap infeksi saluran pernapasan.

Pemerintah Indonesia sepertinya harus belajar banyak dengan pemerintah Australia mengenai cara evakuasi bencana alam seperti kebakaran hutan ini.

Warga seharusnya diminta mengungsi sebelum asap datang, sehingga mereka masih punya banyak waktu untuk mengungsi. Dari pengalaman saya di Pekanbaru, sekolah dan perkantoran baru diliburkan jika asap sudah sangat tebal.

Edukasi kepada masyarakat mengenai tanggap darurat bencana alam juga perlu dilakukan. Saya ingat, waktu itu sempat mengenakan masker penutup hidung ke sekolah tapi malah ditertawakan teman-teman. Gubernur yang memimpin saat itu juga cuma mengatakan kalau bencana alam datang dari Tuhan sehingga tidak ada yang bisa diperbuat. Sangat miris.

Karena hanya mengantongi visa WHV, saya belum mengetahui lebih lanjut mengenai kompensasi yang diberikan pemerintah Australia untuk korban kebakaran hutan.

Hari ini saya sudah berada di Tasmania. Sempat membaca berita, bahwa kebakaran telah menewaskan 480 juta hewan, termasuk sepertiga populasi Koala, ikon Australia selain Kanguru.

Walau sudah aman di Tasmania, jujur saya rindu sekali dengan kebersamaan saya dan teman-teman sesama pekerja perkebunan, seperti saat patungan untuk memasak sampai liburan bareng. Saya juga rindu dengan udara bersih di Australia sebelum terjadinya kebakaran hutan.

Saya berharap kebakaran hutan cepat berlalu dan saya bisa kembali berkumpul bersama mereka.

---

Surat dari Rantau adalah rubrik terbaru di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com / ardita@cnnindonesia.com

[Gambas:Video CNN]

(ard)