SURAT DARI RANTAU

Lima Tahun Kompromi dengan 'Pardon' sampai Demo di Paris

Dias Mita, CNN Indonesia | Sabtu, 18/01/2020 17:20 WIB
Lima Tahun Kompromi dengan 'Pardon' sampai Demo di Paris Penduduk dan turis bersantai di tepi Sungai Seine di Paris, Prancis. (AFP PHOTO / FRANCOIS GUILLOT)
Paris, CNN Indonesia -- Setelah menyelesaikan studi S1 Sastra Prancis di Universitas Padjajaran, Bandung, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Paris, Prancis. Ini tahun ke-lima saya bermukim di Kota Cahaya.

Di Paris saya diterima di Universite Sorbonne-Nouvelle Paris 3. Awalnya saya mendaftar program S1 jurusan sastra modern. Setelah lulus, saya melanjutkan program S2 jurusan pendidikan bahasa Prancis, karena saya ingin menjadi pengajar bahasa Prancis.

Berbeda dengan sebagian besar orang Indonesia, orang Prancis alias les Parisiens hampir tidak pernah mau tahu dengan kehidupan orang lain alias tidak kepo. Mau berpakaian seperti apa pun tidak bakal dikomentari.


Begitu juga dengan pilihan pasangan, baik yang heteroseksual ataupun homoseksual. Bullying menjadi hal yang sangat terlarang di sini.

Walaupun terkesan cuek, tapi orang Prancis masih bisa dimintai pertolongan, untuk bertanya soal arah jalan misalnya. Asal kita bertanya dengan sopan, mereka pasti mau membantu.

Orang Prancis juga menjunjung tinggi kesopanan. Ada lima kalimat yang wajib diutarakan saat bertemu orang di sini, yakni; bonjour/bonsoir (selamat pagi/malam- biasanya dalam konteks hai), merci (terima kasih), s'il vous plait (tolong), au revoir (selamat tinggal) dan pardon (maaf).

Pardon paling sering diucapkan oleh mereka yang mendadak bersendawa. Meski terasa alamiah atau lucu di Indonesia, namun orang Prancis paling sebal dengan sendawa yang dianggap menjijikkan.

Jika kita terbiasa mengucapkan lima kalimat tersebut, berarti menandakan bahwa kita bien élevé (dibesarkan dengan benar oleh orang tua). Pastinya kita bakal dinilai tidak sopan kalau tak mengucapkan kata-kata tersebut.

Saya merasa culture shock di negara sendiri. Ketika saya pulang ke Indonesia, pernah beberapa kali orang menabrak saya di tengah jalan tapi mereka tidak bilang 'maaf', malah 'slonong boy' saja.

Selain jalannya yang cepat, les parisiens juga betah berlama-lama di kafe untuk mengobrol. Pengelola kafenya juga paham bahwa pengunjungnya bakal duduk lama, sehingga tidak buru-buru diusir.

Lima Tahun Kompromi dengan 'Pardon' sampai Demo di ParisPalais Garnier di Paris, Prancis. (Istockphoto/eugenesergeev)

Kalau datang ke restoran cepat saji, mereka juga bakal membuang sampahnya sendiri. Rasanya hal ini berlaku di banyak negara Eropa dan Amerika juga. Berbeda dengan di Indonesia, yang petugasnya malah bingung saat saya tanya di mana letak tempat sampah. Menjaga lingkungan secara mandiri rasanya perlu diterapkan di negara kita.

Saat datang ke Prancis pun sebaiknya kita yang Muslim bisa membekali diri dengan mengetahui menu yang halal atau non-halal. Karena biasanya penjual makanan atau pelayan tidak memberikan keterangan, banyak juga dari mereka yang malas menjelaskan.

Jangan lupa juga ya mencicipi keju Prancis. Negara ini memiliki kurang lebih 365 varian keju, mulai dari keju gruyère, emmental, camembert, dan keju kambing. Tak hanya di restoran, rumah-rumah penduduk Prancis juga biasanya memiliki keju olahan lokal.

Kalau diundang makan malam a la française kita sebagai tamu harus menyiapkan diri. Jika diundang pukul 21.00, kita sebaiknya datang terlambat 15 menit atau kita bakal dianggap tidak sopan. Bawalah buah tangan untuk tuan rumah, bisa bunga atau cokelat.

Makan malam di sini bisa berlangsung tiga sampai lima jam, karena ada urutan makanan pembuka sampai penutup; apéritif, entrée, plat, dessert, fromage, dan cafe. Table manner diperlukan jika acara makan cenderung serius.

Setelah acara makan malam selesai, penduduk Prancis biasanya mengirimkan kartu ucapan terima kasih atas undangan tersebut.

Demonstrasi bikin kacau

Sejak 5 Desember 2019 kota Paris sedang dirudung demonstrasi kebijakan reformasi pensiun. Belum diketahui kapan demo akan berakhir. Aksi tersebut sangat menganggu bagi kami yang setiap hari berkegiatan di luar rumah dan menggunakan Metro alias kereta.

Jarak antar rumah dan kampus saya hanya sekitar 25 menit. Namun suatu waktu, demo sempat membuat saya harus melakukan perjalanan selama empat jam. Sialnya sesampai di kampus, gedungnya ditutup akibat demo. Sudah lima tahun saya bermukim di Paris, baru demo ini yang membuat saya kesal.

Demo membuat jadwal transportasi umum terganggu. Ada 14 rute Metro di sini. Namun akibat demo, hanya dua rute yang beroperasi.

Suasana demonstrasi di Paris pada 5 Desember 2019. (AP Photo/Thibault Camus)

Kalaupun akhirnya kereta atau bus tiba, pasti penumpangnya berdesak-desakan. Belum lagi adanya ancaman copet, karena kelompok copet sangat merajalela di sini.

Tarif taksi konvensional atau online tentu saja melonjak. Mau tidak mau kita harus berjalan kaki yang tentu saja melelahkan.

Saya yang juga punya pekerjaan sampingan sebagai pemandu wisata kadang kasihan dengan turis yang harus berjalan kaki seharian akibat demo ini.

Demo juga membuat kegiatan saya berubah. Jika biasanya seusai kuliah saya masih bisa jalan-jalan dengan teman-teman, saat ini yang ada di pikiran cuma kampus dan rumah, karena takut tak dapat kereta atau bus.

Demonstrasi 5 Desember 2019 yang berakhir rusuh di Paris, Prancis. (Thomas SAMSON / AFP)

Tips kuliah di Paris

Suasana berkehidupan di Paris tentu saja memberi perbedaan dalam diri saya. Saya jadi semakin berani mengutarakan pendapat, karena dulu bisa dibilang lebih sering malu-malu.

Saya juga merasa lebih teliti dan terorganisir, karena kebiasaan penduduk di sini yang sangat detil terhadap sesuatu.

Untuk para pembaca CNNIndonesia.com yang ingin melanjutkan studi di Prancis, sebaiknya pelajari dulu bahasa Prancis dari Indonesia - seperti di Institut Français d'Indonésie (IFI) atau Alliance Française, karena harga kursus di negara kita lebih murah.

Setidaknya mencapai tingkatan B2 dari standar bahasa Eropa (CECR). Syarat untuk masuk perguruan tinggi di Prancis untuk jenjang S1 adalah B2 dan jenjang Master mulai dari C1.

Mulai dari tahun lalu, biaya pendidikan untuk mahasiswa komunitas non-Eropa, untuk S1 selama tiga tahun adalah sebesar 2770 euro per tahun.

Sedangkan untuk S2 selama dua tahun sebesar 3770 euro per tahun.

Untuk S3 selama empat tahun ada keringanan, yaitu hanya 380 euro per tahun, tapi bisa juga lebih.

Soal beasiswa ada banyak universitas di Prancis yang menawarkannya, tinggal mencari dengan teliti di internet.

--

Surat dari Rantau adalah rubrik wisata di CNNIndonesia.com. Rubrik ini berupa "curahan hati" dari WNI yang sedang menetap di luar negeri. Bisa mengenai kisah keseharian, pengalaman wisata, sampai pandangan atas isu sosial yang sedang terjadi di negara yang ditinggali. Tulisan yang dikirim minimal 1.000 kata dan dilengkapi minimal tiga foto berkualitas baik yang berhubungan dengan cerita. Jika Anda ingin mengirimkan cerita, sila hubungi surel berikut: ike.agestu@cnnindonesia.com / vetricia.wizach@cnnindonesia.com / ardita@cnnindonesia.com

[Gambas:Video CNN]

(ard)