'Base Genep', Kunci Masakan Orisinal Nasi Campur Bali

Grab Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 29/01/2020 16:33 WIB
'Base Genep', Kunci Masakan Orisinal Nasi Campur Bali Ilustrasi nasi campur Bali (Foto: Istockphoto/MielPhotos2008)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bali, tempat yang bikin rindu untuk kembali. Bukan cuma karena pesona alam, namun juga telah menjadi simbol konsistensi budaya dan rasa kulinernya yang orisinal.

Menjelajahi kuliner Bali tak lengkap tanpa sajian nasi campur. Makanan ini konon memiliki banyak variasi bergantung tempatnya. Namun nasi campur yang ada di Bali berbeda, rahasianya adalah base genep.

Base genep merupakan bumbu dasar khas Bali yang berasal dari gabungan berbagai rempah. Siapa pun yang mencoba sajian dengan base genep, bakal ketagihan dengan cita rasa yang kaya di lidah.


Sebab dalam setiap masakan Bali, dari dulu hingga sekarang, base genep mengutamakan cita rasa rempah yang begitu kaya. Inilah alasannya kuliner khas Bali memiliki cita rasa yang unik dan konsisten.

Nasi campur yang tersohor menggunakan base genep adalah Pondok Genyol Bu Agus. Kedai ini yang memiliki banyak cabang yang tersebar di Bali.

Be genyol atau babi genyol merupakan masakan khas Bali yang biasa dihidangkan ketika Hari Raya Galungan. Makanan ini mungkin tak sepopuler nasi be guling (babi guling) di kalangan wisatawan. Namun soal rasa, be genyol tak kalah nikmat.

Pemilik Pondok Genyol I Nengah Suhendra mengatakan popularitas Pondok Genyol Bu Agus di Bali melalui proses yang panjang dan tak mudah. Namun berkat ketelatenan pemiliknya, be genyol mereka kukuh berdiri puluhan tahun.

"Pondok Genyol ada sejak tahun 1975. Saat itu bapak dan ibu saya dulu jualan keliling. Seiring dengan berjalannya waktu karena orang tua saya semakin tua, kami coba buka di rumah sendiri," ujar Suhendra yang merupakan anak dari Bu Agus, mengutip akun Youtube resmi Grab Indonesia, Kamis (23/1).

"Kalau masalah rasa, pakai bumbu dari orang tua dan mengombinasikan dengan base genep. Di cabang mana pun rasanya sama karena semua masakan dimasak di dapur yang sama," tambahnya.

Agar dapat lebih diingat orang, pengelola Pondok Genyol lainnya berinisiatif mengusung konsep yang lebih modern dan menyediakan pilihan menu yang lebih variatif disesuaikan dengan selera pembeli yang beragam.

"Punya brand sendiri, punya logo sendiri. Paling tidak orang sudah melihat logo saja orang sudah mengenali. Be genyol di tempat lain mungkin banyak, tapi proses pengolahannya belum tentu sama," ujar Wayan Eka, cucu Bu Agus.

Pemilik pondok ini percaya bahwa memiliki usaha kuliner tak cuma soal rasa, tapi mengikuti tren pemasaran sesuai zamannya, seperti pakai aplikasi online tak kalah penting agar bisa menambah profit.

"Dengan aplikasi GrabFood, di samping memudahkan orang mengakses ke kita, sisi lainnya meningkatan pendapatan juga. (fef)