Masjid Muhammad Cheng Hoo terletak di jl Tun Abdul Razak, Kabupaten Gowa atau di sebelah utara Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Arsitekturnya cukup berbeda dengan lazimnya masjid-masjid di Indonesia.
Warna catnya didominasi merah cerah. Kubah utamanya tidak berbentuk bulat. Kubah Masjid Cheng Hoo berundak-undak serupa pagoda, ciri khas bangunan peribadatan Tionghoa. Kental unsur Tionghoa, Masjid Cheng Hoo tetap terbuka untuk umum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masjid Muhammad Cheng Hoo kerap dikunjungi oleh para musafir hingga pelajar. Guru-guru sekolah tidak jarang mengajak anak binaannya berkunjung ke masjid ini, seperti dilakukan puluhan murid sekolah dasar dari Sekolah Islam Terpadu Smart School Makassar pekan ini.
"Kami berharap ada tambahan pengetahuan bagi anak-anak tentang masjid khususnya di masjid ini yang punya nilai sejarah," tutur Nurfadhillah, (24), salah seorang guru.
Masjid Cheng Hoo di Gowa, Makassar, dari penampakan depan. (CNN Indonesia/ Sari) |
Wahyuddin adalah dosen mata kuliah Sejarah dan Peradaban Islam di Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar.
"Setelah lahir ide membangun masjid itu, dicarilah lokasi yang tepat. Kebetulan Ketua PITI Gowa, Haji Suhardi punya teman menjual tanahnya dan sebagiannya dihibahkan. Itulah saat ini di atasnya berdiri Masjid Muhammad Cheng Hoo. Bukan hanya dari PITI, warga lain turut memberi sumbangsih dalam pembangunannya," kata Wahyuddin.
Sulawesi Selatan, kata Wahyuddin, punya dua masjid yang dinamakan Muhammad Cheng Hoo. Selain di Kabupaten Gowa itu, Masjid Cheng Hoo lain ada di Tanjung Bunga, Kecamatan Tamalate, Makassar.
"Kedua masjid ini dirancang dengan arsitektur yang memadukan tiga unsur yakni unsur Arab, unsur Sulsel-Indonesia dan unsur Tionghoa. Bisa dilihat dari warna catnya yang khas Tionghoa, atapnya yang bersusun dan dimodifikasi ada unsur Sulselnya ," ujarnya
Ketua bidang Ta'mir Masjid Muhammad Cheng Hoo Wahyuddin. (CNN Indonesia/ Sari) |
"Saat itu Laksamana Cheng Hoo sudah muslim. Tiap daerah yang disinggahi, ada orang yang menjadi muslim mengikuti jejaknya sehingga bisa dikatakan dia bagian dari penyebar Islam di Indonesia," kata Wahyuddin.
"Dia kini simbol muslim Tionghoa di Indonesia. Memang tidak pernah singgah di Sulawesi Selatan tapi dua masjid yang dibangun menggunakan namanya adalah untuk mengenang jasa-jasanya sebarkan Islam di Indonesia," imbuh dia.
Wahyuddin menambahkan PITI kini tengah merintis pembangunan Masjid Cheng Hoo ketiga di Kabupaten Bantaeng. "Di Kabupaten Bantaeng belum terbentuk organisasi Persatuan Islam Tionghoa Indonesia tapi Tionghoa muslimnya kompak ingin membangun masjid juga yang kelak akan dinamakan Masjid Cheng Hoo," ujar Wahyuddin. (svh/wis)
Masjid Cheng Hoo di Gowa, Makassar, dari penampakan depan. (CNN Indonesia/ Sari)
Ketua bidang Ta'mir Masjid Muhammad Cheng Hoo Wahyuddin. (CNN Indonesia/ Sari)