Analisis

Nancy Pelosi dan 'Fashion Statement' Perempuan Dunia Politik

tim, CNN Indonesia | Sabtu, 08/02/2020 10:31 WIB
Nancy Pelosi dan 'Fashion Statement' Perempuan Dunia Politik Pantsuit, bros gada, dan warna putih menjadi tiga kekuatan Nancy Pelosi di Pidato Kenegaraan Donald Trump (MANDEL NGAN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kertas pidato kenegaraan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak disobek oleh ketua DPR Nancy Pelosi. Aksi Pelosi ini pun mendadak jadi tren di dunia maya.

Pelosi yang menggunakan suit putih lengkap dengan bros gada-nya merobek semua lembaran kertas pidato yang diberikan Trump kepadanya. Ironisnya, aksi ini dilakukan saat semua orang bertepuk tangan usai Trump berpidato.

Setelah beberapa waktu lalu Pelosi mencuri perhatian dengan kekuatan brosnya, kini dia kembali mencuri perhatian dengan pantsuit putih yang membuatnya terlihat kuat. Busana ini didapatkannya dari Donna Lewis Butik di Milan dari label fashion Kiton. 


Bukan cuma Pelosi yang memakai baju putih, Ilhan Omar dari Minnesota, Pramila Jayapal dari Washington, dan Rashida Tlaib dari Michigan, serta semua perempuan memakai baju berona putih, seperti yang mereka lakukan di pidato kenegaraan presiden tahun lalu.


Bukan tanpa alasan warna putih mendadak jadi 'seragam' para perempuan saat itu. Pilihan pakaian berwarna putih ini menandai solidaritas dan peringatan ulang tahun seabad dari ratifikasi amandemen ke-19, yang mengembalikan hak kepada perempuan untuk memilih dalam Pemilu.

Namun sedikit berbeda dengan momen tersebut. Ada alasan lain mengapa perempuan AS memakai warna putih. Saat menghadiri pidato kenegaraan Presiden Donald Trump, pemakaian warna putih juga dapat ditafsirkan sebuah protes dan resistensi mereka, di tengah gelombang pria-pria kulit putih berjas gelap.

Sebagai catatan, Melania Trump juga memilih suit hitam polos dari Dolce & Gabbana yang membuatnya terlihat 'kuat' dan misterius. Ditambah, senyum tipis di bibirnya yang makin menambah sisi misterius Melania. 

Tak bermaksud merujuk pada tokoh siapapun, dalam palet warna, hitam adalah kebalikan dari putih. 

Momen Nancy Pelosi robek kertas pidato Donald TrumpFoto: Mark Wilson/Getty Images/AFP
Momen Nancy Pelosi robek kertas pidato Donald Trump


Dalam 'kasus' Pelosi ini, busana yang digunakannya menjadi sebuah statement tersendiri yang menggambarkan kekuatan wanita. Ada tiga hal dalam diri Pelosi saat itu yang membuat terlihat memancarkan kekuatan dan keberanian perempuan. 

Pertama, warna. Warna putih, menurut Color Psychology, adalah warna yang melambangkan "faith and purity", atau keyakinan dan kemurnian. Keyakinan akan konstitusi dan keyakinan bahwa Amerika Serikat bisa lebih baik dari sekarang, dan kemurnian niat mereka untuk memperjuangkan hak-hak setiap warga negara.

Pakaian, layaknya sebuah bawang, memiliki banyak lapisan makna. Secara mendasar, pakaian adalah sebuah proteksi dari lingkungan sekitar. Satu lapis di bawahnya, pakaian memiliki makna perlindungan dari rasa malu.

Lebih jauh ditilik, pakaian selalu memiliki pesan dan interpretasi. Ketika orang memilih busana, sadar atau tidak sadar mereka merefleksikan preferensi dan sering kali ekspresi melalui pilihan sartorial mereka. Melalui warna, pakaian secara mudah dan gamblang menjadi alat komunikasi paling cepat.


Sejarawan fesyen Colin McDowell menyebut, pakaian adalah alat komunikasi tanpa kata-kata.

Pakaian tidak serta merta setara dengan substansi, tentu saja; pakaian hanyalah 'kostum'. Tetapi setiap aktor akan memberi tahu Anda bahwa kostum yang tepat sangat penting untuk mendalami peran. Kostum mengingatkan para pemain bagaimana mereka seharusnya bertindak. Sama seperti Pelosi.

Dibalut busana putih dia melakukan tindakan yang menurutnya benar untuk melawan Trump yang dianggapnya penuh kebohongan.

Ketika Presiden Trump menyelesaikan pidatonya, ia mengambil waktu sejenak untuk menikmati persetujuan dan tepuk tangan dari para pendukungnya yang mayoritas adalah pria-pria kulit putih dengan jas-jas biru tua mereka.

Pandangan para kritikus tertuju padanya. Nancy Pelosi berdiri, menjulang dan kontras dengan setelan rona putihnya. Para anggota kongres dari Partai Demokrat lain terdiam atau bahkan menggeleng-gelengkan kepala. Mereka marah. Nancy Pelosi menggigit bibir bawahnya; dia dengan rapi mengatur salinan pidatonya. Dan kemudian merobeknya.

Merobek salinan pidato yang menurutnya penuh dengan kebohongan. Merobek salinan pidato Presiden AS yang mengotori konstitusi.

Pelosi yang mengenakan pantsuit rona putih, juga menyematkan sebuah bros dengan bentuk terinspirasi oleh lambang gada DPR. Bros ini menambahkan aura women power di dalam dirinya. Bros ini adalah pernyataan kekuatannya yang kedua. 

Bros Nancy PelosiFoto: SAUL LOEB / AFP
Bros Nancy Pelosi


Artefak asli bros ini yang dibuat pada tahun 1841, terletak di podium DPR dan berfungsi sebagai simbol dari sersan bersenjata serta perannya dalam menjaga kesopanan dan tata krama. Bentuk gada bersejarah itu terdiri dari seekor rajawali di atas ukiran bola dunia berwarna perak.

Poros sentralnya sebenarnya adalah 13 batang bundel yang mewakili jumlah koloni yang menjadi negara bagian yang pertama kali, bersama dengan gagasan bahwa 'bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.'

Kekuatan ketiganya adalah pantsuit. Busana ini sendiri bagi perempuan di dunia politik kerap diidentikkan dengan kekuatan. Hillary Clinton, misalnya. Dia memakai pantsuit saat debat melawan Trump, meskipun pada akhirnya dia harus kalah dari Trump. Beberapa perempuan politisi lain juga, termasuk Angela Merkel, Theresa Mei, Sarah Palin, Claire McCaskill juga menjadikan busana ini sebagai 'pernyataan' mereka. 


'Seragam' para perempuan politisi ini diklaim lebih dari sekadar substansi untuk sekadar gaya-gayaan. Ini dianggap sebagai busana yang aman dari kritik. Pantsuit dianggap pernyataan gaya yang akan menyulut sedikit kritik dari sisi fashion.

Selain itu, pantsuit juga dianggap menjadi sebuah lambang pemberontakan. Pada 1993, perempuan tak diizinkan untuk memakai pantsuit di senat. Barbara Mikulski dan Carol Moseley Braun adalah dua orang yang menentang aturan tersebut. Penggunaan celana kala itu dianggap sebagai sebuah lambang pemberontakan perempuan terhadap pemerintahan. Celana -di dalam dunia perempuan politikus AS- adalah sebuah pernyataan politik yang kuat.


[Gambas:Youtube]


(fdi/chs)