Analisis

Alexander McQueen: Satu Dekade Wafat dan Legacy Fashion Dunia

tim, CNN Indonesia | Rabu, 12/02/2020 09:02 WIB
Alexander McQueen: Satu Dekade Wafat dan Legacy Fashion Dunia Alexander McQueen menjadi salah satu legenda fashion dengan kreasi yang menantang, mempertanyakan, hingga menggebrak 'aturan-aturan' tradisional fashion.(PAUL VICENTE / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pada 11 Februari 2010, Alexander McQueen ditemukan tewas gantung diri di flatnya di London. Lebih dari 1.000 tamu menghadiri upacara pemakamannya. Koleksi terakhirnya yang belum selesai (musim dingin 2010) diselesaikan oleh Sarah Burton, kepala studio bagian womenswear sejak tahun 2000.

Selama kariernya, yang dimulai dari magang di Saville Row di London, Alexander McQueen mengubah cara pandang orang terhadap fashion, dan bagaimana sebuah pertunjukan fashion lebih dari sekedar memamerkan baju dan 'menjualnya.' Alexander McQueen dikenal dengan show-shownya yang spektakuler, aneh, dan kadang-kadang menyentuh topik-topik 'berbahaya' seperti pemerkosaan dan bunuh diri.

Warisan Alexander McQueen untuk dunia fashion, serta momen-momen fashion shownya yang mengubah pendekatan para desainer tentang fashion memang tak terhitung. Dengan total 66 show, mulai dari show koleksinya untuk kelulusan program master di Central Saint Martin, koleksinya untuk Givenchy di tahun 1996-200, hingga koleksinya ketika rumah mode miliknya diakuisisi Gucci Group (kini bernama Kering Group), Alexander McQueen menjadi salah satu legenda fashion dengan kreasi yang menantang, mempertanyakan, hingga menggebrak 'aturan-aturan' tradisional fashion.


Usai melalui masa magangnya di Anderson & Sheppard, kemudian dilanjutkan di Gieves and Hawkes, McQueen mulai mempelajari konstruksi tradisional sebuah setelan jas, bagaimana pemotongan pola dan konstruksi jas yang terlihat simpel sebennarnya memiliki kompleksitas yang tinggi (Alexander McQueen terkenal memotong kain tanpa pola, termasuk ketika ia memotong bahan-bahan mahal seperti bulu dengan penuh keyakinan dan kepastian ketika ia berada di atelier couture Givenchy, yang membuat para seamstresses ketakutan dan khawatir).


Setelah kemudian bekerja untuk maestro Romeo Gigli, Alexander McQueen kembali ke London dan memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah. Pilihan terbaik? Central Saint Martin. Di sinilah ia mengolah dan memperkaya khasanah fashionnya, dengan kebebasan berekspresi yang didukung dengan aplikasi teknik yang benar. Ketika ia membuat koleksi untuk kelulusannya yang berjudul 'Jack The Ripper Stalks its Victims', salah satu dari koleksinya adalah sebuah mantel berwarna merah dengan motif kawat berduri, yang menggambarkan sebuah kesedihan dan kungkungan sosial yang menyakitkan. Penggunaan rambut manusia yang diselipkan di beberapa tempat mengusung tema yang begitu gelap.

Di sinilah ia menunjukkan potongan-potongan yang spektakuler, termasuk dengan sebuah gaun renda-renda yang ringkih dan dipotong acak-acakan, hingga ia mencuri perhatian Isabella Blow, editor fesyen yang bekerja untuk Vogue British pada waktu itu. Dan karier Alexander McQueen pun mencuat.

Sepanjang tahun 1990an, McQueen mulai mengekplorasi lebih jauh tema-tema kegelapan dan kesedihan. Pengaruh gothic di karyanya tidak hanya terkait dengan era Viktorian, namun juga merengkuh masa lalu dan masa depan, dengan mengaitkan pin referensi dari gothic sentimental Frankenstein hingga gothic futuristik seperti Alien karya H. Giger. Seperti kebanyakan aliran neo-Viktorian, Alexander tidak mencoba untuk menjadi terlalu Viktorian, namun lebih pada menarik benang merah dan kontras antara era Viktorian yang kaku dan penuh aturan dan masa kini yang dinamis, yang dengan demikian, secara bersamaan ia mengomentari keduanya.

Tema-tema yang secara konsisten muncul adalah responnya terhaap statusnya sebagai keturunan Skotlandia, yang diabadikan melalui motif tartan 'MacQueen', yang muncul salah satunya melalui sebuah koleksi kontroversial Highland Rape di tahun 1995 yang merujuk Highland Clearances abad ke-18 dan ke-19, ketika penyewa di Highland Skotlandia diusir paksa. McQueen secara khusus terinspirasi oleh abad ke-19, yang sering menggambar Victorian Gothic. Presentasi narasi sejarah yang radikal terus berlanjut sepanjang kariernya.

Koleksi katarsis Widows of Culloden di tahun 2006 juga mempertanyakan simbol identitas seperti tartan yang menyiratkan radikalisme dan pemberontakan yang merespon romantisme tartan ala Vivienne Westwood selama era punk, sekaligus mengklaim peran subversif dan rebellious.


Eksperimennya dengan bentuk tubuh juga dapat ditelusuri ke tahun-tahun awalnya masuk ke industri fesyen Pada tahun 1995, McQueen memperkenalkan "bumpster," yakni celana  dengan potongan pinggang rendah yang memamerkan bagian bokong atas sang pemakai.

"Saya ingin memanjangkan tubuh, tidak hanya menunjukkan bokong," kata McQueen pada The Guardian Weekend pada tahun 1996.

"Bagi saya, bagian tubuh itu - bukan bokong keseluruhan, tetapi bagian bawah tulang belakang - itu yang paling erotis bagian dari tubuh siapa pun, pria atau wanita. "

Bumpster itu menjadi ciri khas merek McQueen yang muncul kembali di acara berikutnya, dan menjadi salah satu revolusi fesyen dari segi siluet dan proporsi pakaian.

Ketika tema recycle sedang trendi, Alexander McQueen memulainya pada 2009. Untuk koleksi "Horn of Plenty: Everything But the Kitchen Sink", semua model mengenakan berbagai detritus di kepala mereka dengan rok houndstooth yang serasi. Beberapa model mengenakan payung terbalik, sementara yang lain mengenakan kaleng bekas, keranjang anyaman dan bagian-bagian mobil di atas kepala mereka.

Seorang model bahkan mengenakan kantong plastik putih di atas kepalanya. Di tengah-tengah set ada tumpukan sampah, penuh dengan semprotan cat hitam. Ada wastafel dapur, ban mobil, kursi, hingga kardus-kardus bekas. Seluruh dekorasi set merupakan sisa sampah daur ulang dari show-show terdahulu.

Show Teatrikal

Alexander McQueen juga membawa level teatrikal sebuah fashion show ke tingkat tinggi. Pada 1997, para modelnya berjalan di kolam air, dengan model Debra Shaw berjalan tertatih-tatih karena kedua kaki dan lengannya disatukan oleh kerangka besi yang menurut beberapa kritikus seperti borgol zaman perbudakan. Pada tahun 1998, seorang model dikelilingi oleh cincin api. Pada 2006, holografik Kate Moss melayang-layang menghantui runway. Satu kesan abadi muncul pada tahun 1999, show "No.13" berakhir dengan dua lengan robot menyemprotkan cat ke gaun putih sederhana yang dikenakan model Shalom Harlow yang berputar dengan ekspresi kesakitan. Terharu, inilah kali satu-satunya Alexander McQueen menitikkan air mata saat melihat shownya sendiri.

Alexander McQueen menyadari bahwa fashion show adalah sebuah show, sebuah pertunjukan yang harus membuat para undangan keluar dengan sebuah emosi kuat, baik itu yang menyenangkan maupun menjijikkan.

koleksi Alexander McQueenFoto: AFP PHOTO FRANCOIS GUILLOT
koleksi Alexander McQueen

Kepedulian sosial juga menjadi tema penting bagi Alexander. Di tahun 1998, McQueen mengundang atlet Paralimpiade dan diamputasi ganda, Aimee Mullins untuk membuka pertunjukan musim panas 1999 dengan mengenakan sepasang kaki palsu buatan dari kayu. Partisipasinya menandai penampilan pertama seorang yang diamputasi di runway mode internasional.  Di tahun 2000, Alexander McQueen menampilkan salah satu pertunjukan paling visioner dalam karirnya.

Terinspirasi dari sebuah foto tabu dan kontroversial karya Joel-Peter Witkin berjudul Sanitarium, New Mexico, 1983, Alexander menamai koleksinya Voss. Ketika para tamu undangan hadir, mereka melihat sebuah kotak dengan cermin yang mrefleksikan citra mereka sendiri. Model-model yang seakan gila, lengkap dengan kepala yang dibungkus perban. Sebagai penutup show, Michelle Olley menuturkan bahwa ia adalah satu hal yang paling ditakuti para penikmat fesyen - kegemukan.

"Tubuh saya sangat bertentangan dengan burung pipit fesyen dan gagak-gagak tua kurus diantara para penonton", tulisnya dalam diarinya.

Dan berbicara tentang burung, tidak ada yang lebih memesona Alexander daripada dinamika alam liar dan urusan hidup dan mati.

Untuk koleksinya yang terakhir, Plato Atlantis, ia menulis pada shownote nya:

"[Koleksi ini meramalkan masa depan di mana] es akan mencair. . . air akan naik dan. . . kehidupan di bumi harus berevolusi untuk hidup di bawah laut sekali lagi atau binasa. Kemanusiaan [akan] kembali ke tempat dari mana asalnya."

koleksi Alexander McQueenFoto: HUGO PHILPOTT / AFP
koleksi Alexander McQueen


Show itu juga merupakan fashion show pertama yang disiarkan dengan livestream (yang kini merupakan hal yang biasa), lewat website milik fotografer dan kolaborator Nick Knight, yakni ShowStudio.

Kini, setelah satu dekade sepeninggal Alexander McQueen, karya-karyanya - kadang kotor dan kontroversial, namun sering kali mengharukan dan menginspirasi - akan selalu menjadi sebuah legacy yang abadi bagi kekayaan mode dunia dan ia akan selalu dikenang sebagai salah satu legenda fashion sepanjang masa. (fdi/chs)