Ini misalnya terlihat dari persilangan dua budaya berbeda dalam dua jenis menu sate, yakni sate klopo dan sate taichan.
Mengitari jalanan kota Surabaya rasanya akan berbeda ketika sampai pada kawasan Ondomohen. Kawasan pusat kota itu selalu menarik pandang mata pelancong untuk mencicipi kuliner legendaris nan terkenal, Sate Klopo Ibu Asih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hampir 28 tahun berjualan, tapi ibu saya sudah 40 tahun. Jadi hampir 70 tahun berjualan sate klopo," ujar Ibu Asih.
Berkat kepopulerannya, Warung Sate Ibu Asih tak pernah sepi. Setiap hari Warung Ibu Asih bisa menghabiskan 100 kg daging sapi, 40 kg ayam, 30 kg lemak, 5 kg sumsum, dan 12 kg usus.
Ciri khas yang membedakan Sate Klopo Ibu Asih dengan sate klopo yang lain adalah menu sate campur, yakni campuran sumsum, otot, dan usus. Selain itu, campuran bumbu sate yang halus berpadu sempurna dengan tekstur sate yang khas. Pun aroma kelapa yang keluar dari sate klopo mampu membangkitkan selera.
Meski bermula dari iseng, namun sang pemilik, Adel mengaku bahwa kian hari sate taichan semakin digemari banyak orang. Alhasil sekarang sate nyot-nyot sudah memiliki 3 outlet dan selalu ramai dikunjungi pengunjung.
"Dalam sehari, pendistribusian sate untuk 3 outlet bisa mencapai 7.000-8.000 tusuk. Berbeda dengan weekend yang bisa mencapai 8.000-10.000 tusuk sate," ujar perempuan berambut panjang itu.
Adel bercerita bahwa pelanggan yang datang ke outlet awalnya makan di tempat (dine-in). Namun semakin ke sini antara yang dine-in dengan yang take away sama banyaknya. Apalagi Adel terbantu dengan kehadiran aplikasi layanan GrabFood yang memudahkan pelanggan untuk memesan makanan dari mana saja.
"Grabfood sangat membantu untuk para pelanggan yang jauh dari jangkauan outlet. Untuk penjualan juga meningkat tentunya," ujarnya. (fef)