Studi: Suara Musik Ampuh Jadi Alarm Bangun Tidur 'Anti-malas'

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 05/03/2020 21:03 WIB
Studi: Suara Musik Ampuh Jadi Alarm Bangun Tidur 'Anti-malas' Ilustrasi: Bunyi musik yang penuh melodi membuat Anda lebih semangat saat bangun tidur. Nada yang naik turun membuat perhatian lebih terpusat. (Foto: Istockphoto/PeopleImages)
Jakarta, CNN Indonesia -- Banyak orang tak bisa langsung bergerak saat pertama kali bangun tidur di pagi hari. Bunyi alarm yang itu-itu saja membuat tubuh terasa malas. Namun, bunyi musik yang penuh melodi barangkali bisa membuat Anda lebih semangat.

Sekelompok peneliti dari Australia menemukan, kemalasan yang muncul di pagi disebabkan oleh jenis alarm yang digunakan. Penelitian menemukan, nada yang lebih keras akan membantu seseorang lebih waspada.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS One ini melibatkan 50 peserta studi. Setiap peserta mendapatkan kuesioner yang berisi beberapa pertanyaan.

Para peserta ditanya soal jenis suara yang mereka sukai sebagai alarm, bagaimana perasaan mereka tentang suara itu, dan seberapa waspada mereka setelah bangun tidur.

"Kami menemukan bahwa suara alarm yang melodik membuat seseorang mudah terjaga dan waspada," ujar penulis utama studi, Stuart McFarlane, dari RMIT University, melansir Healthline.

Yang disebut dengan melodik adalah setidaknya bunyi alarm menghadirkan dua nada atau lebih yang saling terkait satu sama lain. Melodi dianggap sebagai frasa musik.

Salah satu contohnya adalah lagu "Borderline" milik Madonna. Suara yang dihasilkan jelas berbeda dengan alarm yang hanya mengulang satu nada.

McFarlane menduga, naik turunnya nada dalam melodi alarm membantu seseorang memusatkan perhatiannya. Sementara alarm 'beep beep beep' yang lebih monoton dapat meningkatkan kecemasan dan menimbulkan kebingungan.

Penelitian ini mengundang respons dari sejumlah ahli. Ahli kesehatan Jennifer Doering dari Wisconsin-Milwaukee University memperingatkan bahwa penelitian memiliki beberapa kekurangan desain.

Kekurangan itu salah satunya adalah sampel peserta studi yang terlalu sedikit. Penulis juga dinilai tidak menyaring gangguan tidur yang berkontribusi di dalamnya. Tak ada pula kontrol terhadap peserta studi.

"Hal ini [kekurangan penelitian] membuat kita sulit menarik kesimpulan," kata Doering.

[Gambas:Video CNN]




(asr/asr)