5 Mitos Penyakit Jantung dan Kesalahannya

tim, CNN Indonesia | Jumat, 21/02/2020 09:00 WIB
5 Mitos Penyakit Jantung dan Kesalahannya Ada beberapa mitos dan hoax yang berkembang seputar penyakit jantung. Berikut di antaranya.(Istockphoto/stevanovicigor)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penyakit jantung termasuk silent killer yang mengancam semua orang, kapan saja, dan di mana saja. Namun ada banyak anggapan bahwa penyakit kardiovaskular ini hanya mengincar kaum lanjut usia atau lansia dengan batas usia lebih dari 65 tahun. Padahal hal itu tak sepenuhnya benar.

Penyakit ini juga bisa menyerang orang-orang yang berusia muda. Selain soal usia, masih ada mitos ataupun hoax soal jantung yang beredar di masyarakat.

1. Penyakit orang tua
Penyakit jantung terjadi karena adanya penyumbatan pembuluh darah jantung atau pembuluh arteri koroner karena penyempitan oleh plak lemak di dindingnya.


"Wajib diketahui bahwa plak ini sudah terbentuk sejak di usia dini (anak- anak atau remaja), dan di usia yang lebih tua, arteri koroner akan mengalami penyumbatan," kata Dasdo Antonius Sinaga, Konsultan Kardiologi Intervensi Rumah Sakit Awal Bros dalam pernyataannya.

"Saat ini, serangan jantung diketahui terjadi pada usia yang lebih muda. Tak jarang di umur 30-40 tahun, bahkan di usia 20-an tahun, terutama jika mengidap penyakit diabetes (penyakit gula) atau memiliki kebiasaan merokok."


2. Tak nyeri dada
Gejala utama dan paling sering dari serangan jantung adalah nyeri dada atau sesak di dada yang menembus ke punggung, kadang-kadang menjalar ke leher seperti tercekik atau nyeri rahang, atau ke lengan kiri. Namun pada kasus tertentu gejala klasik seperti itu tidak nyata.

"Banyak pasien mengeluhkan tanda-tanda seperti sakit lambung/sakit maag, seperti nyeri ulu hati, mual dan muntah, pusing, ternyata terkena serangan jantung akut. Sebaliknya juga sama, tidak semua sakit dada merupakan serangan jantung," katanya.

Diketahui tak semua nyeri dada disebabkan karena sakit jantung tapi juga karena sakit lambung atau GERD.

3. Sakit jantung keturunan
Risiko penyakit jantung memang akan meningkat dengan adanya faktor keturunan. Namun itu tak berarti Anda yang punya riwayat keluarga dengan penyakit jantung pasti bakal mewarisi sakit jantung.

Ada beberapa cara untuk mengurangi risiko penyakit jantung karena keturunan. Misalnya dengan olahraga rutin, mengontrol kolesterol, mengontrol makanan berlemak tinggi dan gula, mengontrol tekanan darah dan gula darah, tak merokok, serta menjaga berat badan ideal.


4. Minum kopi bikin sakit jantung
Dalam kenyataannya, jika kopi diminum dalam jumlah terbatas (kurang dari 4 gelas per hari) tak akan menyebabkan sakit jantung.

"Yang berdampak buruk bagi tubuh adalah gula dan susu tinggi lemak yang dikonsumsi bersamaan dengan kopi. Akibatnya bisa meningkatkan kadar gula darah. Selain itu,
karena bersifat asam, kopi bisa menyebabkan masalah pada lambung, terutama pada orang-orang yang sensitif," ucapnya.

5. Orang yang sudah kena serangan jantung tak boleh olahraga
Dasdo mengungkapkan orang yang sudah pernah mengalami serangan jantung disarankan untuk olahraga. Misalnya dengan berjalan lambat atau cepat selama 30-40 menit, 3-4 kali seminggu.

Penelitian membuktikan bahwa pasca serangan jantung, penderita yang rajin berolahraga atau gerak tubuhnya aktif, bisa memperpanjang usia hidup. Pada saat berolahraga, jantung akan berdetak lebih cepat, sehingga bisa memompa darah lebih efisien, dan pembuluh arteri juga lebih sehat. (chs)