LANCONG SEMALAM

Menyambangi Kampung Ondel-ondel di Senen

CNN Indonesia | Minggu, 01/03/2020 13:02 WIB
Bagi yang ingin mengetahui lebih dekat pembuatan Ondel-ondel atau memesannya untuk hajatan, silakan datang ke sentra perajin Ondel-ondel di Jakarta ini. Ondel-ondel. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pada dahulu kala masyarakat Betawi meyakini Ondel-ondel sebagai penolak bala atau kesialan. Beberapa cerita rakyat juga mengkaitkan Ondel-ondel dengan hal-hal mistis, seperti bisa berjalan sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, "kisah-kisah katanya" itu hilang. Kini, Ondel-ondel menjadi simbol kesenian Betawi yang hadir bisa dinikmati di pinggir jalan, pesta pernikahan, sampai lobi hotel mewah.

Jalan Kembang Pacar, Senen, Jakarta Pusat, akrab dengan sebutan Kampung Ondel-ondel. Jalanannya cukup untuk dua mobil melintas, rumah-rumahnya berdempetan, tapi cukup untuk menampung puluhan Ondel-ondel kreasi warga yang sebagian besar ditempatkan di depan rumah warga.


Jalan ini telah menjadi saksi bisu eksistensi Ondel-ondel dari masa ke masa.

Tidak terlalu sulit mencari letak Jalan Kembang Pacar. Cukup buka aplikasi peta digital di telepon genggam plus bertanya kanan kiri sesampainya di sana.

Bagi yang ingin naik kereta bisa transit di Stasiun Tanah Abang, setelah itu menyambung naik kereta ke Stasiun Sentiong, yang merupakan akses terdekat menuju lokasi Kampung Ondel-ondel di kawasan Kramat Pulo tersebut.

Dari stasiun, silakan naik ojek sampai Kampung Ondel-ondel.

Dari Barongan sampai Ondel-ondel

Sejarah Kampung Ondel-ondel berawal tahun 1984 saat Sanggar Betawi Mamit Cs. memprakarsai pertunjukan dan pembuatan Ondel-ondel di Kramat Pulo.

Kala itu, ondel-ondel masih dikenal dengan nama Barongan.

Pada perkembangannya, boneka yang bisa dimasuki satu orang dewasa ini pun lebih dikenal dengan sebutan Ondel-ondel.

Menyambangi Kampung Ondel-ondel di SenenPersiapan membuat Ondel-ondel mini. (CNNIndonesia/Ludi Noviandra)

Renggo, salah satu perajin dari Sanggar Respal Betawi, mengatakan kalau kerajinan Ondel-ondel menjadi warisan turun temurun di kampungnya.

"Kayak lagu Benyamin S 'Yok kita nonton Ondel-ondel', lagu itu uda dari tahun 80-an, uda mendarah daging di budaya kita.

"Kita selalu bilang kalo orang China punya Barongsai, orang Betawi punya Ondel-ondel. Kita kayak ngga bisa idup tanpa Ondel-ondel," kata Renggo, salah satu perajin dari Sanggar Respal Betawi.

Keluarga pembuat Ondel-ondel

Saya lalu melangkahkan kaki ke salah satu rumah yang halamannya dijadikan tempat pembuatan Ondel-ondel.

Di sekitarnya anak-anak kecil sedang asyik bermain dan berlarian. Sesekali ibu-ibu yang sedang duduk-duduk di warung memperingatkan mereka untuk hati-hati dengan kendaraan bermotor yang lewat.

Rumah yang saya kunjungi bukan satu-satunya sanggar pembuat Ondel-ondel di sini. Totalnya ada empat sanggar di Kramat Pulo.

Ada dua jenis Ondel-ondel yang mereka buat, yang berukuran besar dan kecil. Satu pasang Ondel-ondel berupa sosok laki-laki dan perempuan.

Wajah Ondel-ondel laki-laki dicat merah, berkumis, dan tampak maskulin. Sedangkan wajah yang perempuan dicat putih, bergincu merah, dan tampak tersenyum.


Abdurahman, salah satu perajin, mengatakan sudah membuat Ondel-ondel sejak tahun 2015.

Pembuatan Ondel-ondelnya melibatkan satu keluarganya. Anak yang masih SMA punya tugas mencetak bentuk, mengecat, dan mengantarkan dagangan.

Sementara istrinya bertugas menggambar detail di tubuh Ondel-ondel.

"Untuk harga juga ramah di kantong, hanya 150ribu untuk satu pasang," kata Abdurahman.

Hasil karyanya berupa Ondel-ondel mini dipasarkan ke Kampung Betawi, Setu Babakan, Jakarta Selatan.

Menyambangi Kampung Ondel-ondel di SenenDeretan Ondel-ondel di Kramat Pulo. (CNNIndonesia/Ludi Noviandra)

Larangan mengamen

Beberapa waktu yang lalu ramai perbincangan mengenai pro kontra Ondel-ondel yang digunakan untuk mengamen di pinggir jalan.

Ketua Komisi E DPRD DKI Jakarta Iman Satria mengusulkan agar Pemprov DKI Jakarta merevisi Perda Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi.

Ia meminta agar pemerintah melarang ondel-ondel digunakan untuk kegiatan mengamen demi menjaga kehormatan Ondel-ondel sebagai sebuah bentuk kebudayaan.

Saat dikunjungi pada pertengahan Februari 2020, perajin yang saya temui sebagian besar menyayangkan rencana aturan tersebut.

Pasalnya mereka merasa kalau Ondel-ondel saat ini hidup dari mengamen, selain sebagai penjualan sebagai pajangan.

Muhammad Yusuf, selain menjadi perajin di Sanggar Respal Betawi juga menyewakan Ondel-ondel kreasinya.

Baginya ada banyak pengamen yang betul-betul mengarak Ondel-ondel untuk hiburan jalanan, bukan mengemis -- meski ia menyayangkan ada pengamen yang tak memainkan musik Betawi saat mengarak Ondel-ondel.

Tentu saja larangan tersebut bakal berpengaruh terhadap perekonomian para perajin dan penyewa Ondel-ondel.

"Kita disini memperkenalkan karya leluhur kami. Ondel-ondel ini bukan sebagai alat untuk mengemis, tapi justru kami mempromosikan budaya leluhur kami. Arak-arakan Ondel-ondel juga menjadi alat untuk mengurangi angka pengangguran," ujar Yusuf.

Harapan Yusuf dan perajin di Kampung Ondel-ondel sepertinya sama, mereka ingin ada area khusus untuk atraksi Ondel-ondel di Jakarta.


Dan harapan tersebut sepertinya bakal segera terkabul, karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bakal menyiapkan tempat dan memfasilitasi para pemilik sanggar kesenian dan kebudayaan Betawi, termasuk para perajin ondel-ondel.

Langkah ini dilakukan mencegah agar ondel-ondel tak lagi dipakai mengamen di pinggir jalan.

"Ya kita kan punya ruang-ruang, ada taman, ada tempat terbuka, kita usahakan menampilkan mereka di sana," kata Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Imam Hadi Purnomo saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (17/2).

Lebih lanjut, Ia mengatakan langkah itu diambil setelah dilakukan rapat koordinasi antara Disbud DKI, Satpol PP DKI Jakarta, Kesbangpol, FORKABI, FBR, LKM, Bang Japar, Rumah Pelita, Sanggar Utan Panjang, Sanggar Rifky Albani, Sanggar Betawi Mamit Cs. Pertemuan itu membahas penertiban ondel-ondel yang dimanfaatkan sebagai sarana mengamen atau mengemis.

Selain akan menyiapkan tempat dan memfasilitasi para pemilik sanggar kesenian dan kebudayaan, termasuk perajin ondel-ondel, ada empat poin kesepakatan lain dari hasil rapat tersebut.

Di antaranya menempatkan ondel-ondel pada kegiatan yang bersifat seremonial, festival, Lebaran Betawi, dan acara-acara lain dalam upaya pelestarian kebudayaan Betawi.

[Gambas:Video CNN]

(lud/ard)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK