Suara Berdaya Kaum Hawa, dari Pembalut Hingga Isu Tara Basro

CNN Indonesia | Senin, 09/03/2020 05:06 WIB
Di Hari Perempuan Internasional, kaum hawa berani bersuara soal otoritas dirinya lewat cara unik; misalnya mengirim pesan via spanduk pembalut. Peserta IWD mengirim pesan agar laki-laki lebih menghargai perempuan lewat spanduk pembalut. (CNN Indonesia/ Elise Dwi Ratnasari)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perempuan dinilai makin berani bersuara soal otoritas dirinya. Tak cuma lewat orasi dan buku. Rangkaian spanduk unik dan unggahan di media sosial pun jadi sarana menentang patriarki.

Aksi Hari Perempuan Internasional di sepanjang jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Minggu (8/3), memberi buktinya.

Zeni Tri Lestari dari Never Okay Project bergantian dengan Aryo Duta membawa poster bertuliskan 'Cuci Kaki Gosok Gigi Lawan Patriarki'.


"Patriarki kan saat masyarakat menempatkan laki-laki di atas perempuan. Pemimpin harus laki-laki, misalnya," kata Zeni saat ditemui di sela aksi itu.

Tulisan di poster ini pula sebagai pengingat bahwa kaum perempuan juga jadi agen pelanggengan patriarki. Dia pun ingin agar semua bergerak melawan patriarki, bukan melawan kaum laki-laki.

Pembalut, di Antara Suara Berdaya Kaum Hawa dan PatriarkiSalah satu spanduk di perinatan Hari Perempuan Internasional yang menyindir ragam pembatasan terhadap cara berpakaian dan berekspresi perempuan. (CNN Indonesia/ Andry Novelino)
Tak kalah mencuri perhatian adalah poster yang dibawa Yayu NH dari Swara Saudari Purwakarta. Ia sengaja menempelkan pembalut pada kertas merah berukuran besar. Bubuhan pewarna merah diletakkan di bagian tengahnya dan mengesankan itu sebagai pembalut bekas.

'Yes, I'm Bleed. So, What?', tulisnya.

Menstruasi jadi hal yang normal buat perempuan. Namun Yayu menemukan sebagian besar laki-laki melihat pengalaman ini sebagai sesuatu yang menjijikkan, terlebih saat ada teman perempuan yang darahnya tak sengaja tembus hingga terlihat di pakaian.

Yayu menduga menstruasi masih merupakan sesuatu yang tabu atau terlarang dibicarakan. Darah dikaitkan sebagai sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Bahkan ada pula yang memilih menyebut menstruasi sebagai 'halangan' atau 'tamu bulanan'.

"Kalau ada teman yang tembus, ya tegur saja tidak usah melihat itu seperti jijik gitu," ujar Yayu.
Pembalut, di Antara Suara Berdaya Kaum Hawa dan PatriarkiPeserta IWD membela aktris Tara Basro yang berkampanye soal kesadaran diri perempuan lewat tubuhnya di media sosial. (CNN Indonesia/ Andry Novelino)

Ketelanjangan
 

Bicara perempuan artinya juga bicara relasi domestik termasuk dalam pacaran. Tanpa disadari, perempuan terus mendapat kekerasan dari sang pacar. Hal inilah yang ingin dikritik pemilik akun Instagram @barenberry dengan poster bertuliskan 'Bukti Sayang Gak Harus Telanjang'.

Perempuan yang juga tergabung dalam samasetara.id ini melihat sebagian laki-laki meminta sang pacar mengirim foto. Berawal dari foto selfie biasa kemudian mengarah pada foto-foto area intim.

Di satu sisi, ada paksaan dari laki-laki. Di sisi lain, perempuan merasa tidak berdaya; ada ketakutan jika tidak melakukan hal yang diminta, sang pacar akan meninggalkannya.

[Gambas:Video CNN]
"Pesannya buat perempuan, kalian itu perempuan dan kalian berharga," imbuhnya.

Tak hanya Zeni, Yayu, dan @barenberry, masih banyak yang mengusung kritik, tuntutan atau pengingat akan isu-isu yang selama ini dianggap sepele.

Ada pula kritik terhadap 'catcalling' atau panggilan bernada tak sopan atau melecehkan; pembelaan terhadap Tara Basro yang telanjang demi meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri wanita.

Selain itu, ada kritik berupa tulisan 'Just Because My IG Post Wear Lingerie, Doesn't Mean I Asked For Your Fingering Fuckers', yang berisi penegasan bahwa tubuh perempuan adalah otoritas perempuan dalam bermedia sosial yang aman dan nyaman.

Mutiara Ika, koordinator aksi, melihat ada perubahan dari aksi yang dari tahun ke tahun terus dilakukan. Perempuan makin percaya diri untuk bersuara dan bergerak menunjukkan kekuatannya.

Menurutnya, satu perempuan berani bersuara akan disusul oleh suara-suara perempuan lain yang merasa senasib, termasuk dalam hal kekerasan seksual. Hal ini, kata dia, sangat tampak di media sosial.

"Perempuan makin berani melawan segala bentuk kekerasan yang terjadi dalam dirinya sampai ke hal-hal yang kecil dipersoalkan. Dibanding 10 tahun yang lalu, isu kekerasan seksual belum jadi sesuatu yang masif," imbuhnya.

Pembalut, di Antara Suara Berdaya Kaum Hawa dan PatriarkiKampanye menentang hegemoni laki-laki dalam dunia pacaran. (CNN Indonesia/ Elise Dwi Ratnasari)
(els/arh)