Kala Pandemi Corona 'Ganggu' Industri Mode Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 17/03/2020 07:17 WIB
Kala Pandemi Corona 'Ganggu' Industri Mode Indonesia Ilustrasi. Pandemi virus corona turut berdampak pada industri mode di Indonesia. (Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi infeksi virus corona atau COVID-19 berdampak pada industri mode di Indonesia. Sejumlah produksi terhambat, stok berkurang, dan peragaan busana ditunda maupun dibatalkan.

Produksi hijab Buttonscarves, misalnya, terpaksa tak berproduksi hingga tiga pekan. Founder sekaligus Creative Director Buttonscarves, Linda Aggrea mengungkapkan, scarf yang sebenarnya diproduksi di Indonesia terhambat lantaran banyak bahan baku yang berasal dari China, lokasi virus corona pertama kali muncul. Isolasi atau lockdown kota-kota di China membuat bahan baku hijab tak bisa didapatkan.

"Bagaimana dengan outbreak corona apakah berefek? Jawabannya adalah banget, banget. Karena untuk membuat scarf, bahan bakunya bukan hanya selembar kain. Ada tinta dan banyak printilan lain yang enggak bisa masuk ke Indonesia. Ini sempat membuat kami panik," kata Linda dalam konferensi pers peluncuran koleksi dan toko tematik terbaru di Senayan City, Jakarta, Jumat (13/3).


Linda mengatakan, produksi yang terganggu membuat stok hijab kosong di 21 toko yang tersebar di seluruh Indonesia. Buttonscarves merupakan label yang fokus pada scarf dan aksesori. Label yang didirikan sejak 2016 ini berhasil unjuk gigi setelah penjualan setiap koleksinya selalu terjual habis dan dinantikan para pembeli.

"Bayangkan, toko [Buttonscarves] besar, tapi enggak punya barang. Kami enggak bisa memenuhi stok karena material tidak terpenuhi," tutur Linda.

Linda bahkan mengaku sempat khawatir seri terbaru Buttonscarves yang bertajuk "Louvre" tak bisa diluncurkan tepat waktu. Louvre merupakan koleksi scarf terbaru yang terinspirasi dari Museum Louvre, Paris, Prancis. Koleksi ini terdiri dari sembilan macam rentang warna mulai dari putih, merah, abu-abu, hingga hitam.

Koleksi hijab ini menampilkan motif corak yang terinspirasi dari bangunan museum yang berbentuk segitiga. Tiang-tiang Museum Louvre terlihat dengan jelas dalam setiap hijab seri ini.

"Ini terinspirasi saat saya mengunjungi Museum Louvre, bangunan yang unik sekali. Jadi, kami buat dalam bentuk koleksi dan juga toko tematik," ujar Linda.

Pengalaman tak mendapatkan bahan baku dari China juga dialami desainer Itang Yunasz. Itang mengungkapkan, sejumlah kain untuk beberapa lini busana miliknya tak bisa diproduksi.

"Untuk produksi garmen yang besar seperti Kamilaa tersendat di-printing kain, karena tinta dari China enggak bisa diprediksi lagi kapan datangnya. Akhirnya, ada tiga kain enggak bisa tercetak," ungkap Itang.

Desainer senior ini mengaku terpaksa tidak mencetak kain tersebut karena tinta dari penyedia lain tak sesuai dengan harapan.

Meski sejumlah kain tidak dapat dicetak, Itang menyebut stok produksi label miliknya tetap aman untuk Hari Raya Idul Fitri pada Mei mendatang. Itang mengaku sudah menyiapkan koleksi dan produksi untuk lebaran sejak tahun lalu sehingga tidak terganggu virus corona.

"Untuk lebaran kami sudah mulai buat koleksi sejak tahun lalu dan sudah mulai dijual," ucap Itang.

Desainer Itang Yunasz (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Di sisi lain, virus corona juga membuat Itang batal menggelar sejumlah peragaan busananya seperti show Katonvie X Itang Yunasz dan Indonesia Fashion Week.

Untuk kolaborasi dengan Katonvie, peragaan yang rencananya digelar 18 Maret mendatang dialihkan menjadi peluncuran daring. Koleksi kolaborasi ini merupakan koleksi hijab atau scarf duplex.

"Itu launching produk scarf. Apa mau dikata, memang kita harus mencari jalan supaya tetap aman, bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk semua masyarakat," ucap Itang.

Selain itu, virus corona juga menunda peragaan busana desainer asal Surabaya Xiao Fen di Los Angeles Fashion Week (LAFW) 2020. Pekan mode di Los Angeles, California, Amerika Serikat itu ditunda hingga suasana kondusif.

Rencana awalnya, Xiao Fen akan memamerkan koleksi couture bertajuk "Phenomenon" pada Minggu, 29 Maret waktu setempat.

"Saya baru mendapat kabar LAFW ditunda demi keamanan," kata Xiao Fen kepada CNNIndonesia.com.

Xiao Fen menjelaskan, persiapan menuju LA sudah dilakukan sejak Desember, sebelum wabah virus corona muncul. Dia langsung membuat koleksi begitu mendapatkan undangan untuk tampil di LAFW. Ini merupakan kali ketiga Xiao Fen tampil di luar negeri setelah di Hong Kong dan Paris.

Xiao Fen membuat 16 koleksi gaun bertema Phenomenon alias fenomena. Dia mengaku terinspirasi dari fenomena yang terjadi di alam seperti aurora, matahari terbit dan terbenam, serta lava api.

Paduan warna dari fenomena alam itu bakal terlihat di koleksi kali ini yang banyak menggunakan kain satin dan katun.

[Gambas:Video CNN]

(ptj/asr)