Corona, Kelas Daring, dan Curhat 2 Guru untuk Orang Tua

Tim, CNN Indonesia | Jumat, 03/04/2020 14:03 WIB
Sebagai solusi aktivitas belajar mengajar di tengah pandemi Covid-19, konsep pembelajaran daring bukan perkara mudah. Ilustrasi. Sebagai solusi di tengah pandemi Covid-19, pembelajaran daring bukan perkara mudah bagi beberapa tenaga pendidik. (robarmstrong2/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi infeksi virus corona atau Covid-19 memaksa semua orang untuk melakukan adaptasi, tak terkecuali para guru. Sekolah boleh saja tutup, tapi aktivitas belajar mengajar harus berlanjut.

Pembelajaran secara daring (online) selama ini digembar-gemborkan jadi solusi. Hanya saja, pembelajaran secara daring tak semudah yang dibayangkan.

Titi (bukan nama sebenarnya), tenaga pendidik di salah satu sekolah dasar di Batam, harus menyiasatinya lagi. Google Class, Zoom, Skype, serta aplikasi-aplikasi lain tak bisa diandalkannya.


"Saya mengajar kelas 2 SD. Ada meeting [pertemuan] pakai Zoom. Tapi, enggak semua anak bisa akses karena ada yang orang tuanya masih kerja, ada juga orang tua yang gagap teknologi, tidak fasih menggunakan aplikasi," kata Titi pada CNNIndonesia.com, Jumat (27/3).

Alhasil, jika ada hal-hal yang ingin ditanyakan, orang tua murid berbondong-bondong menghubungi Titi melalui WhatsApp.

Titi tak menyerah. Dia mencari alternatif lain medium pembelajaran secara daring. Google Docs dicobanya. Dengan memberikan satu tautan yang berisi materi pelajaran sekaligus tugas serta batas waktu pengerjaan dinilai lebih bisa mengakomodir kebutuhan orang tua dan anak.

"Ini membantu untuk penilaian harian. Jadi, nilai bisa langsung masuk berkas form di Google. Kalau ada proyek, dibuat video cara pembuatannya," katanya.

Ilustrasi. Konsep pembelajaran daring digembar-gemborkan sebagai solusi di tengah penekanan penyebaran Covid-19.  (White77/Pixabay)

Lain halnya dengan Ritza, guru kelas 3 SD di sebuah sekolah di Bogor. Di sekolah tempat Ritza bekerja, guru diwajibkan memberikan materi pelajaran dan tugas melalui alamat surat elektronik milik orang tua.

Namun, cara ini dinilai Ritza tak berjalan dengan efektif. Betapa tidak, fakta di lapangan memperlihatkan masih banyaknya orang tua yang bingung cara mengirimkan lampiran hasil tugas, mengunduh materi, dan mempelajari instruksi tugas.

"Kami mengirim dokumen materi berupa Power Point, dilampirkan juga worksheet-nya. Anak bisa mengerjakan di laptop, dicetak, lalu tulis tangan. Lalu difoto, diunggah lagi. Hanya satu dua orang yang gaptek. Jadi ditulis, foto, terus kirim lewat WhatsApp," kata Ritza dihubungi terpisah.

Cara ini membuat Ritza harus menyisir kotak surat elektroniknya satu per satu. Karena menggunakan akun milik orang tua otomatis dia harus lebih teliti dengan membuka semua email.

Belum lagi proses pengecekan tugas yang harus membuat Ritza mengunduh semua dokumen. Tak selesai sampai di situ, ponselnya juga terus berdering karena dicecar aneka pertanyaan dari orang tua siswa.

Apa mau dikata, sekolah pun terpaksa melanggar imbauan 'work from home' demi memberikan pelatihan aplikasi Seesaw. Rencananya, aplikasi ini akan diterapkan untuk media pembelajaran berikutnya.


Tetap memilih tatap muka


Tak bisa dimungkiri, di balik frustasi karena harus menyesuaikan dengan pandemi Covid-19, ada hal-hal positif yang dirasakan oleh keduanya.

Konsep pembelajaran daring membuat Titi lebih fleksibel, baik soal waktu dan sumber pembelajaran. Konsep pembelajaran daring juga tak menuntutnya untuk mengatur kelas. Tugas guru hanya membagikan materi dan tugas.

Hal yang serupa juga dirasakan Ritza yang kini memiliki lebih banyak waktu untuk keluarga.

Akan tetapi, di balik poin-poin positif di atas, keduanya kompak tetap memilih konsep pembelajaran langsung di kelas. Konsep belajar tatap muka dinilai jauh lebih efektif.

Pembelajaran di kelas membuat guru maupun murid bisa berinteraksi sekaligus mendapatkan umpan balik. Kalau ada hal yang tak dimengerti, murid bisa langsung bertanya dan sang guru langsung menjawab.

"Kalau kelas online, ada yang enggak ngerti, ada yang terganggu konsentrasinya karena adiknya jadi buyar, sinyal enggak bagus, materi tidak sampai," ucap Titi.

Ilustrasi. Meski dinilai lebih fleksibel, konsep pembelajaran daring dinilai jauh dari efektif jika dibandingkan pembelajaran tatap muka di dalam kelas. (morgueFile/cohdra)

Ritza pun sepakat dengan Titi. Dia menambahkan, anak-anak sekolah dasar cenderung mendengarkan daripada membaca. Saat di kelas, murid terbiasa mendengarkan dan menjalankan instruksi dari apa yang dikatakan guru, bukan yang tertulis di papan tulis.

Sementara itu, instruksi pembelajaran daring banyak berupa tulisan. Hal tersebut sangat mungkin membuat anak menjadi bingung.

Di luar itu, konsep home learning seperti ini juga dinilai membuat pengajar harus menurunkan standar pembelajaran.

"Ekspektasinya enggak bisa tinggi. Kami harus menurunkan standar tugas, nilai," kata Ritza.

Pesan untuk orang tua


Pembelajaran daring mau tak mau banyak melibatkan orang tua. Ritza sadar, konsep home learning memungkinkan distraksi bermunculan yang bisa mengganggu fokus anak.

Dengan demikian, orang tua perlu menyadari kondisi tersebut. Orang tua, katanya, harus bersikap tegas pada anak dengan memberikan jadwal-jadwal tertentu.

Ritza juga berharap agar orang tua membiarkan si buah hati untuk belajar memahami pelajaran dan mengerjakan tugasnya sendiri. Bukan berarti orang tua tidak boleh membantu. Boleh saja, asal dalam batas wajar, seperti tidak mengerjakan tugas sekolah anak sepenuhnya.

"Banyak murid saya yang cukup kesulitan memahami pelajaran. Eh begitu di rumah, jawaban tugasnya benar semua. Ini jelas bukan dia yang jawab. Jadi, orang tua jangan memberikan jawaban secara langsung," katanya.

Selain itu, Titi juga berharap agar orang tua mau mempelajari proses dan gaya pembelajaran anak.

"Buka pikiran dan harus mau di-upgrade untuk gaya belajar anak pada zaman sekarang. Apalagi ada tuntutan mereka harus belajar di rumah," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]

(els/asr)