Dugem Online, Cara Baru Disko Sembari Social Distancing

CNN Indonesia | Kamis, 02/04/2020 14:23 WIB
Saat ini ada banyak acara dugem online yang digelar banyak kelab malam, dari Singapura sampai New York. DJ Nash saat tampil dalam acara clubbing online. (AFP/CATHERINE LAI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lampu strobo menyala di lantai dansa yang terlihat kosong, ketika seorang DJ mendendangkan musik elektronik dari kelab malam Singapura melalui layanan live-streaming untuk dinikmati para clubbers yang sedang terkurung di rumah akibat pandemi virus corona COVID-19..

Virus corona yang tengah melanda dunia telah memaksa tempat hiburan malam dari London ke New York tutup, tetapi para DJ yang inovatif mulai menggelar pesta secara online untuk menghibur penggemarnya.

Setelah Singapura memerintahkan penutupan banyak tempat hiburan pekan lalu akibat peningkatan jumlah infeksi corona, kelab malam populer Zouk mengadakan pesta bertema cloud-clubbing, di mana acara disko yang dipandu enam DJ disiarkan melalui aplikasi.


Acara disko ini dihelat pada Jumat (27/3) malam, ketika biasanya kelab malam dipadati ratusan pengunjung sebelum pandemi corona - tetapi dalam momen itu hanya segelintir orang yang diizinkan hadir, kebanyakan dari mereka adalah staf.

DJ Nash D mengakui pada awalnya dia merasa aneh untuk melakukan clubbing online ini.

"Ketika Anda bermain dalam ruangan yang penuh dengan orang, Anda dapat merasakan energinya kembali," kata DJ, nama asli Dhanish Nair, kepada AFP.

Tapi dia dengan cepat terbiasa, dan mengatakan komentar langsung dari para clubbers yang bergulir di layar laptonya sangat membantu.

Begitu juga dengan komentar yang masuk melalui aplikasi live-streaming Bigo Live, clubbers bisa mengirimkan hadiah virtual kepada DJ seperti lonceng dan kepingan salju yang nantinya dapat ditukar dengan uang tunai.

Kelab malam bermitra dengan perusahaan peralatan game Razer dan aplikasi streaming, mendatangkan 200 ribu total penonton untuk acara yang digelar selama tiga jam. Saat puncak, 5.600 orang menonton melalui aplikasi.

'Menari bersama, secara terpisah'

Di China, di mana virus pertama kali muncul pada tahun lalu, DJ dan tempat hiburan malam memulai pertunjukan live-streaming pada awal Februari ketika wabah berada di puncaknya.

Tempat-tempat di Shanghai dan Beijing memelopori clubbing online melalui Douyin, aplikasi yang mirip TikTok, yang juga memungkinkan penonton untuk memberi hadiah untuk para DJ.

Kelab malam Beijing One Third mendatangkan lebih dari 1 juta penonton dan menghasilkan hampir 2 juta yuan (sekitar Rp4,6 miliar) dari imbalan para penontonnya selama siaran langsung lima jam, menurut situs berita iFeng.

Kelab malam tutup dan DJ yang terjebak di rumah juga menjadi alasan penyelenggaraan disko virtual di New York, pusat penyebaran wabah di Amerika Serikat yang semakin memburuk.

Kelompok pertunjukan The Dance Cartel mulai mengadakan pesta bertajuk Social Disdance dengan tema 'malam dansa bersama, secara terpisah' tiga kali seminggu.

Peserta menari satu sama lain melalui aplikasi panggilan video Zoom, dengan beberapa mengenakan kostum dan yang lainnya menyiapkan lampu disko berwarna-warni.

Pesta-pesta itu bisa dinikmati secara gratis, tetapi penonton didorong untuk memberikan sumbangan kepada para DJ dan pembawa acara.

Dengan jumlah kematian global akibat virus sekarang di atas 42 ribu dan tidak ada tanda-tanda pandemi melambat, clubbing online hanya tampaknya bakal menjadi lebih populer.

Keputusan Singapura untuk menutup kelab malam datang ketika pihak berwenang perlahan-lahan memperketat pembatasan perjalanan menyusul lonjakan kasus infeksi virus corona, dengan negara sejauh ini telah melaporkan lebih dari 900 infeksi dan tiga kematian.

Meskipun ada tantangan, beberapa penampil perlahan-lahan mendukung gagasan clubbing online.

"Secara online, saya merasa bahwa semua orang merasa nyaman," kata DJ Singapura LeNERD, nama asli Patrick Lewis, yang tampil pada hari Jumat.

"Mereka menjadi diri sendiri dan lebih jujur."

[Gambas:Youtube]

(AFP/ard)