Melindungi Trenggiling dari Tuduhan Corona dan Ancaman Punah

CNN Indonesia | Selasa, 07/04/2020 14:45 WIB
Trenggiling sangat laku di pasar gelap, terutama di China. Dagingnya kerap disantap meski khasiat pengobatannya masih tanda tanya. Trenggiling, hewan yang masuk dalam daftar hampir punah. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Trenggiling menjadi salah satu satwa yang masuk dalam daftar hampir punah di dunia. Mereka tak memiliki pertahanan dari predator, karena hanya bisa bersembunyi dalam kamuflase sisiknya yang berwarna cokelat.

Trenggiling menjadi hewan yang paling sering diperdagangkan di pasar gelap. Mereka menjadi korban perburuan massal untuk diambil daging dan sisiknya, terutama untuk dikirim ke China.

Menurut studi yang diterbitkan pada tahun 2017 oleh jurnal Conservation Letters, sekitar 400 ribu sampai 2,7 juta trenggiling diburu setiap tahun di hutan-hutan Afrika.


"Nama baik" trenggiling juga sedang dipertaruhkan dalam pandemi virus corona yang berlangsung saat ini.

Bersama kelelawar, daging trenggiling menjadi santapan khas China, meski belum ada studi ilmiah yang mengatakan kalau daging hewan-hewan tersebut berkhasiat sebagai obat.

Setelah menguji lebih dari 1.000 sampel hewan liar, para ilmuwan di Universitas Pertanian China Selatan menemukan 99 persen urutan genom virus yang ditemukan pada trenggiling identik dengan yang ada pada pasien positif corona.

Setelah virus corona menjadi pandemi, jumlah penjualan daging trenggiling merosot tajam. Namun itu bukan berarti mereka tak lagi diburu.

Tidak ada data

Taman Nasional Dzanga-Sangha, di barat daya Afrika Tengah, menjadi tempat perlindungan terakhir bagi binatang liar di negara miskin yang dilanda perang saudara ini.

Hutan lebatnya menawarkan hunian bagi satwa yang terancam punah.

Di surga ini, kelompok peneliti, salah satunya yang dipimpin Maja Gudehus, mempelajari trenggiling di habitat alami mereka demi melindungi populasinya.

Gudehus ingin menyumbang penelitian untuk dunia tentang umur, wilayah, makanan, kebiasaan hidup dan siklus reproduksi trenggiling.

"Hampir tidak ada data tentang trenggiling berekor panjang dan spesies di Afrika lainnya," kata ilmuwan asal Swiss itu.

Trenggiling sangat mudah ditangkap. Ketika ia merasakan bahaya, ia melengkung menjadi bola, yang manusia bisa langsung ambil.

Tetapi setelah ditangkap, tidak ada yang mengetahui lebih lanjut mengenai nasib trenggeling.

"Anda tidak dapat menyimpan trenggiling yang telah ditangkap lebih dari beberapa hari. Saat melengkung, mereka tidak makan dan bisa saja mati karena stres, gastritis, dan masalah lain yang belum kita ketahui," kata Gudehus.

Satu-satunya solusi adalah memantau trenggiling dengan bantuan warga Suku Baka yang mendiami kawasan tersebut.

Dari tiga trenggiling yang baru-baru ini diobservasi, satu telah menghilang dan yang lainnya adalah korban dari parasit yang sampai sekarang belum diketahui.

"Biasanya orang bisa tahu kapan binatang tidak sehat. Tapi trenggiling bisa mati dalam setengah jam tanpa memberimu waktu untuk memperhatikan," kata Gudehus.

Gudehus menggunakan apa pun yang dia bisa untuk memberikan perawatan yang diperlukan.

Laboratoriumnya juga rumahnya, sebuah gubuk kecil yang dikelilingi oleh pepohonan, tempat literatur ilmiah dan kotak-kotak perbekalan medis berada di antara mikroskop dan tempat tidur.

Sulit untuk diamati

"Kami dulu melihat banyak trenggiling," kata Didon, salah satu warga Baka.

"Sekarang mereka sudah sangat langka."

Empat spesies trenggiling Afrika masuk dalam daftar yang dilindungi, namun pemburu tetap mengincar mereka.

Usaha konservasi juga kian sulit karena banyak negara yang masih dalam konflik sengit.

"Tidak seperti gajah, trenggiling sangat sulit dilacak, dan jarang bisa menangkap pemburu liar dalam aksi itu," kata Luis Arranz, perwakilan taman nasional World Wide Fund for Nature (WWF).

"Kita harus mengandalkan jejak dan informan."

Seorang pemburu yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan kalau trenggiling bernilai besar.

"Sepotong trenggiling bisa dijual seharga US$50 (sekitar Rp800 ribu). Jika ada lapangan pekerjaan di sini, tentu orang tidak akan berburu."

(AFP/ard)

[Gambas:Video CNN]