Kreasi Masker Ramah Difabel Tangkal Virus Corona

Tim, CNN Indonesia | Selasa, 07/04/2020 13:53 WIB
Masker penutup hidung dan mulut, tanpa disadari menyulitkan kelompok difabel pendengaran. Karena itu masker inklusif pun dibuat. Ilustrasi: Masker penutup hidung dan mulut, tanpa disadari menyulitkan kelompok difabel pendengaran. Karena itu masker inklusif pun dibuat. (Foto: ANTARA FOTO/MOHAMMAD AYUDHA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewajibkan setiap orang untuk mengenakan masker demi mencegah penularan virus corona jenis baru (SARS-CoV-2). Sebelumnya WHO sempat menganjurkan pemakaian masker hanya untuk mereka yang sakit dan tenaga medis.

Tapi, masker kini jadi barang wajib setiap keluar rumah.

Akan tetapi, Ashley Lawrence, mahasiswa semester akhir di Eastern Kentucky University, menyadari masker yang beredar tak cukup memenuhi kebutuhan orang yang tuli dan kesulitan pendengaran (deaf and hard of hearing/DHH). Lawrence yang mengambil jurusan pendidikan untuk DHH tahu bahwa kelompok ini sangat bergantung pada gerak bibir untuk berkomunikasi.


Akhirnya dia pun membuat masker khusus untuk mereka yang tuli dan kesulitan pendengaran.


"Sekarang kita semua panik dan banyak orang enggak kepikiran. Jadi, saya rasa sangat penting bahwa, bahkan di waktu seperti ini, orang perlu berkomunikasi," ujar Lawrence mengutip dari Good House Keeping.

Lawrence memanfaatkan sprei dan sisa plastik. Bentuk masker ini seperti masker pada umumnya, hanya saja ia menyematkan plastik sehingga bibir penggunanya masih tampak. Ini sangat membantu orang yang bergantung pada gerak bibir saat berkomunikasi.

Dia berkata, Bahasa Isyarat Amerika sangat bergantung pada mimik wajah dan ini bagian dari tata bahasanya. Menggunakan masker memang melindungi pemakainya dari polutan tetapi di sisi lain juga bisa mengacaukan pesan yang ingin disampaikan.

Tak hanya untuk mereka yang tuli dan sulit mendengar, Lawrence pun mencoba membuat masker inklusif lainnya.

Kreasi Masker bagi Difabel demi Cegah Penularan CoronaFoto: CNNIndonesia/Basith Subastian


"Kami sedang mencoba berbagai hal untuk orang-orang dengan implan koklea dan alat bantu dengar jika mereka tidak bisa membungkus telinga. Kami membuat beberapa yang ada di sekitar kepala dan di leher," jelas dia.

Inisiatifnya pun mendapat sambutan hangat. Banyak yang merasa terbantu dengan masker inklusif buatannya.

Sejak dibagikan di laman Facebook miliknya, Lawrence menerima banyak pesanan dari enam negara bagian hanya dalam kurun waktu 2 hari. Dia pun tak pelit berbagi pola dan cara pembuatan jika ada yang ingin membuatnya sendiri. (els/NMA)

[Gambas:Video CNN]