Survei: Virus Corona Ganggu Cara Bersosialisasi di Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 16/04/2020 18:49 WIB
Back view of business woman talking to her colleagues about business plan in video conference. Multiethnic business team using laptop for a online meeting in video call. Group of businessmen and businesswomen smart working from home. Ilustrasi. Sebuah survei menemukan, bagi banyak orang Indonesia, interaksi di dunia maya selama pandemi tak bisa serta merta menggantikan kehidupan sosial di dunia nyata. (iStockphoto/Ridofranz)
Jakarta, CNN Indonesia -- Virus corona membawa perubahan bagi kehidupan banyak orang, termasuk di antaranya cara bersosialisasi.

Sebuah survei yang digagas oleh RB Consulting menemukan, virus corona mengganggu kehidupan sosial orang Indonesia. Interaksi di dunia maya tak bisa serta merta menggantikan kehidupan sosial di dunia nyata seperti kongko bersama teman.

Survei dilakukan secara daring dengan melibatkan Snapcart pada 17-28 Maret 2020. Sebanyak 2 ribu responden pria dan wanita berusia 15-50 tahun yang tinggal di delapan kota besar Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Palembang, Makasar, dan Manado turut serta dalam jajak pendapat ini.


Hasilnya, hampir separuh atau 48 persen responden mengatakan kehidupan sosial mereka terganggu akibat virus corona. Bersosialisasi melalui medium internet dinilai tidak cukup.

Physical distancing mengharuskan orang menjaga jarak sehingga interaksi berupa sentuhan fisik tidak memungkinkan dilakukan. Anjuran untuk #DiRumahAja juga membuat orang tidak bepergian atau sekadar bertemu teman untuk duduk minum bersama.

Selain temuan ini, yang tak kalah menarik adalah sebanyak 44 persen responden khawatir dengan karier dan pekerjaan mereka. Survei menunjukkan, kaum pria lebih khawatir dibanding wanita.

Tak hanya itu, bekerja dari rumah juga dinilai kurang efektif bagi beberapa orang. Pernyataan resmi RB Consulting yang diterima CNNIndonesia.com menyebutkan, sebanyak 68 persen responden pria merasa bahwa bekerja dari rumah kurang efektif.

Di sisi lain, virus corona membawa berkah buat para pegiat toko daring. Sebanyak 24 persen responden merasa terganggu karena mereka tidak bisa jalan-jalan keluar sekaligus berbelanja. Hal ini mengubah kebiasaan belanja banyak orang.

"Banyak perusahaan dan pemerintah akan memahami dampak dari WFH. Belanja online akan tetap terus jalan dan menjadi kebiasaan baru," ungkap CEO RB Consulting, Iwan Murt. (els/asr)

[Gambas:Video CNN]