Masa Karantina Mengubah Dorongan Seksual

Tim, CNN Indonesia | Rabu, 06/05/2020 21:47 WIB
Ilustrasi disfungsi seksual wanita. Ilustrasi. Masa karantina mandiri mengubah dorongan seksual seseorang. (Istockphoto/ Nd3000)
Jakarta, CNN Indonesia -- Karantina mandiri demi menekan penyebaran penularan infeksi virus corona (Covid-19) tanpa sadar membawa perubahan terhadap dorongan seksual.

Sebagian orang merasa dorongan seksual menurus meski hampir 24 jam berada bersama pasangan. Sementara sebagian lainnya justru menjadikan aktivitas seksual sebagai 'obat' stres dan rasa bosan saat karantina.

Pakar seks Annabelle Knight mengatakan, stres bisa jadi 'tersangka' atas menurunnya dorongan seksual yang dirasakan banyak orang. Stres mendorong produksi hormon kortisol yang dapat menekan hormon seks.


"Berhubungan intim saat Anda merasa cemas rasanya seperti menyuruh pikiran untuk multitasking. Itu sulit untuk dilakukan," kata Knight, melansir Metro UK. Pada kondisi ini, seseorang dihadapkan dengan dua hal menarik di sistem saraf yang sama, yaitu rasa cemas dan aktivitas seksual. Tak heran jika tarik menarik ini justru membuat Anda kesulitan untuk mendapatkan mood yang enak.

Tak hanya menyoal stres, penurunan dorongan seksual juga dipicu oleh keintiman yang mulai luntur. Hal ini menjadi sesuatu yang wajar terjadi saat masa karantina.

Psikolog Monika Dedus mengatakan, untuk sebagian pasangan, dua pekan awal masa karantina mandiri terasa seperti liburan berdua. Layaknya bulan madu, gejolak libido bisa meningkat.

Namun, perlahan aktivitas seks kemudian terasa tak lagi menarik dan membosankan. Hal itu pula yang mungkin berkontribusi terhadap penurunan keintiman.

Jadi Obat Stres

Masa karantina mandiri memberikan dua pengaruh terhadap dorongan seksual. Di luar membuat dorongan seksual menurun, masa karantina mandiri justru membuat aktivitas seksual terasa seperti 'obat' dari stres yang dirasa.

Di saat seperti ini, banyak orang menggunakan aktivitas seksual sebagai saranan rekreasi. Selama masa pandemi, banyak orang mencari cara untuk meredakan stres atau ketegangan.

"Banyak orang memanfaatkan seks sebagai pembasmi stres," kata Knight. Aktivitas seksual, sebutnya, dapat menghilangkan rasa cemas. Aktivitas seksual, terutama saat orgasme, dapat melepas endorfin sebagai pelepas stres. (els/asr)

[Gambas:Video CNN]