Masjid Ampel, Tanah Pinjaman Raja Demi Akhlak Arek Suroboyo

CNN Indonesia | Kamis, 30/04/2020 17:15 WIB
Umat muslim membaca Alquran di kawasan Makam Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (15/6). Pada malam ke-21 Bulan Ramadan 1438 Hijriyah, kawasan Masjid dan Makam Sunan Ampel tersebut dikunjungi ribuan umat muslim untuk beribadah dan berharap mendapatkan malam Lailatulkadar yang diyakini sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. ANTARA FOTO/Moch Asim/foc/17. Kawasan Makam Sunan Ampel, Surabaya, Jawa Timur, sebelum ditutup akibat pandemi virus corona tahun ini. (ANTARA FOTO/Moch Asim)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sunan Ampel adalah salah satu Wali Songo yang berjasa menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa. Nama aslinya adalah Raden Mohammad Ali Rahmatullah.

Sunan Ampel diperkirakan lahir tahun 1401 di Champa, Kamboja. Sejarah mencatat, Sunan Ampel adalah keturunan dari Ibrahim Asmarakandi, salah satu Raja Champa yang yang kemudian menetap di Tuban, Jawa Timur.

Saat berusia 20 tahun, Raden Rachmat memutuskan untuk pindah ke Tanah Jawa, tepatnya di Surabaya yang ketika itu merupakan daerah kekuasaan Majapahit di bawah Raja Brawijaya yang dipercaya sudah beragama Islam ketika berusia lanjut itu.


Di usianya 20 tahun, Sunan Ampel sudah dikenal pandai dalam ilmu agama, bahkan dipercaya Raja Brawijaya untuk berdakwah dan menyebarkan agama Islam di Surabaya.

Tugas khususnya adalah untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit.

Dikutip dari Dunia Masjid, Raden Rachmat dipinjami oleh Raja Brawijaya berupa tanah seluas 12 hektare di daerah Ampel Denta atau Surabaya untuk syiar agama Islam.

Karena tempatnya itulah, Raden Rachmat kemudian akrab dipanggil Sunan Ampel.

Masjid Sunan Ampel adalah masjid yang paling terkenal di Surabaya, setelah Masjid Akbar Surabaya.

Dibuka pada tahun 1421, Masjid Sunan Ampel merupakan masjid tertua di Jawa Timur yang didirikan oleh oleh "bapaknya" para Wali Songo, yakni Sunan Ampel, beserta dua karibnya, Mbah Sholeh dan Mbah Sonhaji.

Masjid Sunan Ampel memiliki luas sekitar 1.320 meter (m) persegi dengan panjang sekitar 120 m dan lebar 11 m.

Arsitektur kuno masjid ini masih dipertahankan hingga sekarang, seperti 16 tiang penyangga masjid yang sangat kokoh terbuat dari kayu jati berbentuk bundar, dengan diameter sekitar 60 cm, tinggi mencapai 17 m.

Dari kisah yang dipercaya masyarakat lokal, saat penjajah menyerang Surabaya dengan senjata berat dan menghancurkan kota Surabaya, namun bangunan Masjid Sunan Ampel yang terbuat dari kayu jati tidak mengalami kerusakan sedikitpun.

Begitu juga dengan lima gapura kuno di sekitar masjid dengan keindahan ornamen khasnya.

Dikutip dari Pesona Indonesia, gapura tersebut melambangkan lima rukun Islam dengan nama masing-masing, yakni Paneksen melambangkan syahadat, Madep melambangkan salat, Ngamal melambangkan zakat, Poso melambangkan puasa Ramadan, dan Munggah melambangkan ibadah haji.

Umat Islam berdoa di Masjid Sunan Ampel ketika berziarah di kompleks Makam Sunan Ampel di Surabaya, Jawa Timur, Minggu (26/5/2019) dini hari. Pada malam ke-21 bulan Ramadan, kawasan Masjid dan Makam Sunan Ampel tersebut ramai dikunjungi umat muslim untuk beribadah dan berharap mendapatkan berkah malam Lailatul Qadar. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/aww.Suasana ibadah Ramadhan malam ke-21 di Masjid Sunan Ampel pada tahun lalu. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Selain untuk menikmati keindahan bangunan masjid, tujuan utama sebagian orang datang ke Masjid Sunan Ampel adalah untuk melakukan ziarah.

Di kompleks Masjid Sunan Ampel, terdapat pusara Sunan Ampel, pusara Dewi Condrowati (istri Sunan Ampel), dan para santrinya.

Sebelum kita memasuki area pusara Sunan Ampel, kita akan menemukan juga Pusara Mbah Bolong atau Sonhaji.

Menurut cerita yang berkembang, Mbah Bolong memiliki keistimewaan.

Konon, saat menentukan arah kiblat Masjid Ampel, Mbah Bolong tiba-tiba mendapatkan petunjuk dari Allah, dan dari lubang yang dibuatnya beliau bisa melihat Kabah.

Sunan Ampel juga mendirikan Pondok Pesantren Ampel di sini.

Sejak tahun 1972 Kawasan Masjid Agung Sunan Ampel telah ditetapkan menjadi tempat wisata religi oleh Pemerintah Kota Surabaya

Selain masjid, makam, dan pesantren, pengunjung juga bisa melihat keberadaan Kampung Arab di sini.

Kampung ini dihuni masyarakat keturunan pedagang Yaman dan China. Suasana kehidupan para pedagang di ini nyaris seperti suasana di Mekah.

Saat memasuki bulan Ramadhan, jumlah pengunjung Masjid Agung Sunan Ampel meningkat dua kali lipat, rata-rata mencapai 2.000 orang.

Pengunjung akan semakin banyak pada saat 'maleman' (malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 Ramadhan) dengan jumlah di atas 10 ribu orang, bahkan dapat mencapai 20 ribu orang.

Namun saat ini kawasan Masjid Sunan Ampel ditutup untuk umum demi mencegah penyebaran virus corona.

[Gambas:Video CNN]

(ard/ard)